The Human Heart is Curved Like A Road Through Mountain

Banyak hal-hal yang belum terjadi namun begitu mengusik kita. Kita membiarkan diri kita berpikir terlalu keras untuk hari esok, sehingga lupa untuk menikmati apa yang masih kita miliki di hari ini. Saya termasuk manusia yang agak ribet soal mengambil keputusan-keputusan yang sepele. Itu kenapa saya harus berkali-kali mengingatkan diri saya sendiri untuk enjoy the moment while I can. Besok pasti akan baik-baik saja, selama kita menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya. Kalau pun ada keputusan yang keliru saya ambil pada akhirnya, saya hanya perlu merelakannya saja. Menerima konsekuensi dari kecerobohan saya itu—dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. 

Karena apa? Karena pada akhirnya waktu akan terus berjalan, dan segala kesedihan juga kemalangan yang datang akan punya waktunya untuk pulang. Saya pernah menulis bahwa apalah hidup tanpa kekhawatiran, namun apalah hidup bila hanya berisi kekhawatiran akan hal-hal buruk yang belum tentu terjadi? 

Dulu setiap kali patah hati saya kerap takut untuk memulai lagi. Begitu banyak ‘bagaimana’ yang saya biarkan hidup memenuhi hati saya. Bagaimana bila gagal lagi? Bagaimana bila harus mengulang kembali segalanya dari awal? Bagaimana kalo nyatanya tidak ada seorang pun yang sanggup menyayangi seseorang yang rumit seperti saya? Bagaimana bila ternyata kekecewaan hanya mengubah wajahnya saja? Akan melelahkan pastinya. 

Namun, di mana hidup yang tidak melelahkan? Nyatanya untuk setiap lelah yang datang, kamu selalu punya waktu untuk mengistirahatkan semestamu. Tidak ada yang berhak memaksamu untuk selalu kuat atau untuk selalu tegar. Kamu hanya perlu untuk bertahan agar bisa tetap selalu percaya. Pada apa saja yang bisa membuatmu utuh kembali. Karena sekali saja kepercayaan itu hilang dari dalam hatimu—segala yang ada di dalam dirimu akan meredup. Saya? Kepercayaan saya ada pada Tuhan. Saya akan selalu kembali pada-Nya, setiap kali saya mulai ragu dan khawatir. Dia adalah sebaik-baiknya pendengar, dan sekuat-kuatnya penuntun. Setidaknya itu yang saya percaya 🙂

Kita boleh jadi pengecut untuk bilang cinta. Tapi tidak boleh jadi pengecut untuk bisa berbahagia di atas kaki kita sendiri. Bahagia milik saya hari ini—tidak ada hubungannya dengan segala hal buruk yang pernah terjadi di masa lalu. Setidaknya, saya tidak akan pernah membiarkan itu terjadi (lagi). Karena mereka yang saya sayangi dan saya miliki saat ini, jauh lebih bernilai dari segala kekhawatiran akan hal-hal yang belum tentu terjadi.

Fa, 24 September 17

Advertisements

I WOULDN’T ASK FOR MORE

Belum lama ada yang bertanya pada saya, bagaimana cara menguatkan diri untuk pergi ikut dengan suami yang tinggal atau bekerja di kota yang asing bagi kita. Lalu kita harus berpisah jarak dengan keluarga dekat, harus rela melepaskan pekerjaan yang selama ini mengisi separuh dari hidup kita, dan harus ikhlas pergi demi dekat dengan suami.

Tentu saja setiap orang dihadapkan dengan kondisi yang berbeda-beda. Tapi saya yakin ini tidaklah mudah untuk perempuan mana pun. Tidak harus pergi jauh ke kota seberang saja, sudah berat. Karena pada akhirnya kita harus melepas rumah yang melahirkan dan membesarkan kita; yaitu keluarga. Apalagi harus juga pergi dari zona nyaman kita. Teman-teman dekat, teman-teman kantor, daily activity yang sudah jadi HIDUP kita selama ini. Everything we know for living. 

Kebetulan, bisa dibilang sebelum bertemu dengan suami, saya tinggal sendiri di Jogja. Ayah saya memang juga tinggal di Jogja, tapi karena jarak rumah dan kantor yang cukup jauh, saya hanya bisa menemaninya saat weekend saja. Beberapa tahun ke belakang juga ayah saya lebih sering berada di Jakarta. Jadi saya totally alone. Mantan pacar saya, atau yang bisa saya panggil suami saat ini, adalah seorang sahabat jauh yang dengan berbagai usaha komunikasi hubungan LDR kami, dia selalu berusaha menemani saya. Membuat saya merasa tidak seorang diri.

Kebetulan juga, saya tidak punya sahabat di Jogja, semua sahabat saya ada di Jakarta. Karena saya lahir besar di Jakarta. Terman dekat, adalah mereka yang biasanya saya temui di kantor. Kantor saya cukup hangat. I mean, suasan kantor sangat kekeluargaan, dan karena saya bekerja di dunia media, jam kerja kami sangat fleksible dan cara bergaul kami di kantor juga sangat santai. Pakaian kami santai, dan sebelum saya dekat dengan suami saya—bisa dibilang dulu kantor adalah rumah kedua saya. Saya sering sekali tidur di kantor, atau seharian berada di kantor hehehe.. setelah saya punya Fadli, dia tidak lagi mengizinkan saya tidur di kantor. Selarut apa pun saya harus pulang ke kos. Bahkan pulang malam pun, harus ada yang mengantar. Teman dekat saya di kantor kebetulan juga ada yang saya kenalkan padanya, jadi kalo saya pulang malam bersama teman dekat saya ini, Fadli pasti membolehkan. No more stay at office till mid night.

Anyway, bahasan panjang lebar itu sebenarnya agar kamu bisa memahami bagaimana kondisi psikologis saya sebelum akhirnya saya harus ikut dengan suami pergi bersamanya ke kota kecil di Sumatra. I have everything good around me. Friends and job that I love.

Jogja adalah kota yang spesial bagi saya walau pun saya tidak lahir dan besar di sana. Suasana Jogja yang sangat bersahabat dan apa-apa murah bikin saya betah banget. Ditambah lagi cuaca Jogja yang lebih menyenangkan dibanding Jakarta. Hobi saya nonton juga makan, dan Jogja adalah surganya kuliner enak. Saya juga hobi main ke book store, even ga beli buku apa-apa, saya memang sering mampir ke toko buku tanpa alasan. Jarak Gramedia dan kantor saya nggak sampai 1 Km. Every week, saya juga pasti nonton film ke bioskop. Even untuk film jelek yang tiketnya saya dapatkan dari promo radio, saya masih rela menontonnya. Karena saya sangat suka suasana bioskop. Bagi saya, nonton film ke bioskop adalah salah satu pelepas stress paling jitu, selain makan enak. Tapi di lain sisi, saya juga cukup kesepian di Jogja.

Karena saya jauh dari keluarga dekat. Rasa kesepian ini akan membludak ketika kondisi kesehatan saya menurun dan sendiri meringkuk di kosan, atau seperti saat saya harus mempersiapkan pernikahan saya dulu. So stressfull. Apalagi kalo teman yang saya ajak menemani saya pada nggak bisa dan menolak karena mereka memang punya kesibukan lain. Saya sedih banget dan sering nangis ke Fadli. Sering banget! Tapi ini juga suka malah jadi bikin Fadli sedih, karena dia juga nggak bisa temenin saya, jadi feel useless. Hari-hari berat itu silih berganti tanpa seorang pun (selain Fadli) tahu. Saya adalah tipe manusia yang cukup periang di pergaulan. Ya seberat apa pun beban yang orang tahu—itu nggak sampai 20 persen dari beban yang sebenarnya saya rasakan. Setiap kali saya ngerasa sendirian, Fadli pasti selalu bilang; “..besok kan sama-sama mas di sini. Besok adek nggak sendirian lagi. Sekarang pun begitu, walau pun kita jauh”. Sambil ngangguk-ngangguk air mata saya ngalir ke layar ponsel yang menempel di pipi. Yes. He’s everything to me. Even since we’re not living together.

Itu kenapa saya sering membayangkan, finally I met someone who want to live with me forever. I wouldn’t ask for more. Apalagi saya perempuan, dan saya pasti akan merasa secure ketika ada orang lain yang memang bertanggung jawab menjaga saya, dan orang tersebut adalah SUAMI. Itu kenapa, membayangkan suatu hari saya akan bisa hidup berdua bersama Fadli, selalu membuat saya bahagia. Tanpa harus ditambahi embel-embel soal pikiran;

Tapi kalo saya harus tinggal di kota kecil di Sumatra. Saya nggak akan bisa lagi nonton bioskop, karena bahkan kota itu nggak cukup besar buat punya Gramedia. Makanan di sana pasti rasanya beda sama makanan di Jawa dan bahkan Fadli nggak bisa menjanjikan saya bisa ketemu signal 3G. Pasti akan banyak sekali tempat makan yang saya kangenin banget di Jogja. Bakmi Jawa yang selalu nyelametin perut saya yang laper tiap pulang kerja kemaleman, atau bahkan mie ayam enak yang sering saya beli walau letaknya 1 jam perjalanan dari kantor. Belum lagi teman-teman dekat dan kondisi yang bikin saya akan semakin jarang bertemu dengan Ayah saya.

Tapi kalau saya tanya sama diri saya; “mau tinggal jauhan dari Fadli?” Jawabannya selalu NGGAK MAU. Apa pun yang terjadi, kami harus selalu dekat, dan sebenernya nggak pernah sedikit pun terlintas di kepala saya untuk stay di Jogja dan memperpanjang episode LDR kami. Fadli pun nggak bakalan mau sama saya kalau saya nggak mau menemani dia hahaha. Itu kenapa, sebelum mengajak saya serius, pertanyaan yang dia ajukan adalah apakah saya mau menemani dia tinggal di kebun sawit, karena di sanalah Allah SWT sedang meletakkan rejekinya. I never think twice to say yes. Never. Nggak ada pikiran; worth it nggak yah? Atau bakalan betah nggak yah? I can do it, if I’m willing to do it. Never limit my self. Fadli tahu ini akan berat buat saya, that’s why dia bertanya apakah saya ‘bersedia’.

Beruntungnya, saya dan Fadli adalah pasangan yang selalu mengedepankan kejujuran dan keterbukaan. Fadli nggak pernah menutup-nutupi hal pahit apa yang akan saya hadapi. Seperti apa kebun tempatnya tinggal, bagaimana pergaulan yang akan saya hadapi di sana, cuaca seperti apa yang akan saya rasakan, dll. Saya tahu ini, karena setelah saya sampai di kebun, banyak ibu-ibu lain yang di awal masa tinggalnya curhat sering menangis karena kaget dengan situasi yang harus mereka hadapi. Karena sebelumnya tidak pernah diberi tahu. Tapi saya sama sekali nggak kaget. Karena Fadli bilang semuanya. Kalau pun saya nangis, biasanya ya karena kami berantem drama-drama lebay. Percaya deh, kami berdua itu sering banget berantem hahaha.. sama kaya pasangan lain. Mungkin bahkan lebih drama. Alhamdulillah, kami selalu cepat baikan setelahnya.

Dan setelah saya jalani beberapa bulan ini apakah terasa berat? Yas. Super berat. Super stress. But I’m more than happy. Bisa masak buat suami, bisa becanda sama suami di kamar setiap dia pulang kerja, bisa main sama suami, bisa peluk suami setiap dia sakit, bisa sholat di-imamin suami setiap saat, bisa baca Al-Qur’an bareng, cium tangan suami setiap dia mau berangkat kerja-setiap selesai sholat, even bahkan bisa berantem langsung. Bisa ke pasar sama-sama, bisa minta pangku sebelum dia berangkat kerja, dan nggak ada yang bisa menukar luar biasa rasanya bisa denger dia bilang “my favorite time every single day” setiap kali kami pelukan pas mau tidur.

Menikah dan pacaran tentu saja dua kehidupan yang berbeda, juga dibangun dengan komitment yang berbeda. But I never regret this. Stay by him side no matter what. Kehilangan pekerjaan? Why? Rejeki bisa dicari lewat jalan lain. Jangan nggak percaya sama kuasa Tuhan kalau kita mau usaha dan meminta. Jangan takut kekurangan, bila kita percaya bahwa suami akan selalu bertanggung jawab mencukupi kebutuhan kita. Saya suka mikir, pemulung saja bisa hidup dengan mengais sampah. Cleaning service dengan gaji pas-pasan saja anaknya bisa sekolah sampai tamat sarjana. Kenapa kita yang jelas berpendidikan lebih baik, dan punya kehidupan yang lebih baik harus takut jatuh miskin hanya karena kehilangan jabatan atau gaji di kantor?

Saya masih bisa cari cara lain untuk beli make up sendiri, contohnya dengan menulis. Tapi saya tahu, even pun saya nggak nulis, suami saya pasti mau membelikan saya make up, agar wajah saya terlihat cerah di hadapannya. Bukan saya nggak setuju mereka yang memilih hidup sebagai pekerja kantoran dan istri, tapi saya sedang membicarakan bagaimana bila situasi yang harus kamu hadapi—memang menuntutmu untuk harus keluar dari pekerjaan dan menemani suami di tempatnya bekerja? Tapi kenapa harus merasa “dituntut” bila kamu memang tulus menyayanginya? Adil, bukan dia bisa bekerja dan saya harus bekerja. Keadilan adalah ketika kedua pihak bisa menjalankan kewajibannya, dan mendapatkan haknya. Seimbang. Saya tidak pernah sekali pun merasa dicurangi atau dirugikan. Saya tahu kondrat saya sebagai perempuan. Dalam islam, perempuan punya drajat yang sangat tinggi. Bahkan, Rosul menyebut ibunya empat kali, sebelum akhirnya menyebut ayahnya—saat ditanya siapa yang wajib beliau hormati dan sayangi. Itu kenapa, surga ada di bawah telapak kaki ibu. Saya ingin menjadi istri dan ibu yang demikian bagi suami dan anak-anak saya kelak. Ibu yang pantas diberi syurga di bawah telapak kakinya. Karena berhasil menjalankan kewajibannya dengan baik.

Jadi pilihan apa pun yang pada akhirnya kamu ambil, berusahalah untuk tidak meninggalkan peran barumu sebagai seorang istri dan ibu. Jangan buat suami sampai meminta pada kita untuk menemaninya, datang dan temanilah dia selama kita mampu 🙂

Saya selalu ingat cerita suami saya tentang masa kecilnya. Ayahnya selalu ingin dia kerja mapan agar punya kehidupan yang lebih baik. Sedang suami saya ingin bisa jadi pengusaha yang punya banyak waktu untuk keluarga di rumah, bukan seseorang yang harus terikat jam kerja setiap hari. Karena kenangan masa kecil yang selalu dia ingat sampai sekarang adalah ketika ayahnya mengantarkan dia dan kedua adiknya pergi ke sekolah naik motor sederhana setiap pagi. Ayahnya bisa melakukannya, karena tidak harus berada di kantor jam 8 pagi dan berangkat kerja sebelum jam sekolah tiba. Suami saya selalu ingin kelak bisa jadi ayah yang punya waktu untuk mengantar anak-anaknya sekolah setiap pagi. Karena uang, tidak selamanya bisa memberikan kenangan manis. Tapi ‘waktu’ selalu mampu.

Tapi sekarang memang belum saatnya. Suami masih harus mencari rejeki dari kantor yang bahkan membuatnya terkadang harus bekerja hingga di luar jam kantor. Tentu saja tak apa, semua ada prosesnya. Kami punya cita-cita ingin punya kehidupan seperti apa kelak, dan kami tahu kami sedang berjalan menuju tujuan itu sama-sama. Semoga saya dan suami bisa senantiasa sehidup dan sesurga, dan semoga kamu pun bisa demikian dengan pasangan. Aamiin 🙂

June 22 / 2017

We’ve Learn how to Survive

Soon, when all is well, you’re going to look back on this period of your life and be so glad that you never gave up. – Haruki Murakami

People come and go. I mean, nothing’s gonna last forever is so damn true.

Siapa pun yang kamu cintai, akan ada saatnya pergi. Atau seberapa pun kamu mencintai seseorang, akan ada gilirannya kamu harus meninggalkan. Itu mungkin yang membuat Tuhan, tak suka bila kita terlalu berlebihan dalam memuja sesuatu atau seseorang. Terlalu besar kesempatan diri menjadi berpikir, bahwa segala hal bisa berjalan sesuai dengan yang kita rencanakan. Kita merasa lebih besar, dari Sang Maha Pemberi keputusan.

Saya punya teman atau bahkan mereka yang tidak saya kenal tapi bersedia menceritakan berbagai kisah rahasia yang mereka miliki—yang membuat saya akhirnya kerap berpikir kalau ada begitu banyak hal yang sedang kita khawatirkan—sedihkan—dan coba untuk kita lupakan; adalah hal yang sebenarnya telah kita tanam sejak ribuan jam sebelumnya. Namun kita tidak menyadarinya. Karena kita sedang terlena ‘kebaik-baik-sajaan’, kita sedang penuh dengan ‘harapan’. Kita lupa, harapan, hanyalah harapan selama itu belum terwujud. Tidak ada yang bisa memastikan 100 persen bahwa segala yang kita rencanakan dengan begitu hati-hati dan penuh percaya diri benar akan terjadi. Kita akhirnya melewati tahap; bersiap-siap.

Mempersiapkan hati bila harus patah. Mempersiapkan doa bila ternyata keteguhan upaya belum juga ada hasilnya. Mempersiapkan air mata bila yang kali ini harus kembali lagi kecewa.

Terkadang saya berpikir, apa yang membuat manusia begitu percaya diri saat kebahagiaan memeluk?

Saya pun kerap demikian. Hingga akhirnya Tuhan mengganjal kaki saya agar saya tak lupa, bahwa sebaik-baiknya mata kaki, mereka tidak bisa menunjukkan arah. Saya mulai lengah karena kenikmatan yang sedang saya punya. Itu adalah saat-saat mata saya dibutakan oleh begitu banyak hal baik yang sedang terjadi. Saya pun dijatuhkan-Nya lagi.

Karena bagaimana pun, hidup ini adalah roda yang terus berputar.

Lucunya. Seberapa pahit pun hati sakit—hingga rasanya tak ingin hidup lagi, saya tetap hidup dan masih baik-baik saja hingga hari ini. Karena kemarin, pada akhirnya akan berlalu juga. Pada akhirnya kita semua akan belajar untuk menyesuaikan diri dengan hal buruk yang sedang memeluk.

Saya ingat, saat saya masih tinggal di Samigaluh Jogja. Daerah yang bisa saya capai dalam 1,5 jam perjalanan dengan kendaraan bermotor dari kota Jogja. Jalannya menanjak dan tak punya penerangan. Rumah-rumah pun masih jarang ada. Jauh-jauh jaraknya. Saya tidak pernah menyangka bahwa saya si anak perempuan bungsu ini bisa pulang malam dari kota Jogja untuk bisa sampai ke rumah menemani bapak saya. Tapi karena keharusan, saya terpaksa mencobanya.

Hari pertama saya pulang kerja dan harus pulang naik motor, saya tidak berhenti berdoa di dalam hati sambil memutar musik keras-keras di telinga saya. Saya bahkan tidak berani melihat kaca spion LOL. Saya hanya berpikir, kalau saja motor saya sampai mati di tengah jalan, yang akan saya hadapi adalah jalanan yang gelap gulita. Bagian kanan saya tebing, dan bagian kiri saya jurang.

Seminggu berjalan, saya mulai terbiasa. Saya bisa membawa motor lebih santai, dan tidak lagi takut gelap. Sebulan berjalan, saya bisa bilang saya adalah perempuan tangguh hahaha… karena setiap hari saya berani menempuh 90 km perjalanan untuk pulang pergi kantor rumah dengan hanya dibayar 700ribu rupiah per bulan (jangan dibanding gaji saya saat bekerja di Jakarta, ini bahkan nilainya nggak lebih besar dari gaji asisten rumah tangga LoL).

Tapi saya bahagia. Karena saya tidak lagi kesepian. Karena akhirnya saya lepas dari depresi setelah Mama meninggal. Karena saya bisa beli buku kesukaan saya dan sesekali main ke bioskop dengan gaji seorang karyawan magang di Jogja. Setelahnya, dengan gaji UMR saat jadi karyawan tetap pun, saya mampu hidup dengan layak setiap bulannya, bisa bayar kosan, listrik dan menabung. Saya tidak pernah merasa kekurangan. Cukup saja segalanya berjalan. Padahal ya gaji tidak besar, dibanding teman se-angkatan saya di Jakarta yang sudah bisa berlibur ke luar negeri setiap tahun. Tapi saya tidak pernah sempat merasa iri dengan mereka. Karena hati saya penuh terisi dengan rasa syukur.

3 tahun berjalan. Gaji saya sudah berkali-kali lipat. Kerjaan saya makin banyak. Saya bahkan berhasil menerbitkan buku yang sudah tertunda selama bertahun-tahun. Tapi pengeluaran saya pun seketika menjadi lebih besar. Padahal saya masih tinggal di kos yang sama. Tetapi uang saya kerap saya pakai untuk hal-hal yang saya inginkan—bukan butuhkan. Yah.. namanya juga idup yah.

Manusia itu, sebenarnya di mana pun Tuhan leparkan untuk hidup. Di situ mereka akan bertahan hidup. Sebaik yang mereka bisa—bila mereka teguh dan jujur. Namun saat nikmat ditambah sedikit saja, keborosan dan kesia-siaan adalah hal yang akan datang pertama kali. Itu baru dalam contoh financial. Bagaimana bila urusannya sudah soal hati?

Tidak jarang saat Tuhan sedang memenuhi hati kita dengan cinta, kita tidak lagi bisa melihat Tuhan sedekat dulu lagi. Karena apa yang kerap kita doakan sedang terjadi. Tidak lagi butuh untuk berdoa terlalu banyak. Karena apa yang kita ingin sudah kita bisa kita peluk erat. Rasa saling memiliki antara kita dan dia yang kita cintai menjadi hal yang paling penting untuk dipikirkan sepanjang waktu. Seolah, tidak akan ada yang bisa memisahkan rasa cinta yang bahkan bisa membuat hati kita ingin meledak ini. Kita begitu mempercayai pasangan kita, hingga lupa bahwa dia pun masih manusia. Dan manusia adalah makhluk yang paling tidak bisa dipercaya.

Jadi siapa pun yang sedang kamu cintai saat ini. Cintailah mereka dengan bijaksana. Dan siapa pun yang sedang mengingkarimu saat ini. Bencilah mereka dengan sederhana.

Because in the end of the day. Everything just will be alright. We just need a reason to give up. Jadi jangan pernah biarkan diri memilih keputusan itu. Karena saat semuanya sudah berhasil kamu lalui dengan baik–kamu akan menjadi kamu yang lebih super dari kamu yang kemarin. We are stronger than we thought 🙂

31 March 2017

Untuk Suamiku

Selamat mengingat hari pertamamu menangis di dunia suamiku sayang. Mari terus saling memeluk setiap pagi, bersujud bersama 5 waktu dalam sehari, hingga kelak waktu yang berhenti untuk kita. Sekali lagi, selamat menjadi 26. I love you somay! :)))

Istrimu,

Farah Fatimah

Lega

Seorang teman pernah bilang ..begitu menikah, rasanya lengkap saja. Bahkan tidak lagi peduli setiap kali usia harus bertambah saat hari ulang tahun tiba.”

Kalau boleh menoleh sebentar ke belakang dan melihat setiap tetes air mata yang pernah jatuh, rasanya tak sedikit pun saya ingin menukar setiap kesedihan itu—ketika sekarang di setiap pagi saya bisa merasakan hangatnya peluk suami saya.

Dan saya pun merasakan kelegaan itu. Lega karena saya tidak lagi seorang diri. Lega karena saya punya rumah untuk pulang. Lega karena saya sudah menjadi milik seseorang—yang begitu bahagia bisa memiliki saya. Saya tidak tahu apa kamu bisa mengerti apa yang saya rasakan. Tapi saya masih selalu ingat rasanya, saat mama saya meninggal, dan semua kakak saya (yang sudah berkeluarga) pulang kembali ke kehidupannya—hanya saya dan bapak lah yang akhirnya harus tertinggal di rumah kami bersama begitu banyak kenangan. Kami adalah 2 orang yang sama-sama kehilangan ‘rumah’—di rumah kami sendiri. Mungkin itu adalah kehampaan terpahit yang pernah saya telan selama saya hidup.

Kalau boleh jujur. Saya tidak pernah berkeinginan untuk menikah sebelumnya. Maksudnya, saya memang selalu berdoa, agar dipertemukan dengan pria yang setia dan soleh. Tapi di usia saya yang sudah menginjak 25 tahun, saya belum punya keinginan untuk menikah saat itu. Karena keluarga saya sendiri bukan tipikal keluarga yang meributkan harus menikah di usia berapa dan harus menikah dengan siapa. Setiap anak di keluarga kami, diberi kebebasan oleh orangtua kami untuk memilih pasangannya. Bapak biasanya hanya selalu berpesan dan bertanya, apa kami benar menyayanginya, apa dia benar menyayangi kami. Lalu mengingatkan kalau perceraian bukanlah hal yang bisa dipilih di kemudian hari. Karena keluarga kami tidak menyukainya. Jadi apa pun yang terjadi di kemudian hari, bertanggung jawablah penuh dengan pilihan kami sendiri.

Saya akhirnya baru memiliki keinginan untuk menikah, ketika bapak saya berangkat umroh. Saat pertama kali kami berkomunikasi via telepon beliau bilang, “..bapak sudah doain biar adek bisa segera dipertemukan dengan pria yang baik.” Di hari itu saya tahu, bahwa pernikahan saya, sudah menjadi cita-cita bapak saya sekarang. Karenanya, saat dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan, salah satu doa khusus yang saya pinta pada Allah adalah agar bisa segera dipertemukan dengan jodoh saya.

Dan datanglah Fadli, pria yang pernah saya kenal ribuan hari yang lalu, kembali menyapa saya di hari ulang tahun saya. Fadli yang datang hari itu sudah jauh berbeda dengan yang 3 tahun lalu saya kenal. Saya seperti kedatangan kakak baru di dalam kehidupan saya. Karena kebetulan Fadli adalah anak pertama di keluarganya, sedang saya adalah anak terakhir. Walau pun sebenarnya, usia saya lebih tua dibanding Fadli, tapi secara kepribadian, Fadli jauh lebih dewasa dan bertanggung-jawab. Fadli bukanlah pria yang jatuh hati pada saya karena apa yang saya tulis. Dia bahkan tidak pernah sama sekali membaca blog atau buku saya. Dia bahkan tidak aktif bermain social media. Pria yang datang, karena ingin mengenal sesungguhnya saya.

Dia juga jauh dari pria yang saya pernah kenal selama ini. Hidupnya penuh dengan perjuangan yang tidak sederhana. Dan dia begitu mencintai ibunya. Kami tumbuh besar dengan ‘cerita sulit’ kami sendiri. Dan itu yang membentuk kami jadi manusia yang begitu keras kepala. Yakin deh, saya dan dia sering sekali berantem. Bahkan untuk hal-hal kecil. Tapi kami menikmati semuanya. Karenanya hanya ada semakin menyayangi, ketika perselisihan mereda.

Di pertemuan kami yang ketiga, Fadli datang ke rumah dan berkenalan dengan Bapak. Lalu sepulang dari rumah saya, dia mengajak saya untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Saya selalu ingat, pertanyaan yang dia ajukan “..adek mau ikut mas, kalo kita menikah? Tapi hidup di kebun itu jauh dari kehidupan perkotaan dan berat.” Lalu saya pun tanpa berpikir panjang menjawab “..mau, buat apa adek jadi istri kalau tidak bisa menemani suaminya.” Karena bagi saya itu bukanlah pilihan. Pergi mengikuti suami adalah keinginan saya. Saya tidak pernah menjadikan itu pilihan yang harus punya jawaban ‘iya’ atau ‘tidak’. And that’s it. Sejak awal hubungan Fadli memang tidak meminta saya untuk bersedia jadi pacarnya, dia meminta saya untuk bersedia menjadi istrinya. Walau pun kami belum tahu kapan kami akan menikah. Tapi kami sama tahu, kami akan menuju ke sana.

And here we are. After the ups and down. Saya sudah resmi menjadi istri dari Fadli Dermawan.

Alhamdulillah, semua terjadi seperti impian saya selama ini. Saya selalu berdoa dipertemukan dengan yang beriman, setia, sederhana dan bertanggung-jawab. And he’s beyond that. Saya selalu berdoa tidak mau punya hubungan yang panjang namun tidak jelas tujuannya. Dan kami hanya perlu 1 tahun untuk mewujudkan pernikahan kami. Sejauh ini saya sangat menikmati peran baru saya menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga yang tetap bekerja dari rumah. Sekarang saya memang menetap jauh dari kota, saya bahkan tidak tahu kapan saya bisa kembali menikmati layar bioskop. Karena butuh 6 jam perjalanan dari kabupaten tempat saya tinggal untuk sampai ke kota yang punya layar bioskop. Kami perlu menginap di kota untuk bisa merasakan main ke mall. But that’s okay. I’m not crying at all. Saya sudah menangis tapi justru karena ngambek sama suami. Bukan karena keadaan yang harus saya hadapi saat ini. Bagi saya, di mana pun kami harus tinggal itu bukan masalah. ‘Masalah’ adalah justru ketika kami tidak bisa tinggal bersama.

Ketika mayoritas orang yang saya temui di sini bertanya; “gimana bu, kaget nggak tinggal di kebun?” Saya bahkan tidak merasa kaget sama sekali sebenarnya. Karena suami saya sudah menceritakan semua hal sulit yang harus saya hadapi nantinya. Dia tidak pernah menutupi apa pun, dan itu membuat saya sudah sangat siap menghadapi apa pun. I know it won’t be easy. But I’m ready for this. I love my job now. Being a wife. Walau harus melepaskan perkerjaan saya di Jogja dan hidup merantau dengan suami saya ke Sumatra. Itu bukanlah pilihan sulit.

FYI, saya terbiasa hidup sibuk sejak saya SMA. Sejak kuliah pun saya sudah bekerja. Saya biasa berangkat pagi pulang malam dan berkegiatan di luar rumah. Dan saya sangat mandiri sejak kecil. Saya sudah tinggal jauh dari orangtua sejak SMA walau pun saya anak terakhir di keluarga saya dan anak perempuan satu-satunya. Saya memang manja, tapi tidak dalam hal survive. Banyak orang di sekeliling saya worries karena saya harus ikut suami saya pergi jauh dari kota besar dan tidak lagi bekerja di kantor. But it wasn’t my first time. Di tahun 2011 saya pun pernah pergi meninggalkan pekerjaan saya untuk merawat mama yang sakit dan harus tinggal di Samigaluh (daerah terpencil di Jogja). 1 tahun saya habiskan di sana untuk merawat mama, dan 1 tahun saya habiskan untuk depresi setelah mama meninggal. And I’m still alive now. Percaya atau tidak, ini adalah kondisi terbahagia saya sejak usia saya 10 tahun dulu. Di usia 10 tahun, saya terakhir kali meniup lilin ulang tahun yang menancap di kue ulang tahun pemberian mama. Setelahnya, hidup saya penuh dengan air mata dan perjuangan, yang sampai hari ini selalu saya syukuri. Karena tanpa mereka, saya tidak akan pernah menjadi saya yang hari ini. Saya yang membuat suami saya jatuh hati 🙂

***

Jadi apa pun yang sedang terjadi di dalam hidupmu detik ini. Seberapa pun kamu jatuh dan terluka. Bertahanlah untuk senantiasa menjadi perempuan yang baik dan terhormat. Hingga kelak saat kamu harus kembali terjatuh, Tuhan telah persiapkan pria terbaik untuk menangkapmu—sebelum kamu perlu terhantam lagi. Atau pun bila kelak harus terhantam—kamu sudah tidak lagi harus menghadapi hantaman itu sendirian.

Hai Fadli Dermawan, suamiku. Terima kasih sudah bersedia menemaniku, hingga kelak aku tidak perlu sendirian lagi menghadapi segalanya. Terima kasih sudah bersedia menyayangi keluargaku, sebaik kamu menyayangi keluargamu. Terima kasih sudah menjadi imam di setiap sholat dan membimbingku mengaji setiap kali senja menghampiri kita. Aku tahu, ini hanya awal dari berjuta kebahagiaan dan kesedihan yang akan datang. Tapi aku tahu kita siap menghadapi segalanya, selama kita bersama. Terus jadi telapak tangan yang aku cium ya. Dan aku akan terus jadi kening yang kamu kecup. Setidaknya 5 waktu dalam sehari. Hingga selamanya.

“People need a place they can go back to. There’s still time to make it, I think. For me, and for you.” – Haruki Murakami

Falafu. March 2017.

 

 

 

 

 

 

Mengalah Padamu Itu Indah

Mengalah tanpa harus merasa sedang ‘kalah’

– falafu

Sebelum tidur kami selalu berdoa bersama, lalu setelahnya saling mengucap terima kasih. Dia sering mengucap ‘Terima kasih ya adek sayang, untuk berantemnya hari ini. Untuk perhatiannya. Untuk kesabarannya yang tidak pernah berhenti.’ Dan saya pun sering mengucap padanya ‘Terima kasih ya Mas, untuk sayangnya sepanjang hari ini, untuk marahnya karena adek bandel, dan untuk selalu ada disitu—menemani adek yang sendirian di sini’.

 

Ya, saya harus mengakui kalau ritual kami di setiap malam tersebut sangatlah berpengaruh dalam hubungan kami. Tidak jarang ketika kami berantem sebelum tidur, salah satu di antara kami akan sengaja melewatkan kebiasaan ini—hanya untuk membuat kesal yang lain.

24 Oktober 2016 adalah tepat 1st anniversary kami, dan saya sempat bertanya pada dia di sambungan telepon ‘Mas, kita dalam setahun ini udah berapa kali berantem ya kira-kira?’ lalu dia jawab ‘Ya itu 365 hari aja dibagi 2’ hahaha.. iya, kami memang sering sekali berantem. Selain karena kami LDR, kami juga punya sifat yang keras. Dia keras hati, dan saya keras kepala. Hanya saja, karena begitu seringnya kami saling menjalin komunikasi, kami menjadi sangat merasa begitu kehilangan setiap kali kami sama-sama bertahan dalam ‘diam’ kami saat berselisih. Namun seperti yang pernah saya tulis di instagram, bahwa kami tidak pernah membiarkan marah kami bertahan lebih dari satu hari. Well, saya pernah sih bertahan diam sampai nyaris 2 kali 24 jam, namun itu hanya terjadi 1 kali di selama 1 tahun kami bersama. Itu juga karena saya marah sekali padanya. Dan saya tahu, dia pun bisa memahaminya. Karena saya tidak pernah seperti itu sebelumnya.

Lalu saya tersadar, bahwa hubungan itu selalu berjalan bagaimana kita terbiasa membiarkan hubungan itu berjalan. Saya dan dia, tidak pernah membiasakan untuk lama-lama dalam diam—maka kami pun selalu menganggap hal luar biasa pasti sedang terjadi di dalam hati kami, bila salah satu di antara kami sampai memilih untuk diam. Saya sering sekali ngeyelan, dan dia sering sekali galak. Karena memang itu sudah jadi tabiat buruk kami yang paling utama. Kedua hal ini jadi yang paling mudah memicu pertengkaran di antara kami, dan beberapa bulan belakangan ini lah, kami baru mulai pandai saling mengalah tanpa harus merasa sedang ‘kalah’. Itu butuh proses. Itu pun butuh kejujuran yang tiada henti. Kami berdua, tidak terbiasa berpura sedang ‘baik-baik saja’, bila salah satu di antara kami merasa terganggu, kami pasti akan dengan senang hati menceritakannya. Dan setiap malam sebelum kami tidur, adalah waktu yang paling baik untuk mengatakan ‘terima kasih’ bila salah satu di antara kami telah bersedia mengalah, agar kami tetap bisa berbahagia.

I don’t know apa ini akan juga bisa terjadi di dalam hubungan yang lain, tapi ini sangat berpengaruh di dalam hubungan kami. Dan tidak seperti pasangan yang sedang PDKT dan bisa selalu menerima setiap tantangan, pasangan yang sudah bersama untuk beberapa lama, akan lebih egois. Karena merasa lebih memiliki dari yang sebelumnya, karena merasa lebih berhak atas yang lainnya. That’s bad, kalau dibiarkan menjadi kebiasaan.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berbincang dengan teman yang sudah menjadi seorang suami dan ayah. Dia bilang, ‘Biasanya di tahun ketiga pernikahan laki-laki akan merasa bosan pada istrinya. Dan pilihannya hanya dua; setia atau selingkuh’. Mendengarnya saya cukup terkejut. Dia lalu melanjutkan ‘Dan sangat sedikit laki-laki yang bisa jujur pada istrinya—kalau dia sedang bosan. Karena rasa takut akan menyakiti’.

Saya cukup tergelitik dengan pengakuan ini, karena tidak lama sebelumnya juga seorang teman perempuan saya pun, yang sudah menjadi istri dan ibu sempat curhat ‘Dateng ke kantor itu hiburan banget buat aku. Setelah seharian bareng anak dan suami di rumah. Ketemu setiap hari sama mereka. Bahkan aku pernah ngerasa happy banget waktu tugas luar kota. Aku bisa bangun sesukaku, dan tidur sesukaku’.

Wow bukan? Dan bukan berarti mereka berdua adalah istri atau suami yang jahat. Mereka hanya manusia. Manusia pasti bisa merasa bosan, pasti bisa merasa lelah, pasti bisa merasa ingin yang lain. Tapi di situlah letak indahnya iman dan cinta. Ketika kamu bersedia melepaskan ego demi kebahagiaan mereka yang telah menjadi bagian baru di dalam dirimu–keluargamu. Suamimu. Istirmu. Anak-anakmu. Saat kamu benar menemukan makna indah dibalik kesediaan untuk mengalah.

Saya juga sempat bertanya pada teman laki-laki saya, ‘Punya anak bahagia banget pasti ya? Apalagi anak ini sudah lama dinanti?’ dia kemudian tersenyum dan bilang ‘Aku kemarin baru baca kata mutiara; dibalik berkah yang besar, selalu ada tanggung jawab yang lebih besar. Luar biasa bahagia itu jelas, sampai akhirnya dihadapkan pada tuntutan hidup yang lebih besar, karena sekarang aku juga punya tanggung jawab sebagai ayah.’

Tantangan untuk menjadi dewasa tidak akan pernah putus hingga akhirnya nyawa kita diputus oleh Tuhan. Dengan mau mendengarkan, dengan itu pula kita bisa belajar memamhami apa yang belum kita hadapi. Tulisan ini hanya sekedar berbagi—semoga bisa berarti buat kamu juga ya. Yuk, kesayangannya kamu juga didengarkan inginnya.

And hai Mas sayang, happy anniversary yaaaah. Kalo ngegombalnya sih udah sering ya tiap hari. Biar jadi bahagianya kita berdua aja ya hehehe. Teruslah jadi seperti ini. Menyayangiku tanpa membebaniku dengan janji-janji manis. Ayo mendewasa bersama—sampai akhir nafas kita  🙂

IF I’M NOT THE GIRL, JUST SAY IT

pic credit: favim
pic credit: favim

Entah sejak kapan istilah PHP muncul ke muka bumi ini. Mungkin sejak zaman social media jadi ajang eksistensi banyak orang, sehingga semakin banyak media untuk anak muda ‘ngarep’ dan ‘ngarep’. Nggak bisa dipungkiri dong kalau PHP biasanya dateng dari cowok, ya well—walau pun nggak sedikit juga cewek yang suka sengaja ngasih harapan kosong—but hey, ini blog cewek, jadi kita bakalan bahas dari sudut pandang kita dong ya :p

Nggak ada deh cewek yang suka di-PHP-in, apalagi ditinggalin gitu aja abis dikasih sejuta harapan. Let me tell you something, yang ini sebenernya udah jadi rahasia umum di kalangan cowok-cowok. ‘Dapetin hatinya cewek itu gampang, kasih aja dia perhatian nggak putus-putus, terus ngilang deh. Pasti mereka bakalan kelabakan ngerasa kehilangan’. That’s so sh*t  I know, but well, face it girls, kita emang kadang se-mudah-itu-buat-ditaklukin.

Jadi, jangan mau lagi dibegitu-in. Kita nggak layak dapet perlakuan PHP—dan lebih nggak pantes lagi jatuh hati sama cowok yang bahkan nggak berani buat bilang ‘I’m not into you’—dan ngilang begitu aja. Kenapa? Ya karena kita memang berhak dapet kepastian!

No drama please

Ya Allah, hidup jadi anak muda di masa sekarang tekanan udah banyak banget loh. Sekolah and kuliah berjam-jam, belom masih ditambah les ini itu, belom lagi tuntutan pergaulan yang kadang bikin kita harus ada di tempat yang nggak kita suka, belom lagi bikin alis yang makan waktu dan kesabaran luar biasa, masa iya sih masih harus merana gara-gara gebetan tau-tau punya ‘hobi baru’ bales pesan kita dengan dua kata ‘ya’ dan ‘ngga’. Kalo emang nggak mau lagi ngobrol, bilang kek. Nggak usah pake segala nyuekin dan bikin kita jadi mikir kalo kita abis bikin salah.

Cewek itu strong tau

Kadang cowok suka ngerasa cewek itu drama banget kalo harapannya kandas, padahal tanpa mereka sadari ya drama ini dateng dari sikap cowok yang nggak jelas. Malem masih bilang kangen, tau-tau besoknya udah lupa nyapa selamat pagi. Cowok suka segala pake ngerasa ‘ngejaga perasaan’ dan akhirnya nggak tega buat bilang kalo ‘kayanya kita sampe di sini aja’. Kami itu emang cewek, tapi kami bisa kok nelen yang pait-pait. Karena apa? Karena kami juga berhak buat tahu perasaan cowok yang sebenarnya. Kalau emang udah bosen, kalo emang ternyata ketemu yang lebih baik. Well, just say it guys. We will cry, but we will get over it (much sooner).

The worst part

Perasaan terburuk dari di-PHP-in adalah ketika cewek akhirnya bertanya-tanya hal apa yang kurang dari dirinya sampe bikin gebetannya gone. Terus setelah akhirnya secara surprise ngeliat cowok yang selama ini deket jadian sama perempuan lain, mulai deh cewek doyan ngebanding-bandingin diri sendiri sama cewek pilihannya itu. Belom lagi akan dimulai stalking tiada akhir. Sampe akhirnya kena block mantan gebetan (hadeh ada aja), makin jadi deh sedihnya. Girls, we don’t deserve it. Please don’t do this. You are beautiful and precious.

If he really wanted to be with you, you wouldn’t have to try so hard

And it’s true Squad. Kalo dari awal selalu harus kamu yang usaha. Selalu harus kamu yang nyapa duluan. Selalu harus kamu yang ngajak jalan. Well, maybe you just fall for the wrong guy. Jadi mungkin aja PHP ini dateng dari situasi yang kamu create sendiri dari awal. Love is take and give. Padahal nyatanya dia emang nggak pernah bilang apa-apa ke kamu yang itu menjurus ke perhatian yang lebih dari temen, tapi kamu aja yang ngerasa dia punya perasaan lebih. Siapa tahu kan dia emang cowok tipe tebar pesona, atau cowok yang emang baik ke semua orang.

Jadi fix kan, kalo sebagai manusia kita nggak layak di-PHP-in dan nggak juga boleh ngebiarin diri kita terbuai sama harapan yang nggak nyata. Dan buat cowok, bersikaplah selayaknya pria sejati. If I’m not the girl you are looking for, just say it!

falafu

dipublish juga di http://www.amazara.co.id