Cermin

Aku tidak ingat kapan pertamakali melihat pantulan diriku sendiri. Apa aku menyukainya atau aku justru membencinya saat itu. Yang aku tahu, semakin aku dewasa, aku semakin malas berlama-lama memandangnya. Bukan berarti aku tidak menyukai apa yang aku lihat di dalam cermin saat aku menatapnya, justru aku merasa bahwa tak ada yang perlu lagi dikoreksi, Tuhan sudah lebih dulu mengkoreksi penampilanku—bahkan sejak sebelum aku dilahirkan. Dia adalah penimbang terbaik, kenapa bibirku harus tebal, kenapa kedua mataku harus lebar, kenapa kulitku harus coklat manis, kenapa rambutku begitu lebat sampai-sampai aku malas menyisirnya. Dan kenapa aku punya senyum yang dihiasi kawat gigi.
Aku punya segalanya. Aku punya sepuluh jari kaki dan sepuluh jari tangan. Tidak ada bilangan yang tidak genap dalam tubuhku, dan ibuku selalu menyebutku anak mama yang paling cantik (mari lupakan fakta kalau seluruh saudaraku yang lain adalah laki-laki). Jadi, apalagi yang harus aku tuntut? Semua, sudah berada di tempat yang semestinya. Dan terima kasih Tuhan, karena aku lengkap dan aku menyadarinya.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s