Amour

“Things will go on, and then one day it will all be over.” – Amour

Baru kali ini saya menonton film yang punya cerita tentang penderita stroke, tapi bisa sangat mirip dengan apa yang terjadi dengan mama saya dulu. Bukan tentang keseluruhan ceritanya memang, karena Amour punya ending kisah yang begitu memilukan, yang bahkan membuat saya masih galau sampai di detik ini.

Amour ini tipikal film yang saya suka, sederhana, dan punya tokoh yang sangat sedikit. Tidak lebih dari kesepuluh jarimu bila dihitung. Bahkan, tokoh sentralnya hanyalah 2 orang pemera utama. 
Amour bercerita tentang Georges dan Anne, pasangan suami istri yang sudah menginjak usia 80 tahunan. Tinggal berdua di sebuah apartemen bagus, dan mereka berdua adalah pensiunan guru musik. Dua orang berpendidikan yang saling mencintai dengan sangat santun. Tidak sungkan berkata terima kasih dan maaf. Bahkan di sepanjang film ini, saya selalu takjub dengan cara mereka berbicara satu sama lain. 
Anne adalah pencitraan perempuan modern yang mencintai dengan penuh kemandirian. Agak keras kepala dan agak sulit mengalah. Sedang Georges adalah tipikal suami yang sangat menghargai istrinya. Bukan berarti Georges tunduk dengan sang istri, tapi ia selalu berusaha menempatkan dirinya sebagai kepala keluarga yang rendah hati dan bijaksana. 
Anne dan Georges hidup sangat mapan, bahagia dan saling mencintai. Hingga pada suatu pagi, ketika mereka sedang menyantap sarapan, Anne terkena serangan stroke ringan. Singkat cerita, kehidupan mereka berubah 180 derajat. Anne yang mandiri sangat tertekan dengan penyakit yang membuatnya sulit untuk melakukan apa pun. Dan yang begitu hebat dari film ini, adalah bagaimana mereka menggambarkan penurunan kondisi kesehatan Anne, benar-benar begitu mirip dengan kehidupan nyata. Saya punya ibu yang menderita stroke selama 8 tahun. Dan melihat cerita Anne, membuat saya seperti menonton kembali kondisi ibu saya. 
Mulai dari Anne yang masih bisa berjalan sedikit, lalu saat Anne mulai tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa berbering. Saat Anne untuk pertamakalinya mengompol tanpa dia sadari, lalu itu membuatnya harus mengenakan pempers. Atau Anne yang terus meracau saat malam datang, dan saat George bertanya pada Anne;

Sakit kah? Di sebelah mana yang sakit? Tapi Anne tak pernah mampu memberinya jawaban. 
Saya dan ayah saya sering menanyakan hal yang sama pada mama saya. Itu adalah salah satu bagian paling menyedihkan, ketika kamu tahu orang yang kamu sayangi kesakitan, tapi kamu tidak tahu di mana letak penyakitnya itu, karena memang orang yang kamu sayangi tersebut sudah tidak lagi bisa mengatakan apa-apa. Hanya bisa menatap ke langit-langit dan mengerang kesakitan. 
Wajah Anne pun mirip sekali dengan wajah mama saya, bahkan saat dia marah. Dan melihat George, membuat saya teringat cinta yang ayah saya miliki untuk mama saya. Walau berat, ayah saya tidak pernah meninggalkan mama saya saat beliau sakit. Ayah saya memandikan, menceboki, menyuapi, menemaninya tidur, melakukan apa pun untuk mama saya. Sampai akhir hayatnya.

Saya bersumpah, hari-hari itu sangatlah tidak sederhana. Dan akan terus membekas di dalam diri saya, hingga akhir. 

Ayah saya, bukanlah orang tua dan suami yang sempurna, kami melewati banyak kesalahan dan buruknya hidup bersama, tapi saya tidak pernah ingin menukarnya dengan ayah milik siapa pun. 
Happy birthday Pak. I love you, and please stay with me as long as possible. 
And I love you Ma, I am sorry that I ever be so rude when i took care of you. 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s