Teman Baik Ibu

Ibu saya adalah seseorang yang tak pernah bisa lepas dari kopi. Sekarang, saat ia sudah tiada, rasanya saya iri sekali pada bergelas-gelas kehangatan pekat yang selalu lekat di sisinya itu. Karena bisa jadi, kopi jauh lebih setia memandanginya–dibandingkan sepasang mata milik saya ini.

Berpuluh tahun kopi menjadi teman baik ibu menjahit baju pesanan, membuat malam-malam panjangnya jauh lebih terang, mengusir kantuk yang bergelayut manja di pangkal matanya. Saya suka sekali melihat kaki-kaki kecil ibu menggoyang tuas mesin jahit kesayangannya itu, menyambung potongan pola menjadi sesuatu yang bisa membuat manusia lebih beradab; sehelai pakaian. Itu adalah salah satu pemandangan paling indah yang pernah direkam oleh ingatan saya.

Hari ini, saat gerai kopi semakin banyak memeluk sudut-sudut kota dan bahkan jadi tempat manusia hobi meng-eksistensikan diri; menikmati seduhan secangkir kopi panas di teras rumah, sembari memandangi langit selepas hujan dengan ibu menari di dalam kepala, justru masih menjadi favorit saya.

Bu, hari ini saya menuliskan ibu bersama si teman baikmu, kopi. Rindu sekali melihatmu menginjak tuas mesih jahit, dan membuatkan sebuah mukenah sederhana untuk kukenakan saat hari raya lebaran tiba.

Semoga aroma magis kopi, selalu mampu membantuku menyimpanmu di dalam kepala ini, Bu. Sampai selamanya.



Akun Twitter : @falafu
Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi #DibalikSecangkirKopi yang diselenggarakan oleh NESCAFE Indonesia
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s