Mengalah Padamu Itu Indah

Mengalah tanpa harus merasa sedang ‘kalah’

– falafu

Sebelum tidur kami selalu berdoa bersama, lalu setelahnya saling mengucap terima kasih. Dia sering mengucap ‘Terima kasih ya adek sayang, untuk berantemnya hari ini. Untuk perhatiannya. Untuk kesabarannya yang tidak pernah berhenti.’ Dan saya pun sering mengucap padanya ‘Terima kasih ya Mas, untuk sayangnya sepanjang hari ini, untuk marahnya karena adek bandel, dan untuk selalu ada disitu—menemani adek yang sendirian di sini’.

 

Ya, saya harus mengakui kalau ritual kami di setiap malam tersebut sangatlah berpengaruh dalam hubungan kami. Tidak jarang ketika kami berantem sebelum tidur, salah satu di antara kami akan sengaja melewatkan kebiasaan ini—hanya untuk membuat kesal yang lain.

24 Oktober 2016 adalah tepat 1st anniversary kami, dan saya sempat bertanya pada dia di sambungan telepon ‘Mas, kita dalam setahun ini udah berapa kali berantem ya kira-kira?’ lalu dia jawab ‘Ya itu 365 hari aja dibagi 2’ hahaha.. iya, kami memang sering sekali berantem. Selain karena kami LDR, kami juga punya sifat yang keras. Dia keras hati, dan saya keras kepala. Hanya saja, karena begitu seringnya kami saling menjalin komunikasi, kami menjadi sangat merasa begitu kehilangan setiap kali kami sama-sama bertahan dalam ‘diam’ kami saat berselisih. Namun seperti yang pernah saya tulis di instagram, bahwa kami tidak pernah membiarkan marah kami bertahan lebih dari satu hari. Well, saya pernah sih bertahan diam sampai nyaris 2 kali 24 jam, namun itu hanya terjadi 1 kali di selama 1 tahun kami bersama. Itu juga karena saya marah sekali padanya. Dan saya tahu, dia pun bisa memahaminya. Karena saya tidak pernah seperti itu sebelumnya.

Lalu saya tersadar, bahwa hubungan itu selalu berjalan bagaimana kita terbiasa membiarkan hubungan itu berjalan. Saya dan dia, tidak pernah membiasakan untuk lama-lama dalam diam—maka kami pun selalu menganggap hal luar biasa pasti sedang terjadi di dalam hati kami, bila salah satu di antara kami sampai memilih untuk diam. Saya sering sekali ngeyelan, dan dia sering sekali galak. Karena memang itu sudah jadi tabiat buruk kami yang paling utama. Kedua hal ini jadi yang paling mudah memicu pertengkaran di antara kami, dan beberapa bulan belakangan ini lah, kami baru mulai pandai saling mengalah tanpa harus merasa sedang ‘kalah’. Itu butuh proses. Itu pun butuh kejujuran yang tiada henti. Kami berdua, tidak terbiasa berpura sedang ‘baik-baik saja’, bila salah satu di antara kami merasa terganggu, kami pasti akan dengan senang hati menceritakannya. Dan setiap malam sebelum kami tidur, adalah waktu yang paling baik untuk mengatakan ‘terima kasih’ bila salah satu di antara kami telah bersedia mengalah, agar kami tetap bisa berbahagia.

I don’t know apa ini akan juga bisa terjadi di dalam hubungan yang lain, tapi ini sangat berpengaruh di dalam hubungan kami. Dan tidak seperti pasangan yang sedang PDKT dan bisa selalu menerima setiap tantangan, pasangan yang sudah bersama untuk beberapa lama, akan lebih egois. Karena merasa lebih memiliki dari yang sebelumnya, karena merasa lebih berhak atas yang lainnya. That’s bad, kalau dibiarkan menjadi kebiasaan.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berbincang dengan teman yang sudah menjadi seorang suami dan ayah. Dia bilang, ‘Biasanya di tahun ketiga pernikahan laki-laki akan merasa bosan pada istrinya. Dan pilihannya hanya dua; setia atau selingkuh’. Mendengarnya saya cukup terkejut. Dia lalu melanjutkan ‘Dan sangat sedikit laki-laki yang bisa jujur pada istrinya—kalau dia sedang bosan. Karena rasa takut akan menyakiti’.

Saya cukup tergelitik dengan pengakuan ini, karena tidak lama sebelumnya juga seorang teman perempuan saya pun, yang sudah menjadi istri dan ibu sempat curhat ‘Dateng ke kantor itu hiburan banget buat aku. Setelah seharian bareng anak dan suami di rumah. Ketemu setiap hari sama mereka. Bahkan aku pernah ngerasa happy banget waktu tugas luar kota. Aku bisa bangun sesukaku, dan tidur sesukaku’.

Wow bukan? Dan bukan berarti mereka berdua adalah istri atau suami yang jahat. Mereka hanya manusia. Manusia pasti bisa merasa bosan, pasti bisa merasa lelah, pasti bisa merasa ingin yang lain. Tapi di situlah letak indahnya iman dan cinta. Ketika kamu bersedia melepaskan ego demi kebahagiaan mereka yang telah menjadi bagian baru di dalam dirimu–keluargamu. Suamimu. Istirmu. Anak-anakmu. Saat kamu benar menemukan makna indah dibalik kesediaan untuk mengalah.

Saya juga sempat bertanya pada teman laki-laki saya, ‘Punya anak bahagia banget pasti ya? Apalagi anak ini sudah lama dinanti?’ dia kemudian tersenyum dan bilang ‘Aku kemarin baru baca kata mutiara; dibalik berkah yang besar, selalu ada tanggung jawab yang lebih besar. Luar biasa bahagia itu jelas, sampai akhirnya dihadapkan pada tuntutan hidup yang lebih besar, karena sekarang aku juga punya tanggung jawab sebagai ayah.’

Tantangan untuk menjadi dewasa tidak akan pernah putus hingga akhirnya nyawa kita diputus oleh Tuhan. Dengan mau mendengarkan, dengan itu pula kita bisa belajar memamhami apa yang belum kita hadapi. Tulisan ini hanya sekedar berbagi—semoga bisa berarti buat kamu juga ya. Yuk, kesayangannya kamu juga didengarkan inginnya.

And hai Mas sayang, happy anniversary yaaaah. Kalo ngegombalnya sih udah sering ya tiap hari. Biar jadi bahagianya kita berdua aja ya hehehe. Teruslah jadi seperti ini. Menyayangiku tanpa membebaniku dengan janji-janji manis. Ayo mendewasa bersama—sampai akhir nafas kita  🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s