We’ve Learn how to Survive

Soon, when all is well, you’re going to look back on this period of your life and be so glad that you never gave up. – Haruki Murakami

People come and go. I mean, nothing’s gonna last forever is so damn true.

Siapa pun yang kamu cintai, akan ada saatnya pergi. Atau seberapa pun kamu mencintai seseorang, akan ada gilirannya kamu harus meninggalkan. Itu mungkin yang membuat Tuhan, tak suka bila kita terlalu berlebihan dalam memuja sesuatu atau seseorang. Terlalu besar kesempatan diri menjadi berpikir, bahwa segala hal bisa berjalan sesuai dengan yang kita rencanakan. Kita merasa lebih besar, dari Sang Maha Pemberi keputusan.

Saya punya teman atau bahkan mereka yang tidak saya kenal tapi bersedia menceritakan berbagai kisah rahasia yang mereka miliki—yang membuat saya akhirnya kerap berpikir kalau ada begitu banyak hal yang sedang kita khawatirkan—sedihkan—dan coba untuk kita lupakan; adalah hal yang sebenarnya telah kita tanam sejak ribuan jam sebelumnya. Namun kita tidak menyadarinya. Karena kita sedang terlena ‘kebaik-baik-sajaan’, kita sedang penuh dengan ‘harapan’. Kita lupa, harapan, hanyalah harapan selama itu belum terwujud. Tidak ada yang bisa memastikan 100 persen bahwa segala yang kita rencanakan dengan begitu hati-hati dan penuh percaya diri benar akan terjadi. Kita akhirnya melewati tahap; bersiap-siap.

Mempersiapkan hati bila harus patah. Mempersiapkan doa bila ternyata keteguhan upaya belum juga ada hasilnya. Mempersiapkan air mata bila yang kali ini harus kembali lagi kecewa.

Terkadang saya berpikir, apa yang membuat manusia begitu percaya diri saat kebahagiaan memeluk?

Saya pun kerap demikian. Hingga akhirnya Tuhan mengganjal kaki saya agar saya tak lupa, bahwa sebaik-baiknya mata kaki, mereka tidak bisa menunjukkan arah. Saya mulai lengah karena kenikmatan yang sedang saya punya. Itu adalah saat-saat mata saya dibutakan oleh begitu banyak hal baik yang sedang terjadi. Saya pun dijatuhkan-Nya lagi.

Karena bagaimana pun, hidup ini adalah roda yang terus berputar.

Lucunya. Seberapa pahit pun hati sakit—hingga rasanya tak ingin hidup lagi, saya tetap hidup dan masih baik-baik saja hingga hari ini. Karena kemarin, pada akhirnya akan berlalu juga. Pada akhirnya kita semua akan belajar untuk menyesuaikan diri dengan hal buruk yang sedang memeluk.

Saya ingat, saat saya masih tinggal di Samigaluh Jogja. Daerah yang bisa saya capai dalam 1,5 jam perjalanan dengan kendaraan bermotor dari kota Jogja. Jalannya menanjak dan tak punya penerangan. Rumah-rumah pun masih jarang ada. Jauh-jauh jaraknya. Saya tidak pernah menyangka bahwa saya si anak perempuan bungsu ini bisa pulang malam dari kota Jogja untuk bisa sampai ke rumah menemani bapak saya. Tapi karena keharusan, saya terpaksa mencobanya.

Hari pertama saya pulang kerja dan harus pulang naik motor, saya tidak berhenti berdoa di dalam hati sambil memutar musik keras-keras di telinga saya. Saya bahkan tidak berani melihat kaca spion LOL. Saya hanya berpikir, kalau saja motor saya sampai mati di tengah jalan, yang akan saya hadapi adalah jalanan yang gelap gulita. Bagian kanan saya tebing, dan bagian kiri saya jurang.

Seminggu berjalan, saya mulai terbiasa. Saya bisa membawa motor lebih santai, dan tidak lagi takut gelap. Sebulan berjalan, saya bisa bilang saya adalah perempuan tangguh hahaha… karena setiap hari saya berani menempuh 90 km perjalanan untuk pulang pergi kantor rumah dengan hanya dibayar 700ribu rupiah per bulan (jangan dibanding gaji saya saat bekerja di Jakarta, ini bahkan nilainya nggak lebih besar dari gaji asisten rumah tangga LoL).

Tapi saya bahagia. Karena saya tidak lagi kesepian. Karena akhirnya saya lepas dari depresi setelah Mama meninggal. Karena saya bisa beli buku kesukaan saya dan sesekali main ke bioskop dengan gaji seorang karyawan magang di Jogja. Setelahnya, dengan gaji UMR saat jadi karyawan tetap pun, saya mampu hidup dengan layak setiap bulannya, bisa bayar kosan, listrik dan menabung. Saya tidak pernah merasa kekurangan. Cukup saja segalanya berjalan. Padahal ya gaji tidak besar, dibanding teman se-angkatan saya di Jakarta yang sudah bisa berlibur ke luar negeri setiap tahun. Tapi saya tidak pernah sempat merasa iri dengan mereka. Karena hati saya penuh terisi dengan rasa syukur.

3 tahun berjalan. Gaji saya sudah berkali-kali lipat. Kerjaan saya makin banyak. Saya bahkan berhasil menerbitkan buku yang sudah tertunda selama bertahun-tahun. Tapi pengeluaran saya pun seketika menjadi lebih besar. Padahal saya masih tinggal di kos yang sama. Tetapi uang saya kerap saya pakai untuk hal-hal yang saya inginkan—bukan butuhkan. Yah.. namanya juga idup yah.

Manusia itu, sebenarnya di mana pun Tuhan leparkan untuk hidup. Di situ mereka akan bertahan hidup. Sebaik yang mereka bisa—bila mereka teguh dan jujur. Namun saat nikmat ditambah sedikit saja, keborosan dan kesia-siaan adalah hal yang akan datang pertama kali. Itu baru dalam contoh financial. Bagaimana bila urusannya sudah soal hati?

Tidak jarang saat Tuhan sedang memenuhi hati kita dengan cinta, kita tidak lagi bisa melihat Tuhan sedekat dulu lagi. Karena apa yang kerap kita doakan sedang terjadi. Tidak lagi butuh untuk berdoa terlalu banyak. Karena apa yang kita ingin sudah kita bisa kita peluk erat. Rasa saling memiliki antara kita dan dia yang kita cintai menjadi hal yang paling penting untuk dipikirkan sepanjang waktu. Seolah, tidak akan ada yang bisa memisahkan rasa cinta yang bahkan bisa membuat hati kita ingin meledak ini. Kita begitu mempercayai pasangan kita, hingga lupa bahwa dia pun masih manusia. Dan manusia adalah makhluk yang paling tidak bisa dipercaya.

Jadi siapa pun yang sedang kamu cintai saat ini. Cintailah mereka dengan bijaksana. Dan siapa pun yang sedang mengingkarimu saat ini. Bencilah mereka dengan sederhana.

Because in the end of the day. Everything just will be alright. We just need a reason to give up. Jadi jangan pernah biarkan diri memilih keputusan itu. Karena saat semuanya sudah berhasil kamu lalui dengan baik–kamu akan menjadi kamu yang lebih super dari kamu yang kemarin. We are stronger than we thought 🙂

31 March 2017

Untuk Suamiku

Selamat mengingat hari pertamamu menangis di dunia suamiku sayang. Mari terus saling memeluk setiap pagi, bersujud bersama 5 waktu dalam sehari, hingga kelak waktu yang berhenti untuk kita. Sekali lagi, selamat menjadi 26. I love you somay! :)))

Istrimu,

Farah Fatimah

Lega

Seorang teman pernah bilang ..begitu menikah, rasanya lengkap saja. Bahkan tidak lagi peduli setiap kali usia harus bertambah saat hari ulang tahun tiba.”

Kalau boleh menoleh sebentar ke belakang dan melihat setiap tetes air mata yang pernah jatuh, rasanya tak sedikit pun saya ingin menukar setiap kesedihan itu—ketika sekarang di setiap pagi saya bisa merasakan hangatnya peluk suami saya.

Dan saya pun merasakan kelegaan itu. Lega karena saya tidak lagi seorang diri. Lega karena saya punya rumah untuk pulang. Lega karena saya sudah menjadi milik seseorang—yang begitu bahagia bisa memiliki saya. Saya tidak tahu apa kamu bisa mengerti apa yang saya rasakan. Tapi saya masih selalu ingat rasanya, saat mama saya meninggal, dan semua kakak saya (yang sudah berkeluarga) pulang kembali ke kehidupannya—hanya saya dan bapak lah yang akhirnya harus tertinggal di rumah kami bersama begitu banyak kenangan. Kami adalah 2 orang yang sama-sama kehilangan ‘rumah’—di rumah kami sendiri. Mungkin itu adalah kehampaan terpahit yang pernah saya telan selama saya hidup.

Kalau boleh jujur. Saya tidak pernah berkeinginan untuk menikah sebelumnya. Maksudnya, saya memang selalu berdoa, agar dipertemukan dengan pria yang setia dan soleh. Tapi di usia saya yang sudah menginjak 25 tahun, saya belum punya keinginan untuk menikah saat itu. Karena keluarga saya sendiri bukan tipikal keluarga yang meributkan harus menikah di usia berapa dan harus menikah dengan siapa. Setiap anak di keluarga kami, diberi kebebasan oleh orangtua kami untuk memilih pasangannya. Bapak biasanya hanya selalu berpesan dan bertanya, apa kami benar menyayanginya, apa dia benar menyayangi kami. Lalu mengingatkan kalau perceraian bukanlah hal yang bisa dipilih di kemudian hari. Karena keluarga kami tidak menyukainya. Jadi apa pun yang terjadi di kemudian hari, bertanggung jawablah penuh dengan pilihan kami sendiri.

Saya akhirnya baru memiliki keinginan untuk menikah, ketika bapak saya berangkat umroh. Saat pertama kali kami berkomunikasi via telepon beliau bilang, “..bapak sudah doain biar adek bisa segera dipertemukan dengan pria yang baik.” Di hari itu saya tahu, bahwa pernikahan saya, sudah menjadi cita-cita bapak saya sekarang. Karenanya, saat dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan, salah satu doa khusus yang saya pinta pada Allah adalah agar bisa segera dipertemukan dengan jodoh saya.

Dan datanglah Fadli, pria yang pernah saya kenal ribuan hari yang lalu, kembali menyapa saya di hari ulang tahun saya. Fadli yang datang hari itu sudah jauh berbeda dengan yang 3 tahun lalu saya kenal. Saya seperti kedatangan kakak baru di dalam kehidupan saya. Karena kebetulan Fadli adalah anak pertama di keluarganya, sedang saya adalah anak terakhir. Walau pun sebenarnya, usia saya lebih tua dibanding Fadli, tapi secara kepribadian, Fadli jauh lebih dewasa dan bertanggung-jawab. Fadli bukanlah pria yang jatuh hati pada saya karena apa yang saya tulis. Dia bahkan tidak pernah sama sekali membaca blog atau buku saya. Dia bahkan tidak aktif bermain social media. Pria yang datang, karena ingin mengenal sesungguhnya saya.

Dia juga jauh dari pria yang saya pernah kenal selama ini. Hidupnya penuh dengan perjuangan yang tidak sederhana. Dan dia begitu mencintai ibunya. Kami tumbuh besar dengan ‘cerita sulit’ kami sendiri. Dan itu yang membentuk kami jadi manusia yang begitu keras kepala. Yakin deh, saya dan dia sering sekali berantem. Bahkan untuk hal-hal kecil. Tapi kami menikmati semuanya. Karenanya hanya ada semakin menyayangi, ketika perselisihan mereda.

Di pertemuan kami yang ketiga, Fadli datang ke rumah dan berkenalan dengan Bapak. Lalu sepulang dari rumah saya, dia mengajak saya untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Saya selalu ingat, pertanyaan yang dia ajukan “..adek mau ikut mas, kalo kita menikah? Tapi hidup di kebun itu jauh dari kehidupan perkotaan dan berat.” Lalu saya pun tanpa berpikir panjang menjawab “..mau, buat apa adek jadi istri kalau tidak bisa menemani suaminya.” Karena bagi saya itu bukanlah pilihan. Pergi mengikuti suami adalah keinginan saya. Saya tidak pernah menjadikan itu pilihan yang harus punya jawaban ‘iya’ atau ‘tidak’. And that’s it. Sejak awal hubungan Fadli memang tidak meminta saya untuk bersedia jadi pacarnya, dia meminta saya untuk bersedia menjadi istrinya. Walau pun kami belum tahu kapan kami akan menikah. Tapi kami sama tahu, kami akan menuju ke sana.

And here we are. After the ups and down. Saya sudah resmi menjadi istri dari Fadli Dermawan.

Alhamdulillah, semua terjadi seperti impian saya selama ini. Saya selalu berdoa dipertemukan dengan yang beriman, setia, sederhana dan bertanggung-jawab. And he’s beyond that. Saya selalu berdoa tidak mau punya hubungan yang panjang namun tidak jelas tujuannya. Dan kami hanya perlu 1 tahun untuk mewujudkan pernikahan kami. Sejauh ini saya sangat menikmati peran baru saya menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga yang tetap bekerja dari rumah. Sekarang saya memang menetap jauh dari kota, saya bahkan tidak tahu kapan saya bisa kembali menikmati layar bioskop. Karena butuh 6 jam perjalanan dari kabupaten tempat saya tinggal untuk sampai ke kota yang punya layar bioskop. Kami perlu menginap di kota untuk bisa merasakan main ke mall. But that’s okay. I’m not crying at all. Saya sudah menangis tapi justru karena ngambek sama suami. Bukan karena keadaan yang harus saya hadapi saat ini. Bagi saya, di mana pun kami harus tinggal itu bukan masalah. ‘Masalah’ adalah justru ketika kami tidak bisa tinggal bersama.

Ketika mayoritas orang yang saya temui di sini bertanya; “gimana bu, kaget nggak tinggal di kebun?” Saya bahkan tidak merasa kaget sama sekali sebenarnya. Karena suami saya sudah menceritakan semua hal sulit yang harus saya hadapi nantinya. Dia tidak pernah menutupi apa pun, dan itu membuat saya sudah sangat siap menghadapi apa pun. I know it won’t be easy. But I’m ready for this. I love my job now. Being a wife. Walau harus melepaskan perkerjaan saya di Jogja dan hidup merantau dengan suami saya ke Sumatra. Itu bukanlah pilihan sulit.

FYI, saya terbiasa hidup sibuk sejak saya SMA. Sejak kuliah pun saya sudah bekerja. Saya biasa berangkat pagi pulang malam dan berkegiatan di luar rumah. Dan saya sangat mandiri sejak kecil. Saya sudah tinggal jauh dari orangtua sejak SMA walau pun saya anak terakhir di keluarga saya dan anak perempuan satu-satunya. Saya memang manja, tapi tidak dalam hal survive. Banyak orang di sekeliling saya worries karena saya harus ikut suami saya pergi jauh dari kota besar dan tidak lagi bekerja di kantor. But it wasn’t my first time. Di tahun 2011 saya pun pernah pergi meninggalkan pekerjaan saya untuk merawat mama yang sakit dan harus tinggal di Samigaluh (daerah terpencil di Jogja). 1 tahun saya habiskan di sana untuk merawat mama, dan 1 tahun saya habiskan untuk depresi setelah mama meninggal. And I’m still alive now. Percaya atau tidak, ini adalah kondisi terbahagia saya sejak usia saya 10 tahun dulu. Di usia 10 tahun, saya terakhir kali meniup lilin ulang tahun yang menancap di kue ulang tahun pemberian mama. Setelahnya, hidup saya penuh dengan air mata dan perjuangan, yang sampai hari ini selalu saya syukuri. Karena tanpa mereka, saya tidak akan pernah menjadi saya yang hari ini. Saya yang membuat suami saya jatuh hati 🙂

***

Jadi apa pun yang sedang terjadi di dalam hidupmu detik ini. Seberapa pun kamu jatuh dan terluka. Bertahanlah untuk senantiasa menjadi perempuan yang baik dan terhormat. Hingga kelak saat kamu harus kembali terjatuh, Tuhan telah persiapkan pria terbaik untuk menangkapmu—sebelum kamu perlu terhantam lagi. Atau pun bila kelak harus terhantam—kamu sudah tidak lagi harus menghadapi hantaman itu sendirian.

Hai Fadli Dermawan, suamiku. Terima kasih sudah bersedia menemaniku, hingga kelak aku tidak perlu sendirian lagi menghadapi segalanya. Terima kasih sudah bersedia menyayangi keluargaku, sebaik kamu menyayangi keluargamu. Terima kasih sudah menjadi imam di setiap sholat dan membimbingku mengaji setiap kali senja menghampiri kita. Aku tahu, ini hanya awal dari berjuta kebahagiaan dan kesedihan yang akan datang. Tapi aku tahu kita siap menghadapi segalanya, selama kita bersama. Terus jadi telapak tangan yang aku cium ya. Dan aku akan terus jadi kening yang kamu kecup. Setidaknya 5 waktu dalam sehari. Hingga selamanya.

“People need a place they can go back to. There’s still time to make it, I think. For me, and for you.” – Haruki Murakami

Falafu. March 2017.

 

 

 

 

 

 

Mengalah Padamu Itu Indah

Mengalah tanpa harus merasa sedang ‘kalah’

– falafu

Sebelum tidur kami selalu berdoa bersama, lalu setelahnya saling mengucap terima kasih. Dia sering mengucap ‘Terima kasih ya adek sayang, untuk berantemnya hari ini. Untuk perhatiannya. Untuk kesabarannya yang tidak pernah berhenti.’ Dan saya pun sering mengucap padanya ‘Terima kasih ya Mas, untuk sayangnya sepanjang hari ini, untuk marahnya karena adek bandel, dan untuk selalu ada disitu—menemani adek yang sendirian di sini’.

 

Ya, saya harus mengakui kalau ritual kami di setiap malam tersebut sangatlah berpengaruh dalam hubungan kami. Tidak jarang ketika kami berantem sebelum tidur, salah satu di antara kami akan sengaja melewatkan kebiasaan ini—hanya untuk membuat kesal yang lain.

24 Oktober 2016 adalah tepat 1st anniversary kami, dan saya sempat bertanya pada dia di sambungan telepon ‘Mas, kita dalam setahun ini udah berapa kali berantem ya kira-kira?’ lalu dia jawab ‘Ya itu 365 hari aja dibagi 2’ hahaha.. iya, kami memang sering sekali berantem. Selain karena kami LDR, kami juga punya sifat yang keras. Dia keras hati, dan saya keras kepala. Hanya saja, karena begitu seringnya kami saling menjalin komunikasi, kami menjadi sangat merasa begitu kehilangan setiap kali kami sama-sama bertahan dalam ‘diam’ kami saat berselisih. Namun seperti yang pernah saya tulis di instagram, bahwa kami tidak pernah membiarkan marah kami bertahan lebih dari satu hari. Well, saya pernah sih bertahan diam sampai nyaris 2 kali 24 jam, namun itu hanya terjadi 1 kali di selama 1 tahun kami bersama. Itu juga karena saya marah sekali padanya. Dan saya tahu, dia pun bisa memahaminya. Karena saya tidak pernah seperti itu sebelumnya.

Lalu saya tersadar, bahwa hubungan itu selalu berjalan bagaimana kita terbiasa membiarkan hubungan itu berjalan. Saya dan dia, tidak pernah membiasakan untuk lama-lama dalam diam—maka kami pun selalu menganggap hal luar biasa pasti sedang terjadi di dalam hati kami, bila salah satu di antara kami sampai memilih untuk diam. Saya sering sekali ngeyelan, dan dia sering sekali galak. Karena memang itu sudah jadi tabiat buruk kami yang paling utama. Kedua hal ini jadi yang paling mudah memicu pertengkaran di antara kami, dan beberapa bulan belakangan ini lah, kami baru mulai pandai saling mengalah tanpa harus merasa sedang ‘kalah’. Itu butuh proses. Itu pun butuh kejujuran yang tiada henti. Kami berdua, tidak terbiasa berpura sedang ‘baik-baik saja’, bila salah satu di antara kami merasa terganggu, kami pasti akan dengan senang hati menceritakannya. Dan setiap malam sebelum kami tidur, adalah waktu yang paling baik untuk mengatakan ‘terima kasih’ bila salah satu di antara kami telah bersedia mengalah, agar kami tetap bisa berbahagia.

I don’t know apa ini akan juga bisa terjadi di dalam hubungan yang lain, tapi ini sangat berpengaruh di dalam hubungan kami. Dan tidak seperti pasangan yang sedang PDKT dan bisa selalu menerima setiap tantangan, pasangan yang sudah bersama untuk beberapa lama, akan lebih egois. Karena merasa lebih memiliki dari yang sebelumnya, karena merasa lebih berhak atas yang lainnya. That’s bad, kalau dibiarkan menjadi kebiasaan.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berbincang dengan teman yang sudah menjadi seorang suami dan ayah. Dia bilang, ‘Biasanya di tahun ketiga pernikahan laki-laki akan merasa bosan pada istrinya. Dan pilihannya hanya dua; setia atau selingkuh’. Mendengarnya saya cukup terkejut. Dia lalu melanjutkan ‘Dan sangat sedikit laki-laki yang bisa jujur pada istrinya—kalau dia sedang bosan. Karena rasa takut akan menyakiti’.

Saya cukup tergelitik dengan pengakuan ini, karena tidak lama sebelumnya juga seorang teman perempuan saya pun, yang sudah menjadi istri dan ibu sempat curhat ‘Dateng ke kantor itu hiburan banget buat aku. Setelah seharian bareng anak dan suami di rumah. Ketemu setiap hari sama mereka. Bahkan aku pernah ngerasa happy banget waktu tugas luar kota. Aku bisa bangun sesukaku, dan tidur sesukaku’.

Wow bukan? Dan bukan berarti mereka berdua adalah istri atau suami yang jahat. Mereka hanya manusia. Manusia pasti bisa merasa bosan, pasti bisa merasa lelah, pasti bisa merasa ingin yang lain. Tapi di situlah letak indahnya iman dan cinta. Ketika kamu bersedia melepaskan ego demi kebahagiaan mereka yang telah menjadi bagian baru di dalam dirimu–keluargamu. Suamimu. Istirmu. Anak-anakmu. Saat kamu benar menemukan makna indah dibalik kesediaan untuk mengalah.

Saya juga sempat bertanya pada teman laki-laki saya, ‘Punya anak bahagia banget pasti ya? Apalagi anak ini sudah lama dinanti?’ dia kemudian tersenyum dan bilang ‘Aku kemarin baru baca kata mutiara; dibalik berkah yang besar, selalu ada tanggung jawab yang lebih besar. Luar biasa bahagia itu jelas, sampai akhirnya dihadapkan pada tuntutan hidup yang lebih besar, karena sekarang aku juga punya tanggung jawab sebagai ayah.’

Tantangan untuk menjadi dewasa tidak akan pernah putus hingga akhirnya nyawa kita diputus oleh Tuhan. Dengan mau mendengarkan, dengan itu pula kita bisa belajar memamhami apa yang belum kita hadapi. Tulisan ini hanya sekedar berbagi—semoga bisa berarti buat kamu juga ya. Yuk, kesayangannya kamu juga didengarkan inginnya.

And hai Mas sayang, happy anniversary yaaaah. Kalo ngegombalnya sih udah sering ya tiap hari. Biar jadi bahagianya kita berdua aja ya hehehe. Teruslah jadi seperti ini. Menyayangiku tanpa membebaniku dengan janji-janji manis. Ayo mendewasa bersama—sampai akhir nafas kita  🙂

IF I’M NOT THE GIRL, JUST SAY IT

pic credit: favim
pic credit: favim

Entah sejak kapan istilah PHP muncul ke muka bumi ini. Mungkin sejak zaman social media jadi ajang eksistensi banyak orang, sehingga semakin banyak media untuk anak muda ‘ngarep’ dan ‘ngarep’. Nggak bisa dipungkiri dong kalau PHP biasanya dateng dari cowok, ya well—walau pun nggak sedikit juga cewek yang suka sengaja ngasih harapan kosong—but hey, ini blog cewek, jadi kita bakalan bahas dari sudut pandang kita dong ya :p

Nggak ada deh cewek yang suka di-PHP-in, apalagi ditinggalin gitu aja abis dikasih sejuta harapan. Let me tell you something, yang ini sebenernya udah jadi rahasia umum di kalangan cowok-cowok. ‘Dapetin hatinya cewek itu gampang, kasih aja dia perhatian nggak putus-putus, terus ngilang deh. Pasti mereka bakalan kelabakan ngerasa kehilangan’. That’s so sh*t  I know, but well, face it girls, kita emang kadang se-mudah-itu-buat-ditaklukin.

Jadi, jangan mau lagi dibegitu-in. Kita nggak layak dapet perlakuan PHP—dan lebih nggak pantes lagi jatuh hati sama cowok yang bahkan nggak berani buat bilang ‘I’m not into you’—dan ngilang begitu aja. Kenapa? Ya karena kita memang berhak dapet kepastian!

No drama please

Ya Allah, hidup jadi anak muda di masa sekarang tekanan udah banyak banget loh. Sekolah and kuliah berjam-jam, belom masih ditambah les ini itu, belom lagi tuntutan pergaulan yang kadang bikin kita harus ada di tempat yang nggak kita suka, belom lagi bikin alis yang makan waktu dan kesabaran luar biasa, masa iya sih masih harus merana gara-gara gebetan tau-tau punya ‘hobi baru’ bales pesan kita dengan dua kata ‘ya’ dan ‘ngga’. Kalo emang nggak mau lagi ngobrol, bilang kek. Nggak usah pake segala nyuekin dan bikin kita jadi mikir kalo kita abis bikin salah.

Cewek itu strong tau

Kadang cowok suka ngerasa cewek itu drama banget kalo harapannya kandas, padahal tanpa mereka sadari ya drama ini dateng dari sikap cowok yang nggak jelas. Malem masih bilang kangen, tau-tau besoknya udah lupa nyapa selamat pagi. Cowok suka segala pake ngerasa ‘ngejaga perasaan’ dan akhirnya nggak tega buat bilang kalo ‘kayanya kita sampe di sini aja’. Kami itu emang cewek, tapi kami bisa kok nelen yang pait-pait. Karena apa? Karena kami juga berhak buat tahu perasaan cowok yang sebenarnya. Kalau emang udah bosen, kalo emang ternyata ketemu yang lebih baik. Well, just say it guys. We will cry, but we will get over it (much sooner).

The worst part

Perasaan terburuk dari di-PHP-in adalah ketika cewek akhirnya bertanya-tanya hal apa yang kurang dari dirinya sampe bikin gebetannya gone. Terus setelah akhirnya secara surprise ngeliat cowok yang selama ini deket jadian sama perempuan lain, mulai deh cewek doyan ngebanding-bandingin diri sendiri sama cewek pilihannya itu. Belom lagi akan dimulai stalking tiada akhir. Sampe akhirnya kena block mantan gebetan (hadeh ada aja), makin jadi deh sedihnya. Girls, we don’t deserve it. Please don’t do this. You are beautiful and precious.

If he really wanted to be with you, you wouldn’t have to try so hard

And it’s true Squad. Kalo dari awal selalu harus kamu yang usaha. Selalu harus kamu yang nyapa duluan. Selalu harus kamu yang ngajak jalan. Well, maybe you just fall for the wrong guy. Jadi mungkin aja PHP ini dateng dari situasi yang kamu create sendiri dari awal. Love is take and give. Padahal nyatanya dia emang nggak pernah bilang apa-apa ke kamu yang itu menjurus ke perhatian yang lebih dari temen, tapi kamu aja yang ngerasa dia punya perasaan lebih. Siapa tahu kan dia emang cowok tipe tebar pesona, atau cowok yang emang baik ke semua orang.

Jadi fix kan, kalo sebagai manusia kita nggak layak di-PHP-in dan nggak juga boleh ngebiarin diri kita terbuai sama harapan yang nggak nyata. Dan buat cowok, bersikaplah selayaknya pria sejati. If I’m not the girl you are looking for, just say it!

falafu

dipublish juga di http://www.amazara.co.id

Di hatimu

Aku ingat aku pernah memintamu pada Tuhan. Bertahun-tahun yang lalu saat aku mulai tidak percaya bahwa masih ada manusia yang menganggap kalau; setia adalah sesuatu yang lebih berharga daripada harta.

Kamu adalah pria yang tatapannya selalu mampu membuatku merasa dicintai, yang doa-doa baiknya senantiasa memelukku sebelum aku jatuh tertidur. Yang genggamannya selalu berhasil menguatkan dan menyelamatkanku dari keterbatasan.

Kamu tidak pernah membiarkanku menyebrang di sisi yang tak aman. Kamu selalu melangkah lebih dahulu setiap kali ada pintu yang harus kita tuju. Kamu tak pernah suka bila perutku tak penuh terisi. Kamu mudah kesal bila aku memotong penjelasanmu setiap kali kita berselisih. Begitu pun selalu marah bila aku mulai mengingat kekurangan yang ada di dalam diriku.

Dan kamu tak pernah meminta apa-apa kecuali kesediaanku untuk setia.

Kamu selalu mendengarkan dengan baik permintaan ibu dan ayahmu, menjaga mereka dengan begitu pantas. Karenanya aku selalu berusaha memantaskan diriku untuk bisa selalu dicintaimu. Kamu selalu menempatkan perasaanmu di belakang perasaan banyak orang yang ada di dalam hatimu–karena mereka adalah keluarga. Karenanya, aku selalu ingin menjadi seseorang yang paling pertama memeluk kelelahan juga keresahaanmu, lalu menyekanya dengan cinta.

PicsArt_05-24-07.43.31

Aku selalu bersyukur pada Tuhan karena kamu yang ada di sisiku saat ini. Kamu adalah seutuhnya bahagiaku. – Katamu

Aku pun ingin kamu tahu, bahwa kamu memiliki segala yang aku pinta pada Tuhan selama ini. Terima kasih sayang, karena telah menyayangiku dengan cinta yang santun. Dengan sikap yang penuh rasa hormat. Dengan prasangka-prasangka baik yang selalu kamu coba tanamkan di antara kita. Terima kasih karena sudah setia mendoakan ibuku setiap hari–walau nyatanya kamu belum pernah bertemu dengan beliau.

Aku hanya ingin perempuan yang sederhana dan setia. – Katamu.

Terima kasih Fadli Dermawan, karena kamu telah mengajarkanku tentang nilai kejujuran dan kerja keras. Membuatku percaya, bahwa masih ada kebaikan dan ketulusan yang tumbuh subur di hati manusia. Di hatimu. 

Happy #24 Sayangku, 

Falafu. 

*sebagian tulisan ini diambil dari buku FALAFU #MemberiJarakPadaCinta (dan kehilangan-kehilangan yang baik).

Iya sayang, tulisan itu untuk kamu dan pasti kamu belum sampai di halaman yang ini :p

Untuk siapa pun yang dilupakan lebih dulu

It’s easy to forget things you don’t need anymore. – Haruki Murakami

Jauh sebelum hari ini, saya pernah mengatakan bahwa; menjadi yang dilupakan lebih dulu tidak pernah mudah.

Karena kenyataanya, bagi saya, menjadi yang tidak melakukan kesalahan apa pun (dan ditinggalkan) tidak lah lantas membuat upaya merelakan menjadi lebih sederhana. Terakhir kali saya dilupakan lebih dahulu, orang tersebut sudah memiliki perempuan lain yang dia panggil ‘sayang’–atau setidaknya memiliki seseorang yang tidak lupa menanyakan pada dirinya ‘Sudah makan belum hari ini?’. Dan well, rasanya pahit. Racun yang ditelan, namun tidak masuk pencernaan tapi mengalir langsung ke hati dan pikiranmu. Perasaan yang awalnya ‘Marah’, seketika berubah menjadi ‘Sedih’. Sedih yang tidak tahu harus diapakan. Sedih yang lantas membuat saya benci pada diri sendiri. Merasa begitu bodoh karena sudah menyayangi seseorang dengan tulus. Tapi tidak berhasil disayangi kembali dengan baik. Saya menghabiskan banyak waktu untuk mencari cela di dalam diri, karena nyatanya–mencintai dia dengan jujur saja tidak cukup untuk membuatnya bahagia.

Just like what Murakami said. It’s easy to forget things you don’t need anymore. 

And he don’t need me anymore. 

I am ‘that’ one of the things who easily to forget. 

SAD. 

Tapi itu adalah hari, jauh sebelum hari ini.

Sekarang saya bisa bilang bahwa ‘Kehilanganmu adalah berkah yang tiada terkira’.

Karena dari kehilangan itu saya bisa dipertemukan dengan dia yang sekarang ada di sisi saya–yang bahkan tidak bisa dibandingkan dengan kehadiranmu dulu. Dia bukanlah pria yang sempurna, namum dia adalah pria yang bersedia menerima ketidak sempurnaan saya dengan cara yang paling indah; mencintai. Hal yang tidak bersedia kamu lakukan dulu–dan terima kasih karena sudah tidak bersedia melakukannya.

IMG_20160515_211242
thepinkdiary

***

Saya selalu mengatakan pada pasangan saya bahwa ‘Aku mencintaimu yang sekarang’.

Kenapa? Karena saya tahu setiap orang punya masa lalu. Dan saya tidak perlu berurusan dengan masa lalu tersebut–seperti saya pun tidak ingin orang lain harus ikut memikirkan masa lalu saya. Tidak ada yang punya kisah hidup yang sempurna, namun saya percaya setiap cela yang pernah datang selalu berhasil menguatkan–bila dihadapi dengan berani dan bertanggung-jawab. Apalagi untuk setiap hal baik yang sudah tumbuh di dalam dirinya, yang saya perlukan hanyalah merawatnya dengan lebih baik lagi 🙂

Kami melewati segalanya di hari kemarin, hanya untuk kemudian saling menemukan di hari ini. Dan untuk setiap wajah yang pernah singgah di dalam hidupnya, saya sungguh berterima kasih pada kalian. Terima kasih karena pernah sempat menyayangi atau pun menyakiti pria yang sedang saya cintai saat ini. Tanpa kalian, tentu saja dia tidak akan mendewasa dan berhasil membuat saya jatuh cinta.

Jadi, siapa pun yang (harus) dilupakan lebih dulu. Jangan pernah takut untuk tetap bertahan dalam kejujuranmu. Jatuh hatilah dengan baik dan sungguh-sungguh. Hingga bila kelak hati harus patah pun–kamu hanya patah untuk tumbuh semakin kuat.

falafu.