Friday with Fa

Waktu nulis posting ini, saya lagi kangen nonton Ruby Sparks 
“Banyak benda-benda yang dihargai begitu tinggi, tapi nyatanya tak mampu menggenggam tangan kita, ketika langkah kita mulai keliru.”
[falafu]

Saya tidak tahu seberapa batasan ‘keberuntungan’ yang ada di kepalamu. Tapi dari hidup yang sudah saya lalui hingga saat ini, bisa duduk berdua dengan orang yang saya sayangi, dengan jarak yang tidak jauhhingga mata kami bisa saling menatap saat kami berbincang, lalu bersedia dengan senang hati menertawakan ‘ketidak-beruntungan’ kami; adalah sebuah keburuntungan.

Beri saya kesempatan mengutip buku yang sedang saya baca;

Kemana pun aku pergi, ada saja orang yang dengan bernafsu ingin memiliki apa pun yang baru. Sebuah mobil baru, sebidang tanah baru. Mainan terbaru. Dan kemudian mereka juga bernafsu menceritakannya pada kita; Coba lihat apa yang baru aku beli? Kau tahu bagaimana aku menafsirkan semua itu? Yang sangat didambakan oleh orang-orang ini pada dasarnya adalah kasih sayang namun karena tidak mendapatkannya, mereka mencari ganti dalam bentuk-bentuk yang lain. mereka mengikatkan diri pada harta benda dan mengharapkan semacam kepuasan dari situ. Akan tetapi usaha mereka tidak pernah berhasil. Kita tidak dapat menukar cinta, kelembutan, keramahan, atau rasa persahabatan dengan harta benda. 

[Tuesday With Morrie by Mitch Albom]

***
Ada kalanya saya berpikir, apakah mungkin pikiran bahwa ‘uang tidaklah sepenting itu untuk dicintai’ dalam diri saya muncul, karena saya tidak lah sekaya mereka yang punya uang melebihi apa yang mereka perlukan. Apakah mungkin pikiran bahwa ‘harta tidaklah sepenting itu untuk dicari’ dalam diri saya muncul, karena saya tidaklah ‘seberuntung’ mereka yang punya segalanya. Atau apakah ini mungkin hanya penyangkalan saya semata? Bahwa saya memang tidak sehebat itu untuk mampu membeli segala yang saya butuhkan; apalagi segala yang saya inginkan.

Well, saya memang tidak miskin. Tapi saya tidak lagi memiliki wajah untuk meminta uang kepada orang tua saya; bila itu hanya untuk keinginan saya memiliki ponsel terbaru, atau baju baru karena baju yang saya pakai ya cuma itu-itu saja, atau sepatu baru—karena saya tidak punya sepasang sepatu yang cukup untuk saya pakai 7 kali bergantian dalam satu minggu.

Ada sebuah Indian Proverb yang berbunyi; I had no shoes and complained, until I met a man who had no feet. Anggap lah apa yang sudah saya lalui dalam hidup saya, mampu membuat saya mengamini kalimat barusan. Seperti juga kalimat Morrie yang berbunyi; manusia butuh makan, tapi siapa yang bilang kalau manusia butuh makan makanan yang luar biasa enak?

Sesungguhnya saya kerap kali memikirkan hal di atas tadi, apakah keyakinan saya bahwa uang tidaklah sepenting itu untuk dicintai hanyalah datang dari penyangkalan saya akan hidup saya sendiri yang tidak ‘wah’ dan biasa-biasa saja. 

Hingga pada akhirnya saya berhenti memikirkannya, setelah saya melihat ibu saya meninggal dan menghembuskan nafas terakhirnya di depan mata saya sendiri. Tubuhnya begitu kurus karena melawan penyakit yang 8 tahun memeluknya erat-erat. Saya tidak akan pernah lupa bagaimana rahangnya mengencang saat ia harus menarik nafasnya yang terakhir. Hati saya bilang; hey Fa, hidup tidaklah sepanjang itu untuk dilalui; tapi mereka juga tidaklah sependek itu untuk tidak kamu lewati dengan sebaik-baiknya. 

Banyak hal yang setengah mati kita kejar dan kita inginkan, walau pun sebenarnya tidaklah selayak itu untuk diperjuangkan. Banyak hal-hal semu yang kita tangisi, padahal kenyataannya tidaklah benar-benar bisa membuat kita menjadi utuh. Begitu banyak cinta dan perhatian yang jatuh pada mereka yang bahkan tidak bersedia memberi kita pelukan atau sandaran saat kita memerlukannya. Benda-benda yang dihargai begitu tinggi, tapi tak mampu menggenggam tangan kita, ketika langkah kita mulai keliru. Bahkan, banyak sekali perihal yang membuat kita mampu merasa lebih besar dari Tuhan kita sendiri. 

Sayang, tidak semua arah yang keliru dalam hidup ini, bisa kita temukan jalan keluarnya di perangkat GPS. 

Tapi satu hal yang pasti; ketika kamu meninggal orang tidak akan pernah mengingat sebanyak apa harta yang berhasil kamu kumpulkan, tapi seberapa banyak waktu juga kasih sayang yang sudah bersedia kamu bagi sepanjang hidupmu—untuk mereka yang berada di sekelilingmu. Ini mungkin terbaca klise sekali, tapi saya bukanlah sedang bicara soal hidup miskin jauh lebih baik dari hidup berkecukupan. Saya sedang mencoba mengatakan bahwa hidup berkecukupan, bukanlah hidup yang harus diisi dengan limpahan barang yang sebenarnya tidak begitu berguna untuk mengisi kebahagiaan kita. 

***

Menurutmu, apa pentingnya bagiku mendengarkan masalah-masalah orang lain? Belum cukupkah sakit dan penderitaan yang harus kujalani sendiri? Perbuatan memberilah yang membuatku merasa hidup. Bukan mobil atau rumahku. Bukan pula apa yang kulihat melalui cermin. Ketika aku memberikan waktuku. Ketika aku dapat membuat seseorang tersenyum setelah sebelumnya merasa sedih, aku merasa sesehat yang pernah kurasakan. 


[Tuesday With Morrie]

Ketika saya membaca paragraph di atas, saya seperti ingin menepuk pundak Morrie dan bilang; that’s what I felt this damn whole time! Ketika orang-orang berkata pada saya; fa masalahmu tuh udah banyak, ngga perlulah dengerin masalah orang lain dan bikin hidupmu makin ribet sendiri. Maybe you don’t get it, tapi inilah salah satu cara saya untuk bertahan hidup hingga saat ini. Saya selalu merasa, setiap kali saya selesai menjawab dan mendengarkan curhatan seseorang (yang bahkan tidak saya kenal), hidup saya berjalan lebih mudah dan sederhana.

Banyak dari pesan-pesan itu yang diawali kalimat; Fa, aku cuma cerita ini ke kamu. Fa, cerita ini hanyalah kamu dan Tuhan yang tahu. Fa, aku ngga tau kenapa aku cerita ini ke kamu, tapi aku percaya kamu bisa menyimpannya baik-baik.

Bagi saya, tidak semua orang seberuntung itu bisa diberi kepercayaan untuk mendengarkan.

Kembali lagi ke awal tulisan ini, saya tidak tahu seberapa batasan ‘keberuntungan’ yang ada di kepalamu. Tapi dari hidup yang sudah saya lalui hingga saat ini, bisa duduk berdua dengan orang yang saya sayangi, dengan jarak yang tidak jauh hingga mata kami bisa saling menatap saat kami berbincang, lalu bersedia dengan senang hati menertawakan ‘ketidak-beruntungan’ kami; adalah sebuah keburuntungan.

Waktu dan juga perhatian yang bersedia dia beri pada saya; adalah harta yang tidak terkira.

Itulah yang coba saya beri kepada orang lain yang saya kenal atau tidak saya kenal. Saya mungkin tidaklah punya uang banyak, tapi saya punya kesediaan untuk mendengarkan, saya punya waktu yang bersedia saya bagi, dan saya masih punya rasa syukur di dalam hati saya atas segala yang saya miliki. Kurang dan lebihnya.
Inilah hidup yang saya pilih untuk saya yakini. Dan saya merasa kaya di dalamnya.

Tentu saja saya kerap merasa kesepian dan terluka sendirian, karena walau pun terlihat seperti pribadi yang sangat terbuka, saya bukanlah manusia yang pandai menyampaikan kesedihan saya pada oranglain. Tapi saat saya merasakannya, saya hanya perlu menerima kesedihan itu. Saya akan menangis, tapi itu tidak akan membuat saya berhenti tersenyum setelah berhasil melewatinya. Tidak ada yang mengatakan bahwa manusia tidak boleh merasa sedih dan kesepian, yang tidak boleh dilakukan adalah membiarkan mereka bertahan terlalu lama dalam hatimu. Kamu hanya perlu memberi mereka jalan untuk melewati hidupmu, dan berhenti keras kepala dengan menahannya. Maka mereka pun akan terlewati,

Semoga, kamu pun tengah bahagia dengan hidup yang kamu jalani 🙂


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s