Yakin kah, kamu?

Setiap kali membuka DM pertanyaan ini sering kali muncul : Kak, apasih yang bikin kakak akhirnya yakin kalau suami kakak yang sekarang adalah jodoh kakak?

Honestly , kita nggak akan pernah bisa 100% percaya bahwa sesuatu akan benar terjadi—kecuali sesuatu itu adalah ajal. Siapa ya kan, yang bisa hidup abadi di dunia ini. Nggak ada. Even pun sama ‘kematian’ yang notabene kita tahu pasti bakalan terjadi aja, kita tetap kerap abai sama ibadah yang bakalan jadi satu-satunya pegangan kita setelah meninggal nanti. Apalagi cuma perihal jodoh. Kenapa saya bilang ‘cuma’ di situ, karena cinta itu syarat dengan nafsu. Banyak sekali syeitan yang mengganggu kita saat kita sedang jatuh cinta, karena di masa itu kita beneran lemah. That’s why masih banyak aja yang suka ketipu sama janji palsu, atau yang lagi-lagi dikecewain sama orang yang sama. Hayo ngaku? Hehehe. Ya karena itu tadi, biasanya ‘cuma soal cinta’ yang kita jadi tolak ukur, apakah seseorang beneran jodoh kita apa nggak. Bukan soal ridhonya orangtua, apalagi ridhonya Tuhan. Kita terlena hingga rela melakukan apa saja. Bahkan melakukan hal-hal yang jelas Tuhan larang—yang pada akhirnya membuat kita merasa tidak berarti, saat cinta yang kita pertaruhkan ternyata hanya omong kosong.

Saya pernah menulis, “kenapa sih pas PDKT rasanya lebih indah dari saat pacaran? Kenapa pas pacaran rasanya lebih manis daripada pas nikah? Ya karena pas PDKT dan pacaran lebih banyak syeitan yang mengganggu kita—yang bikin segalanya jadi terasa luar biasa mempesona. Namun saat pada akhirnya kita menikah dan menyempurnakan ibadah kita, godaan syeitan pun pasti berkurang.”

If I could turning back time, saya nggak bakalan mau pacaran sebelum saya menikah. Saya masih merasa sangat beruntung karena hanya menjalani 1 tahun pacaran, itu pun LDR. Kami bertemu sesekali saja, yang jelas sudah menabung banyak dosa, sebelum akhirnya kami halal melakukan apa saja yang kami mau. Saya termasuk beruntung, karena saat saya mulai dekat dengan suami, dia sudah lebih dulu mengajak untuk berhubungan serius—karena tidak semua orang bisa mengalaminya. Anggaplah itu adalah hasil dari doa orangtua saya—dan doa saya pada Allah SWT. Saya kerap berdoa “Ya Allah saya mau dipertemukan dengan satu yang akan tinggal selamanya di sisi saya.” Mungkin itu kenapa juga, saya lama hidup melajang. Bukan perkara tidak ada pria yang mendekati, tapi jujur saja setelah patah hati terakhir yang saya alami, saya merasa kebanyakan pria sama saja–mereka sulit untuk setia pada satu hati. Saya bahkan mulai tidak yakin ada benar manusia yang bisa membenci kebohongan, sebesar saya membenci kebohongan itu sendiri.

Jadi kalau ditanya apa yang membuat saya pada akhirnya yakin kalau suami saya adalah jodoh yang Allah pilih; pertama adalah karena sejak awal dia sudah menyatakan keseriusannya. Dengan datang ke rumah, berkenalan dengan keluarga saya—tanpa saya harus pinta. Dia pun mengajak saya untuk menikah, di saat saya memang siap untuk menikah. Saya selalu merasa Tuhan datangkan dia ‘di saat yang tepat’. Tidak terlalu lama dan tidak terlalu terburu-buru. Allah adalah pemilik alam semesta dan seisinya. Kalau kita minta, makan mintalah hanya pada Allah SWT. Rayu Allah dengan cara menjaga diri sebagai perempuan tahu batasan dosa, dengan bersedekah yang banyak (kalau kita bisa nabung buat beli hp, kenapa kita nggak bisa nabung buat kurban setiap lebaran haji–padhaal harga kambing sama hp mahalan hapenya). Kalau dosa dengan lawan jenis saja kita lakukan setiap hari tanpa merasa berdosa, apa hak kita merasa pantas Allah beri jodoh yang terbaik?

Hal kedua yang harus benar diperhatikan adalah bagaimana hubungan calon suami kita dengan keluarganya. Terutama dengan ayah dan ibunya. Kalau pria, lihat bagaimana dia memperlakukan ibunya saat mereka bersama. Itu kenapa, mengenal keluarga dengan baik adalah keharusan. Menikah itu bukan hanya soal menyatukan 2 hati, tapi 2 keluarga. Bukan hanya soal apa kamu sanggup menghadapi suamimu seumur hidupmu. Tapi apakah kamu sanggup menghadapi mertua juga adik-kakak baru yang kamu miliki dan menganggap mereka seperti keluargamu sendiri. Apalagi untuk seorang perempuan dalam islam. Hal yang harus diutamakan oleh suami adalah ibunya. Apa kamu akan sanggup menahan egomu untuk selalu mendahulukan ibu mertuamu, bahkan dibanding ibumu sendiri?

Saya personal sering mendengar curhatan teman soal bagaimana menyebalkan ibu mertua mereka, yang padahal ya seharusnya bisa mereka tahan untuk tidak mereka ceritakan pada saya. Jadi sebelum benar memutuskan untuk menikah, kamu harus paham betul di mana posisimu sebagai perempuan. Mungkin sebagian masih menganggap peraturan Allah ini menyulitkan. Tapi one day if you have a child you will understand. Apalagi kalau one day kamu bertemu dengan pria yang kamu impikan, kamu harus sadar betul, bahwa pria itu lahir dari rahim ibunya dan dibesarkan dengan kasih sayang ibunya. Hingga kini ia bisa menjadi pria yang capable untuk menjaga kamu dan juga anak-anakmu. Membesarkan anak itu tugas yang luar biasa berat. Apalagi membesarkan anak yang di kemudian hari bisa jadi suami yang bertanggung-jawab dengan pasangannya.

Intinya, jangan memilih kucing dalam karung. Bila pun sekarang kamu LDR dengan pasanganmu—usahakan kamu tetap bisa mengenal baik keluarganya. Ini pun bisa meminimalisir kemungkinanmu salah melakukan penilaian pada pasanganmu, atau dibohongi oleh pasanganmu sendiri. Trust me, setelah menikah kamu akan surprise melihat kebiasaan hidup pasanganmu. Setidaknya, kamu surprise bukan karena kebohongan yang dia buat sebelum kalian menikah.

Lalu, apa kamu bisa menerima kekurangannya terburuknya, seumur hidupmu? Kamu tahu, saya selalu percaya kalau cinta itu bukan tentang mampu menerima kebaikan yang ada di dalam diri seseorang, semua orang bisa melakukannya. Cinta adalah tentang bersedia menerima kelemahan-kelemahan dan terus menjadi suporter nomor satu seseorang untuk bisa jadi manusia versi terbaiknya. Sebelum menikah, kita mau buang angin di depannya saja gengsi kan? Atau at least kita ingin selalu terlihat dalam versi terbaik yang kita punya. Namun saat sudah berumah tangga you’ll be around him like every single day—mau ditutupin gimana juga, jeleknya kita pasti akan ketemu juga. Begitu pun jeleknya dia. So be ready, jangan pernah menikah dengan seseorang yang tidak sepenuh hati kamu butuhkan kehadirannya di dalam hidupmu. Karena pada akhirnya, sesuatu yang bisa membuat seseorang tetap tinggal adalah iman dan rasa saling membutuhkan.

Keras kepala pada hal buruk yang benar-benar tidak bisa kamu terima terkadang perlu. Setidaknya agar hubungan yang kamu jalani bisa lebih sederhana terlewati. Contohnya, saya paling nggak suka perokok. Saya selalu keras kepala untuk nggak pernah mau punya pasangan perokok. I mean, saya nggak mau buang waktu buat ngingetin ayah dari anak-anak saya seberapa berbahayanya asap rokok bagi istri dan anak-anaknya. Atau ribet minta pasangan saya berhenti merokok, yang ujung-ujungnya bakalan nambah materi buat berantem. Saya juga nggak pernah mau punya pasangan yang nggak kenal sama Tuhannya sendiri. Apalagi yang sholat aja mesti diingetin terus, atau dipaksa-paksa. Oh my God, I have no time for that. Jadi mau seberapa pun menariknya cowok, kalau dia termasuk golongan yang saya sebutkan tadi—saya nggak pernah berniat buka hati saya. Alhamdulillahnya, Allah kasih saya suami yang nggak merokok—yang sebenarnya adalah mantan perokok berat. Yes, sehari biasa habis 2 bungkus rokok—tapi pas Allah temuin ke saya, dia sudah stop merokok.

Kadang saya suka mikir, memang Allah selalu mengantar segalanya tepat pada waktunya. Selama kita konsisten dengan harapan dan doa-doa baik yang kita punya. Kenapa? Karena saya sebenarnya kenal dengan suami saya sejak tahun 2012, saat itu dia PDKT tapi entah kenapa menghilang begitu saja. Katanya dia merasa saya nggak merespon, jadi ya dia cabut. Di tahun 2012 itu dia masih merokok, bangun tidur ngerokok, boker ngerokok, abis makan ngerokok, ngelamun ngerokok pfftt. Tapi di tahun 2015, saat kami dipertemukan kembali, dia sudah berhenti merokok. Jadi sewaktu dia PDKT, saya open-open saja. Oh iya, di tahun 2012 itu saya tidak tahu kalau dia perokok ya hehe. Untuk hal yang satu ini saya sangat bersyukur. Allah baik banget 🙂

***

Tidak jarang kita hanya mengenal apa yang baik-baik dari pasangan kita tapi tidak berhasil mengenalnya dengan baik. Kita terpesona karena dia adalah sosok yang sopan, yang dewasa, yang lucu, yang pengertian dan bertanggung jawab. Tapi kita tidak tahu bahwa segalanya bisa hilang saat seseorang dipeluk amarahnya sendiri. Mengenal baik pasangan adalah berarti tahu betul wajah yang jarang atau bahkan tidak pernah sekali pun ia perlihatkan pada orang lain—bahkan mungkin padamu karena kalian tidak pernah menghadapi permasalahan yang memaksa kalian untuk saling egois once in awhile.

I don’t say kalau selalu bertengkar itu baik, tapi pertengkaran itu ada baiknya untuk dibiarkan terjadi karena tidak mungkin dua kepala bisa jadi satu tanpa ada perbedaan dalam memandang sesuatu. Saat kita tahu apa yang tidak disukai pasangan kita, maka kita akan dipaksa mencari jalan keluar bersama yang bisa membawa hubungan naik ke level yang lebih tinggi dari sekedar hubungan yang ‘selalu mengalah’. Percayalah bahwa ada banyak sekali pasangan yang memilih untuk berbohong hanya karena enggan menghadapi pertengkaran atau perselisihan. Dipaksa bukan karena terpaksa memahami adalah hal baik. Karena tidak jarang kita terlalu lembek pada diri kita sendiri, pada mimpi-mimpi kita sendiri.

Saat akhirnya kita memasuki hubungan yang lebih dari sekedar menghabiskan malam minggu bersama—tapi menghabiskan seumur hidup bersama, memiliki komitmen untuk bisa saling mencintai dengan cara yang bijaksana adalah keharusan.

Jadi hal lain yang perlu kamu tahu betul adalah, apakah  kamu bisa dan bersedia menghadapinya saat dia marah, seumur hidupmu? Dan apa dia juga bersedia melakukan hal yang sama.

***

Dan di atas segalanya adalah nomor satu untuk melihat akhlak juga keimanannya. Walau dalamnya hati manusia tidak ada yang tahu. Namun setidaknya, dia mengenal Tuhannya, tanpa harus dipinta.

Advertisements

I’m Blessed

Ketika pada akhirnya, kami selalu merasa beruntung karena bisa saling memiliki. – falafu

Saya jauh sekali dari sempurna sebagai seorang istri, apalagi seorang ibu. Tapi saya tahu betul kalau saya sedang mencintai mereka berdua. Suami dan anak saya. Kebiasaan paling buruk yang susah sekali untuk saya hilangkan adalah ‘cengeng’, saya mudah sekali menangis. Saya pernah menulis dulu, kalau saya punya ayah yang galak—yang sering membentak anak-anaknya—yang kemudian membuat perasaan saya mudah sekali terluka. Walau hanya begitu bila berhadapan dengan orang-orang yang saya sayangi. Saya bisa dimarahi, dibentak, atau bahkan dipukul oleh orang lain dan saya bertahan untuk tidak menangis, tapi bila yang melakukannya orang terdekat saya air mata saya pasti sudah banjir di pipi.

Itu yang membuat saya sejak dulu selalu merasa kalau saya adalah manusia yang sulit untuk dihadapi. Pria yang akhirnya mau menerima kekurangan saya ini, pasti harus berjuang untuk bisa terus mencintai saya. Itulah yang suami saya harus hadapi sejak jatuh cinta pada saya. Dia sulit sekali menemukan cara untuk tidak membuat saya menangis bila kami dihadapkan pada suatu masalah. Karena melihat tatapan dia yang jutek saja, saya pasti langsung defensif dan menangis. Apalagi suami kebetulan orangnya galak wkwk (in a good way), jadi selama satu tahun pernikahan kami—kami berusaha keras untuk saling mengontrol ke-egoisan. Saya dengan ke-keras-kepalaan saya, dan dia dengan ke-kerasan hatinya. In the end, we’re aren’t perfect. Far far a way from that.

“I don’t want you to love me because I’m good for you, because I say and do all the right things. Because I am everything you have been looking for. I want to be the one you didn’t see coming. The one who gets under your skin. Who makes you unsteady. Who makes you question everything you have ever believed about love. I want to be the one who makes you feel reckless and out of control; the one you are infuriatingly and inexplicably drawn to. I don’t want to be the one who tucks you into bed; I want to be the reason why you can’t sleep at night.” — Lang Leav

Saya dan suami sudah sangat tahu ini sejak kami pacaran, sometimes I don’t know why we still stick together dan bahkan memutuskan untuk menikah. Kalau penjelasan gampangnya ‘ya mungkin emang udah jodohnya’, but hey.. there’s no such a thing as ‘gampangnya’ in relationship. Karena setelah saya pikirkan lebih dalam, kami berdua memang sama-sama keras kepala kalau kami itu pasti bisa jadi lebih baik bila sama-sama. Setiap kali kami selesai cekcok, pasti kami sama-sama mengatakan ‘nggak ada perempuan yang bisa ngadepin mas, kecuali adek. Beruntung banget lo!’ either pun suami akan bilang ‘nggak ada laki-laki yang bisa ngadepin adek, kecuali mas.. yang ada mah adek lah yang beruntung!’

Yap. Still. After long long complicated problems between us. Kami selalu merasa kalau kami beruntung bisa saling memilki saat ini. Jadi apakah kamu sudah yakin kalau kamu dan dia sama-sama merasa beruntung?

Jelas, setelah kita menikah, cuma pasangan yang tahu busuk-busuknya kita. Bahkan lebih tahu dibanding orangtua kita sendiri. Itu kenapa Allah selalu mengingatkan kita untuk saling bersikap selayaknya pakaian bagi pasangan kita masing-masing. Sebagai penutup aib dan kebanggaan. Cuma saya yang tahu, seberapa bau kentut suami saya kalau dia udah 2 hari nggak pup! Juga cuma dia yang tahu se-jelek apa muka saya kalau seharian nggak sempet mandi dan sleepless karena jagain bayi. Atau kebiasaan jorok saya yang lain. Apa kami saling memperlihatkan itu pas masih pacaran? YA NGGAK MUNGKIN LAH. GENGSI WKWK.

Kehidupan pacaran dan berumah tangga sangat jauh berbeda. Begitu pun soal financial, uang bisa jadi hal yang paling sering bikin rumah tangga bubrah. Kalo pas pacaran, cowok pasti bakalan berusaha buat treat well pasangannya demi gengsi. Tapi setelah menikah, kalian berdua harus sama-sama paham mana kebutuhan yang harus dipenuhi, mana yang cuma keinginan tidak penting. Apalagi saat sudah memiliki anak. Sebelum menikah, sebagai perempuan, kita harus belajar mandiri dan nggak banyak maunya. Jangan sampai bikin suami sedih, karena dia ngerasa nggak bisa bikin kita bahagia.

Ada kalanya suami harus nabung supaya bisa ajak saya traveling cantik dan bikin saya happy. Terus pas sebelum tidur dia bilang kalo hari itu dia bahagia karena udah bisa bikin saya happy, at that moment, saya merasa sangat beruntung sekali dicintai laki-laki seperti dia. Segala kurangnya yang lain? Saya masih sanggup menerimanya. And then I realized, kalau standard kita yang terlalu ini itu soal kriteria pasangan hidup tidaklah terlalu penting untuk dipertahankan. Selagi kita menemukan seseorang yang bahagia saat mencintai kita itu sudahlah cukup. Karena dia pasti akan selalu berusaha untuk membuat kita bahagia—bahkan tanpa kita harus memintanya.

Wajah kece? Mobil keren? Rumah mewah? Is that so important? Mungkin untuk sebagian orang iya, tapi tidak untuk saya. Semuanya cuma bonus saja dari Allah. Bukan sebagai parameter apakah hidup saya bahagia atau tidak bersama dengan dia.

I tell you someting, dulu sekali, saya pernah hidup sangat kecukupan. Tapi saya punya kakak yang nakal sehingga ibu saya terkadang kurang perhatian pada saya karena tenaganya sudah habis untuk menghadapi tingkah laku anak-anaknya yang lain. Juga punya ayah yang terlalu sibuk bekerja hingga hanya bisa bermain bersama anaknya saat weekend, itu pun kalau beruntung dia tidak ada pekerjaan saat akhir pekan tiba.

Kita selalu merasa berhak memiliki segala sesuatu melebihi porsi ‘cukup’, meminta dan berdoa sepanjang waktu untuk bisa mendapatkannya. Dan saat Tuhan kasih, ternyata menerima segala yang berlebih tidak sesederhana itu untuk dijalani. Bapak saya pernah bilang, laki-laki itu, kalau sudah punya uang terlalu banyak, sudah merasa bisa mencukupi kebutuhan anak dan istrinya, sudah bisa beli apa saja yang dia mau. Pasti ujung-ujungnya ya lari ke perempuan (selingkuh)—kalau dia tidak punya landasan iman yang kuat.

Contohnya? Buanyak! Gampangnya, bisa dilihat diinfotaiment. Karenanya, sejak dulu doa saya pada Allah hanya satu, saya ingin diberi pasangan yang setia karena ia sepenuhnya beriman. Sayang keluarga dan cintanya tidak sekedar karena apa yang terlihat—tapi juga apa yang ada di dalam hati saya. Fisik? Fisik bisa berapa lama bertahan, kecuali kamu Kylie Jenner atau keluarga Kadharshian (bener nggak sih ini nulisnya -_-), kamu nggak mungkin bisa punya body nyaris sempurna setelah kamu melahirkan anak-anakmu. Tidak hanya body, kekuatanmu juga pasti berubah. Karena saat hamil, tubuhmu membentuk kehidupan baru.

Suami yang mau bantu gendong anak pas rewel, nyuci baju pas istrinya sakit, atau gantiin belanja ke pasar pas istrinya hamil—jauh lebih penting dari harta benda yang berlebih saat kita sudah menikah. Alhamdulillah kalau bisa punya keduanya sekaligus (semua orang juga berharapnya seperti itu). Setidaknya itu yang saya rasakan—setelah 1 tahun pernikahan. Semoga bisa kasih kamu sesuatu, setelah baca posting ini 😀

PS:

Hari Sabtu, ART lagi nggak masuk jadi harus beberes rumah cepet-cepet. Alhamdulillah bayi tidur dan sejak kemarin banyak DM yang nanya kapan saya posting blog lagi. Semoga omongan ngalur ngidul saya bisa ada gunanya ya hehehe. Mau nulis yang galau-galau momennya lagi nggak dapet, padahal ya di luar lagi hujan. Kamu yang masih setia nungguin update-tan saya, terima kasih ya—sudah selalu membuat saya merasa ada manfaatnya hidup di bumi ini 🙂

Bersedia Hadir

Pic credit: @ari.nunnunano

Kalau ada yang paling saya inginkan dari seseorang yang saya sayang adalah waktu dan juga kesabaran. Saya tidak begitu peduli soal sebanyak apa dia bisa memberikan materi juga janji—bila dia tidak bisa menyediakan waktu dan tidak mampu menghadapi kelemahan saya. Ada banyak waktu ketika saya harus menghadapi pasangan yang lebih banyak mengambil keuntungan dari keberadaan saya, daripada berusaha untuk memberi kehadiran di saat saya membutuhkan dirinya. Well dulu saya memang sepolos dan se-naif itu. Saya tidak berpikir banyak soal apa saya sedang dimanfaatkan atau saya sedang senang menjadi bermanfaat untuk dia yang saya sayang. Tapi menjalani yang demikian ternyata sangat melelahkan. 

Saya ingat ada momen di mana orang yang saya sayang sudah bisa melangkah lebih jauh di depan dan dengan begitu saja meninggalkan saya tanpa aba-aba. Dia berhasil menemukan kebahagiaannya yang lain lebih dulu, dan dengan senang hati memamerkan kebahagiaan itu. Bodohnya, saya bahkan tidak sanggup kecewa padanya—saya justru lebih suka mencari-cari apa yang salah yang ada di dalam diri saya sampai dia tega melakukan hal seperti itu. Saya mulai menyalahkan banyak bagian dari diri saya, kemudian merasa tidak pantas untuk dicintai dengan baik. 

Padahal apa yang menjadikan saya dan dia pada akhirnya tidak bisa bersama adalah karena salah satu di antara kami memang sudah tidak bersedia ‘hadir’ untuk yang lain. Sehingga tidak ada yang perlu ditanyakan—bila akhirnya justru menyakitkan. Saya hanya perlu lebih berani untuk menyayangi diri sendiri—sehingga tidak lagi ada seseorang yang saya biarkan hadir hanya untuk menjadi hal yang kelak saya sesali.

Ini menjadi pengingat yang baik, bahwa tidak ada cinta yang hadir bila tanpa kesediaan untuk selalu saling hadir. Bahwa waktu adalah hal terbaik yang bisa diberikan oleh seseorang yang mengatakan bahwa kamu adalah segalanya baginya. Tanpa keduanya, maka bisa jadi kamu sedang menjalani omong kosong terpahit dari jatuh cinta sepihak.

The Human Heart is Curved Like A Road Through Mountain

Banyak hal-hal yang belum terjadi namun begitu mengusik kita. Kita membiarkan diri kita berpikir terlalu keras untuk hari esok, sehingga lupa untuk menikmati apa yang masih kita miliki di hari ini. Saya termasuk manusia yang agak ribet soal mengambil keputusan-keputusan yang sepele. Itu kenapa saya harus berkali-kali mengingatkan diri saya sendiri untuk enjoy the moment while I can. Besok pasti akan baik-baik saja, selama kita menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya. Kalau pun ada keputusan yang keliru saya ambil pada akhirnya, saya hanya perlu merelakannya saja. Menerima konsekuensi dari kecerobohan saya itu—dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. 

Karena apa? Karena pada akhirnya waktu akan terus berjalan, dan segala kesedihan juga kemalangan yang datang akan punya waktunya untuk pulang. Saya pernah menulis bahwa apalah hidup tanpa kekhawatiran, namun apalah hidup bila hanya berisi kekhawatiran akan hal-hal buruk yang belum tentu terjadi? 

Dulu setiap kali patah hati saya kerap takut untuk memulai lagi. Begitu banyak ‘bagaimana’ yang saya biarkan hidup memenuhi hati saya. Bagaimana bila gagal lagi? Bagaimana bila harus mengulang kembali segalanya dari awal? Bagaimana kalo nyatanya tidak ada seorang pun yang sanggup menyayangi seseorang yang rumit seperti saya? Bagaimana bila ternyata kekecewaan hanya mengubah wajahnya saja? Akan melelahkan pastinya. 

Namun, di mana hidup yang tidak melelahkan? Nyatanya untuk setiap lelah yang datang, kamu selalu punya waktu untuk mengistirahatkan semestamu. Tidak ada yang berhak memaksamu untuk selalu kuat atau untuk selalu tegar. Kamu hanya perlu untuk bertahan agar bisa tetap selalu percaya. Pada apa saja yang bisa membuatmu utuh kembali. Karena sekali saja kepercayaan itu hilang dari dalam hatimu—segala yang ada di dalam dirimu akan meredup. Saya? Kepercayaan saya ada pada Tuhan. Saya akan selalu kembali pada-Nya, setiap kali saya mulai ragu dan khawatir. Dia adalah sebaik-baiknya pendengar, dan sekuat-kuatnya penuntun. Setidaknya itu yang saya percaya 🙂

Kita boleh jadi pengecut untuk bilang cinta. Tapi tidak boleh jadi pengecut untuk bisa berbahagia di atas kaki kita sendiri. Bahagia milik saya hari ini—tidak ada hubungannya dengan segala hal buruk yang pernah terjadi di masa lalu. Setidaknya, saya tidak akan pernah membiarkan itu terjadi (lagi). Karena mereka yang saya sayangi dan saya miliki saat ini, jauh lebih bernilai dari segala kekhawatiran akan hal-hal yang belum tentu terjadi.

Fa, 24 September 17

I WOULDN’T ASK FOR MORE

Belum lama ada yang bertanya pada saya, bagaimana cara menguatkan diri untuk pergi ikut dengan suami yang tinggal atau bekerja di kota yang asing bagi kita. Lalu kita harus berpisah jarak dengan keluarga dekat, harus rela melepaskan pekerjaan yang selama ini mengisi separuh dari hidup kita, dan harus ikhlas pergi demi dekat dengan suami.

Tentu saja setiap orang dihadapkan dengan kondisi yang berbeda-beda. Tapi saya yakin ini tidaklah mudah untuk perempuan mana pun. Tidak harus pergi jauh ke kota seberang saja, sudah berat. Karena pada akhirnya kita harus melepas rumah yang melahirkan dan membesarkan kita; yaitu keluarga. Apalagi harus juga pergi dari zona nyaman kita. Teman-teman dekat, teman-teman kantor, daily activity yang sudah jadi HIDUP kita selama ini. Everything we know for living. 

Kebetulan, bisa dibilang sebelum bertemu dengan suami, saya tinggal sendiri di Jogja. Ayah saya memang juga tinggal di Jogja, tapi karena jarak rumah dan kantor yang cukup jauh, saya hanya bisa menemaninya saat weekend saja. Beberapa tahun ke belakang juga ayah saya lebih sering berada di Jakarta. Jadi saya totally alone. Mantan pacar saya, atau yang bisa saya panggil suami saat ini, adalah seorang sahabat jauh yang dengan berbagai usaha komunikasi hubungan LDR kami, dia selalu berusaha menemani saya. Membuat saya merasa tidak seorang diri.

Kebetulan juga, saya tidak punya sahabat di Jogja, semua sahabat saya ada di Jakarta. Karena saya lahir besar di Jakarta. Terman dekat, adalah mereka yang biasanya saya temui di kantor. Kantor saya cukup hangat. I mean, suasan kantor sangat kekeluargaan, dan karena saya bekerja di dunia media, jam kerja kami sangat fleksible dan cara bergaul kami di kantor juga sangat santai. Pakaian kami santai, dan sebelum saya dekat dengan suami saya—bisa dibilang dulu kantor adalah rumah kedua saya. Saya sering sekali tidur di kantor, atau seharian berada di kantor hehehe.. setelah saya punya Fadli, dia tidak lagi mengizinkan saya tidur di kantor. Selarut apa pun saya harus pulang ke kos. Bahkan pulang malam pun, harus ada yang mengantar. Teman dekat saya di kantor kebetulan juga ada yang saya kenalkan padanya, jadi kalo saya pulang malam bersama teman dekat saya ini, Fadli pasti membolehkan. No more stay at office till mid night.

Anyway, bahasan panjang lebar itu sebenarnya agar kamu bisa memahami bagaimana kondisi psikologis saya sebelum akhirnya saya harus ikut dengan suami pergi bersamanya ke kota kecil di Sumatra. I have everything good around me. Friends and job that I love.

Jogja adalah kota yang spesial bagi saya walau pun saya tidak lahir dan besar di sana. Suasana Jogja yang sangat bersahabat dan apa-apa murah bikin saya betah banget. Ditambah lagi cuaca Jogja yang lebih menyenangkan dibanding Jakarta. Hobi saya nonton juga makan, dan Jogja adalah surganya kuliner enak. Saya juga hobi main ke book store, even ga beli buku apa-apa, saya memang sering mampir ke toko buku tanpa alasan. Jarak Gramedia dan kantor saya nggak sampai 1 Km. Every week, saya juga pasti nonton film ke bioskop. Even untuk film jelek yang tiketnya saya dapatkan dari promo radio, saya masih rela menontonnya. Karena saya sangat suka suasana bioskop. Bagi saya, nonton film ke bioskop adalah salah satu pelepas stress paling jitu, selain makan enak. Tapi di lain sisi, saya juga cukup kesepian di Jogja.

Karena saya jauh dari keluarga dekat. Rasa kesepian ini akan membludak ketika kondisi kesehatan saya menurun dan sendiri meringkuk di kosan, atau seperti saat saya harus mempersiapkan pernikahan saya dulu. So stressfull. Apalagi kalo teman yang saya ajak menemani saya pada nggak bisa dan menolak karena mereka memang punya kesibukan lain. Saya sedih banget dan sering nangis ke Fadli. Sering banget! Tapi ini juga suka malah jadi bikin Fadli sedih, karena dia juga nggak bisa temenin saya, jadi feel useless. Hari-hari berat itu silih berganti tanpa seorang pun (selain Fadli) tahu. Saya adalah tipe manusia yang cukup periang di pergaulan. Ya seberat apa pun beban yang orang tahu—itu nggak sampai 20 persen dari beban yang sebenarnya saya rasakan. Setiap kali saya ngerasa sendirian, Fadli pasti selalu bilang; “..besok kan sama-sama mas di sini. Besok adek nggak sendirian lagi. Sekarang pun begitu, walau pun kita jauh”. Sambil ngangguk-ngangguk air mata saya ngalir ke layar ponsel yang menempel di pipi. Yes. He’s everything to me. Even since we’re not living together.

Itu kenapa saya sering membayangkan, finally I met someone who want to live with me forever. I wouldn’t ask for more. Apalagi saya perempuan, dan saya pasti akan merasa secure ketika ada orang lain yang memang bertanggung jawab menjaga saya, dan orang tersebut adalah SUAMI. Itu kenapa, membayangkan suatu hari saya akan bisa hidup berdua bersama Fadli, selalu membuat saya bahagia. Tanpa harus ditambahi embel-embel soal pikiran;

Tapi kalo saya harus tinggal di kota kecil di Sumatra. Saya nggak akan bisa lagi nonton bioskop, karena bahkan kota itu nggak cukup besar buat punya Gramedia. Makanan di sana pasti rasanya beda sama makanan di Jawa dan bahkan Fadli nggak bisa menjanjikan saya bisa ketemu signal 3G. Pasti akan banyak sekali tempat makan yang saya kangenin banget di Jogja. Bakmi Jawa yang selalu nyelametin perut saya yang laper tiap pulang kerja kemaleman, atau bahkan mie ayam enak yang sering saya beli walau letaknya 1 jam perjalanan dari kantor. Belum lagi teman-teman dekat dan kondisi yang bikin saya akan semakin jarang bertemu dengan Ayah saya.

Tapi kalau saya tanya sama diri saya; “mau tinggal jauhan dari Fadli?” Jawabannya selalu NGGAK MAU. Apa pun yang terjadi, kami harus selalu dekat, dan sebenernya nggak pernah sedikit pun terlintas di kepala saya untuk stay di Jogja dan memperpanjang episode LDR kami. Fadli pun nggak bakalan mau sama saya kalau saya nggak mau menemani dia hahaha. Itu kenapa, sebelum mengajak saya serius, pertanyaan yang dia ajukan adalah apakah saya mau menemani dia tinggal di kebun sawit, karena di sanalah Allah SWT sedang meletakkan rejekinya. I never think twice to say yes. Never. Nggak ada pikiran; worth it nggak yah? Atau bakalan betah nggak yah? I can do it, if I’m willing to do it. Never limit my self. Fadli tahu ini akan berat buat saya, that’s why dia bertanya apakah saya ‘bersedia’.

Beruntungnya, saya dan Fadli adalah pasangan yang selalu mengedepankan kejujuran dan keterbukaan. Fadli nggak pernah menutup-nutupi hal pahit apa yang akan saya hadapi. Seperti apa kebun tempatnya tinggal, bagaimana pergaulan yang akan saya hadapi di sana, cuaca seperti apa yang akan saya rasakan, dll. Saya tahu ini, karena setelah saya sampai di kebun, banyak ibu-ibu lain yang di awal masa tinggalnya curhat sering menangis karena kaget dengan situasi yang harus mereka hadapi. Karena sebelumnya tidak pernah diberi tahu. Tapi saya sama sekali nggak kaget. Karena Fadli bilang semuanya. Kalau pun saya nangis, biasanya ya karena kami berantem drama-drama lebay. Percaya deh, kami berdua itu sering banget berantem hahaha.. sama kaya pasangan lain. Mungkin bahkan lebih drama. Alhamdulillah, kami selalu cepat baikan setelahnya.

Dan setelah saya jalani beberapa bulan ini apakah terasa berat? Yas. Super berat. Super stress. But I’m more than happy. Bisa masak buat suami, bisa becanda sama suami di kamar setiap dia pulang kerja, bisa main sama suami, bisa peluk suami setiap dia sakit, bisa sholat di-imamin suami setiap saat, bisa baca Al-Qur’an bareng, cium tangan suami setiap dia mau berangkat kerja-setiap selesai sholat, even bahkan bisa berantem langsung. Bisa ke pasar sama-sama, bisa minta pangku sebelum dia berangkat kerja, dan nggak ada yang bisa menukar luar biasa rasanya bisa denger dia bilang “my favorite time every single day” setiap kali kami pelukan pas mau tidur.

Menikah dan pacaran tentu saja dua kehidupan yang berbeda, juga dibangun dengan komitment yang berbeda. But I never regret this. Stay by him side no matter what. Kehilangan pekerjaan? Why? Rejeki bisa dicari lewat jalan lain. Jangan nggak percaya sama kuasa Tuhan kalau kita mau usaha dan meminta. Jangan takut kekurangan, bila kita percaya bahwa suami akan selalu bertanggung jawab mencukupi kebutuhan kita. Saya suka mikir, pemulung saja bisa hidup dengan mengais sampah. Cleaning service dengan gaji pas-pasan saja anaknya bisa sekolah sampai tamat sarjana. Kenapa kita yang jelas berpendidikan lebih baik, dan punya kehidupan yang lebih baik harus takut jatuh miskin hanya karena kehilangan jabatan atau gaji di kantor?

Saya masih bisa cari cara lain untuk beli make up sendiri, contohnya dengan menulis. Tapi saya tahu, even pun saya nggak nulis, suami saya pasti mau membelikan saya make up, agar wajah saya terlihat cerah di hadapannya. Bukan saya nggak setuju mereka yang memilih hidup sebagai pekerja kantoran dan istri, tapi saya sedang membicarakan bagaimana bila situasi yang harus kamu hadapi—memang menuntutmu untuk harus keluar dari pekerjaan dan menemani suami di tempatnya bekerja? Tapi kenapa harus merasa “dituntut” bila kamu memang tulus menyayanginya? Adil, bukan dia bisa bekerja dan saya harus bekerja. Keadilan adalah ketika kedua pihak bisa menjalankan kewajibannya, dan mendapatkan haknya. Seimbang. Saya tidak pernah sekali pun merasa dicurangi atau dirugikan. Saya tahu kondrat saya sebagai perempuan. Dalam islam, perempuan punya drajat yang sangat tinggi. Bahkan, Rosul menyebut ibunya empat kali, sebelum akhirnya menyebut ayahnya—saat ditanya siapa yang wajib beliau hormati dan sayangi. Itu kenapa, surga ada di bawah telapak kaki ibu. Saya ingin menjadi istri dan ibu yang demikian bagi suami dan anak-anak saya kelak. Ibu yang pantas diberi syurga di bawah telapak kakinya. Karena berhasil menjalankan kewajibannya dengan baik.

Jadi pilihan apa pun yang pada akhirnya kamu ambil, berusahalah untuk tidak meninggalkan peran barumu sebagai seorang istri dan ibu. Jangan buat suami sampai meminta pada kita untuk menemaninya, datang dan temanilah dia selama kita mampu 🙂

Saya selalu ingat cerita suami saya tentang masa kecilnya. Ayahnya selalu ingin dia kerja mapan agar punya kehidupan yang lebih baik. Sedang suami saya ingin bisa jadi pengusaha yang punya banyak waktu untuk keluarga di rumah, bukan seseorang yang harus terikat jam kerja setiap hari. Karena kenangan masa kecil yang selalu dia ingat sampai sekarang adalah ketika ayahnya mengantarkan dia dan kedua adiknya pergi ke sekolah naik motor sederhana setiap pagi. Ayahnya bisa melakukannya, karena tidak harus berada di kantor jam 8 pagi dan berangkat kerja sebelum jam sekolah tiba. Suami saya selalu ingin kelak bisa jadi ayah yang punya waktu untuk mengantar anak-anaknya sekolah setiap pagi. Karena uang, tidak selamanya bisa memberikan kenangan manis. Tapi ‘waktu’ selalu mampu.

Tapi sekarang memang belum saatnya. Suami masih harus mencari rejeki dari kantor yang bahkan membuatnya terkadang harus bekerja hingga di luar jam kantor. Tentu saja tak apa, semua ada prosesnya. Kami punya cita-cita ingin punya kehidupan seperti apa kelak, dan kami tahu kami sedang berjalan menuju tujuan itu sama-sama. Semoga saya dan suami bisa senantiasa sehidup dan sesurga, dan semoga kamu pun bisa demikian dengan pasangan. Aamiin 🙂

June 22 / 2017

We’ve Learn how to Survive

Soon, when all is well, you’re going to look back on this period of your life and be so glad that you never gave up. – Haruki Murakami

People come and go. I mean, nothing’s gonna last forever is so damn true.

Siapa pun yang kamu cintai, akan ada saatnya pergi. Atau seberapa pun kamu mencintai seseorang, akan ada gilirannya kamu harus meninggalkan. Itu mungkin yang membuat Tuhan, tak suka bila kita terlalu berlebihan dalam memuja sesuatu atau seseorang. Terlalu besar kesempatan diri menjadi berpikir, bahwa segala hal bisa berjalan sesuai dengan yang kita rencanakan. Kita merasa lebih besar, dari Sang Maha Pemberi keputusan.

Saya punya teman atau bahkan mereka yang tidak saya kenal tapi bersedia menceritakan berbagai kisah rahasia yang mereka miliki—yang membuat saya akhirnya kerap berpikir kalau ada begitu banyak hal yang sedang kita khawatirkan—sedihkan—dan coba untuk kita lupakan; adalah hal yang sebenarnya telah kita tanam sejak ribuan jam sebelumnya. Namun kita tidak menyadarinya. Karena kita sedang terlena ‘kebaik-baik-sajaan’, kita sedang penuh dengan ‘harapan’. Kita lupa, harapan, hanyalah harapan selama itu belum terwujud. Tidak ada yang bisa memastikan 100 persen bahwa segala yang kita rencanakan dengan begitu hati-hati dan penuh percaya diri benar akan terjadi. Kita akhirnya melewati tahap; bersiap-siap.

Mempersiapkan hati bila harus patah. Mempersiapkan doa bila ternyata keteguhan upaya belum juga ada hasilnya. Mempersiapkan air mata bila yang kali ini harus kembali lagi kecewa.

Terkadang saya berpikir, apa yang membuat manusia begitu percaya diri saat kebahagiaan memeluk?

Saya pun kerap demikian. Hingga akhirnya Tuhan mengganjal kaki saya agar saya tak lupa, bahwa sebaik-baiknya mata kaki, mereka tidak bisa menunjukkan arah. Saya mulai lengah karena kenikmatan yang sedang saya punya. Itu adalah saat-saat mata saya dibutakan oleh begitu banyak hal baik yang sedang terjadi. Saya pun dijatuhkan-Nya lagi.

Karena bagaimana pun, hidup ini adalah roda yang terus berputar.

Lucunya. Seberapa pahit pun hati sakit—hingga rasanya tak ingin hidup lagi, saya tetap hidup dan masih baik-baik saja hingga hari ini. Karena kemarin, pada akhirnya akan berlalu juga. Pada akhirnya kita semua akan belajar untuk menyesuaikan diri dengan hal buruk yang sedang memeluk.

Saya ingat, saat saya masih tinggal di Samigaluh Jogja. Daerah yang bisa saya capai dalam 1,5 jam perjalanan dengan kendaraan bermotor dari kota Jogja. Jalannya menanjak dan tak punya penerangan. Rumah-rumah pun masih jarang ada. Jauh-jauh jaraknya. Saya tidak pernah menyangka bahwa saya si anak perempuan bungsu ini bisa pulang malam dari kota Jogja untuk bisa sampai ke rumah menemani bapak saya. Tapi karena keharusan, saya terpaksa mencobanya.

Hari pertama saya pulang kerja dan harus pulang naik motor, saya tidak berhenti berdoa di dalam hati sambil memutar musik keras-keras di telinga saya. Saya bahkan tidak berani melihat kaca spion LOL. Saya hanya berpikir, kalau saja motor saya sampai mati di tengah jalan, yang akan saya hadapi adalah jalanan yang gelap gulita. Bagian kanan saya tebing, dan bagian kiri saya jurang.

Seminggu berjalan, saya mulai terbiasa. Saya bisa membawa motor lebih santai, dan tidak lagi takut gelap. Sebulan berjalan, saya bisa bilang saya adalah perempuan tangguh hahaha… karena setiap hari saya berani menempuh 90 km perjalanan untuk pulang pergi kantor rumah dengan hanya dibayar 700ribu rupiah per bulan (jangan dibanding gaji saya saat bekerja di Jakarta, ini bahkan nilainya nggak lebih besar dari gaji asisten rumah tangga LoL).

Tapi saya bahagia. Karena saya tidak lagi kesepian. Karena akhirnya saya lepas dari depresi setelah Mama meninggal. Karena saya bisa beli buku kesukaan saya dan sesekali main ke bioskop dengan gaji seorang karyawan magang di Jogja. Setelahnya, dengan gaji UMR saat jadi karyawan tetap pun, saya mampu hidup dengan layak setiap bulannya, bisa bayar kosan, listrik dan menabung. Saya tidak pernah merasa kekurangan. Cukup saja segalanya berjalan. Padahal ya gaji tidak besar, dibanding teman se-angkatan saya di Jakarta yang sudah bisa berlibur ke luar negeri setiap tahun. Tapi saya tidak pernah sempat merasa iri dengan mereka. Karena hati saya penuh terisi dengan rasa syukur.

3 tahun berjalan. Gaji saya sudah berkali-kali lipat. Kerjaan saya makin banyak. Saya bahkan berhasil menerbitkan buku yang sudah tertunda selama bertahun-tahun. Tapi pengeluaran saya pun seketika menjadi lebih besar. Padahal saya masih tinggal di kos yang sama. Tetapi uang saya kerap saya pakai untuk hal-hal yang saya inginkan—bukan butuhkan. Yah.. namanya juga idup yah.

Manusia itu, sebenarnya di mana pun Tuhan leparkan untuk hidup. Di situ mereka akan bertahan hidup. Sebaik yang mereka bisa—bila mereka teguh dan jujur. Namun saat nikmat ditambah sedikit saja, keborosan dan kesia-siaan adalah hal yang akan datang pertama kali. Itu baru dalam contoh financial. Bagaimana bila urusannya sudah soal hati?

Tidak jarang saat Tuhan sedang memenuhi hati kita dengan cinta, kita tidak lagi bisa melihat Tuhan sedekat dulu lagi. Karena apa yang kerap kita doakan sedang terjadi. Tidak lagi butuh untuk berdoa terlalu banyak. Karena apa yang kita ingin sudah kita bisa kita peluk erat. Rasa saling memiliki antara kita dan dia yang kita cintai menjadi hal yang paling penting untuk dipikirkan sepanjang waktu. Seolah, tidak akan ada yang bisa memisahkan rasa cinta yang bahkan bisa membuat hati kita ingin meledak ini. Kita begitu mempercayai pasangan kita, hingga lupa bahwa dia pun masih manusia. Dan manusia adalah makhluk yang paling tidak bisa dipercaya.

Jadi siapa pun yang sedang kamu cintai saat ini. Cintailah mereka dengan bijaksana. Dan siapa pun yang sedang mengingkarimu saat ini. Bencilah mereka dengan sederhana.

Because in the end of the day. Everything just will be alright. We just need a reason to give up. Jadi jangan pernah biarkan diri memilih keputusan itu. Karena saat semuanya sudah berhasil kamu lalui dengan baik–kamu akan menjadi kamu yang lebih super dari kamu yang kemarin. We are stronger than we thought 🙂

31 March 2017

Untuk Suamiku

Selamat mengingat hari pertamamu menangis di dunia suamiku sayang. Mari terus saling memeluk setiap pagi, bersujud bersama 5 waktu dalam sehari, hingga kelak waktu yang berhenti untuk kita. Sekali lagi, selamat menjadi 26. I love you somay! :)))

Istrimu,

Farah Fatimah