Lega

Seorang teman pernah bilang ..begitu menikah, rasanya lengkap saja. Bahkan tidak lagi peduli setiap kali usia harus bertambah saat hari ulang tahun tiba.”

Kalau boleh menoleh sebentar ke belakang dan melihat setiap tetes air mata yang pernah jatuh, rasanya tak sedikit pun saya ingin menukar setiap kesedihan itu—ketika sekarang di setiap pagi saya bisa merasakan hangatnya peluk suami saya.

Dan saya pun merasakan kelegaan itu. Lega karena saya tidak lagi seorang diri. Lega karena saya punya rumah untuk pulang. Lega karena saya sudah menjadi milik seseorang—yang begitu bahagia bisa memiliki saya. Saya tidak tahu apa kamu bisa mengerti apa yang saya rasakan. Tapi saya masih selalu ingat rasanya, saat mama saya meninggal, dan semua kakak saya (yang sudah berkeluarga) pulang kembali ke kehidupannya—hanya saya dan bapak lah yang akhirnya harus tertinggal di rumah kami bersama begitu banyak kenangan. Kami adalah 2 orang yang sama-sama kehilangan ‘rumah’—di rumah kami sendiri. Mungkin itu adalah kehampaan terpahit yang pernah saya telan selama saya hidup.

Kalau boleh jujur. Saya tidak pernah berkeinginan untuk menikah sebelumnya. Maksudnya, saya memang selalu berdoa, agar dipertemukan dengan pria yang setia dan soleh. Tapi di usia saya yang sudah menginjak 25 tahun, saya belum punya keinginan untuk menikah saat itu. Karena keluarga saya sendiri bukan tipikal keluarga yang meributkan harus menikah di usia berapa dan harus menikah dengan siapa. Setiap anak di keluarga kami, diberi kebebasan oleh orangtua kami untuk memilih pasangannya. Bapak biasanya hanya selalu berpesan dan bertanya, apa kami benar menyayanginya, apa dia benar menyayangi kami. Lalu mengingatkan kalau perceraian bukanlah hal yang bisa dipilih di kemudian hari. Karena keluarga kami tidak menyukainya. Jadi apa pun yang terjadi di kemudian hari, bertanggung jawablah penuh dengan pilihan kami sendiri.

Saya akhirnya baru memiliki keinginan untuk menikah, ketika bapak saya berangkat umroh. Saat pertama kali kami berkomunikasi via telepon beliau bilang, “..bapak sudah doain biar adek bisa segera dipertemukan dengan pria yang baik.” Di hari itu saya tahu, bahwa pernikahan saya, sudah menjadi cita-cita bapak saya sekarang. Karenanya, saat dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan, salah satu doa khusus yang saya pinta pada Allah adalah agar bisa segera dipertemukan dengan jodoh saya.

Dan datanglah Fadli, pria yang pernah saya kenal ribuan hari yang lalu, kembali menyapa saya di hari ulang tahun saya. Fadli yang datang hari itu sudah jauh berbeda dengan yang 3 tahun lalu saya kenal. Saya seperti kedatangan kakak baru di dalam kehidupan saya. Karena kebetulan Fadli adalah anak pertama di keluarganya, sedang saya adalah anak terakhir. Walau pun sebenarnya, usia saya lebih tua dibanding Fadli, tapi secara kepribadian, Fadli jauh lebih dewasa dan bertanggung-jawab. Fadli bukanlah pria yang jatuh hati pada saya karena apa yang saya tulis. Dia bahkan tidak pernah sama sekali membaca blog atau buku saya. Dia bahkan tidak aktif bermain social media. Pria yang datang, karena ingin mengenal sesungguhnya saya.

Dia juga jauh dari pria yang saya pernah kenal selama ini. Hidupnya penuh dengan perjuangan yang tidak sederhana. Dan dia begitu mencintai ibunya. Kami tumbuh besar dengan ‘cerita sulit’ kami sendiri. Dan itu yang membentuk kami jadi manusia yang begitu keras kepala. Yakin deh, saya dan dia sering sekali berantem. Bahkan untuk hal-hal kecil. Tapi kami menikmati semuanya. Karenanya hanya ada semakin menyayangi, ketika perselisihan mereda.

Di pertemuan kami yang ketiga, Fadli datang ke rumah dan berkenalan dengan Bapak. Lalu sepulang dari rumah saya, dia mengajak saya untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Saya selalu ingat, pertanyaan yang dia ajukan “..adek mau ikut mas, kalo kita menikah? Tapi hidup di kebun itu jauh dari kehidupan perkotaan dan berat.” Lalu saya pun tanpa berpikir panjang menjawab “..mau, buat apa adek jadi istri kalau tidak bisa menemani suaminya.” Karena bagi saya itu bukanlah pilihan. Pergi mengikuti suami adalah keinginan saya. Saya tidak pernah menjadikan itu pilihan yang harus punya jawaban ‘iya’ atau ‘tidak’. And that’s it. Sejak awal hubungan Fadli memang tidak meminta saya untuk bersedia jadi pacarnya, dia meminta saya untuk bersedia menjadi istrinya. Walau pun kami belum tahu kapan kami akan menikah. Tapi kami sama tahu, kami akan menuju ke sana.

And here we are. After the ups and down. Saya sudah resmi menjadi istri dari Fadli Dermawan.

Alhamdulillah, semua terjadi seperti impian saya selama ini. Saya selalu berdoa dipertemukan dengan yang beriman, setia, sederhana dan bertanggung-jawab. And he’s beyond that. Saya selalu berdoa tidak mau punya hubungan yang panjang namun tidak jelas tujuannya. Dan kami hanya perlu 1 tahun untuk mewujudkan pernikahan kami. Sejauh ini saya sangat menikmati peran baru saya menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga yang tetap bekerja dari rumah. Sekarang saya memang menetap jauh dari kota, saya bahkan tidak tahu kapan saya bisa kembali menikmati layar bioskop. Karena butuh 6 jam perjalanan dari kabupaten tempat saya tinggal untuk sampai ke kota yang punya layar bioskop. Kami perlu menginap di kota untuk bisa merasakan main ke mall. But that’s okay. I’m not crying at all. Saya sudah menangis tapi justru karena ngambek sama suami. Bukan karena keadaan yang harus saya hadapi saat ini. Bagi saya, di mana pun kami harus tinggal itu bukan masalah. ‘Masalah’ adalah justru ketika kami tidak bisa tinggal bersama.

Ketika mayoritas orang yang saya temui di sini bertanya; “gimana bu, kaget nggak tinggal di kebun?” Saya bahkan tidak merasa kaget sama sekali sebenarnya. Karena suami saya sudah menceritakan semua hal sulit yang harus saya hadapi nantinya. Dia tidak pernah menutupi apa pun, dan itu membuat saya sudah sangat siap menghadapi apa pun. I know it won’t be easy. But I’m ready for this. I love my job now. Being a wife. Walau harus melepaskan perkerjaan saya di Jogja dan hidup merantau dengan suami saya ke Sumatra. Itu bukanlah pilihan sulit.

FYI, saya terbiasa hidup sibuk sejak saya SMA. Sejak kuliah pun saya sudah bekerja. Saya biasa berangkat pagi pulang malam dan berkegiatan di luar rumah. Dan saya sangat mandiri sejak kecil. Saya sudah tinggal jauh dari orangtua sejak SMA walau pun saya anak terakhir di keluarga saya dan anak perempuan satu-satunya. Saya memang manja, tapi tidak dalam hal survive. Banyak orang di sekeliling saya worries karena saya harus ikut suami saya pergi jauh dari kota besar dan tidak lagi bekerja di kantor. But it wasn’t my first time. Di tahun 2011 saya pun pernah pergi meninggalkan pekerjaan saya untuk merawat mama yang sakit dan harus tinggal di Samigaluh (daerah terpencil di Jogja). 1 tahun saya habiskan di sana untuk merawat mama, dan 1 tahun saya habiskan untuk depresi setelah mama meninggal. And I’m still alive now. Percaya atau tidak, ini adalah kondisi terbahagia saya sejak usia saya 10 tahun dulu. Di usia 10 tahun, saya terakhir kali meniup lilin ulang tahun yang menancap di kue ulang tahun pemberian mama. Setelahnya, hidup saya penuh dengan air mata dan perjuangan, yang sampai hari ini selalu saya syukuri. Karena tanpa mereka, saya tidak akan pernah menjadi saya yang hari ini. Saya yang membuat suami saya jatuh hati 🙂

***

Jadi apa pun yang sedang terjadi di dalam hidupmu detik ini. Seberapa pun kamu jatuh dan terluka. Bertahanlah untuk senantiasa menjadi perempuan yang baik dan terhormat. Hingga kelak saat kamu harus kembali terjatuh, Tuhan telah persiapkan pria terbaik untuk menangkapmu—sebelum kamu perlu terhantam lagi. Atau pun bila kelak harus terhantam—kamu sudah tidak lagi harus menghadapi hantaman itu sendirian.

Hai Fadli Dermawan, suamiku. Terima kasih sudah bersedia menemaniku, hingga kelak aku tidak perlu sendirian lagi menghadapi segalanya. Terima kasih sudah bersedia menyayangi keluargaku, sebaik kamu menyayangi keluargamu. Terima kasih sudah menjadi imam di setiap sholat dan membimbingku mengaji setiap kali senja menghampiri kita. Aku tahu, ini hanya awal dari berjuta kebahagiaan dan kesedihan yang akan datang. Tapi aku tahu kita siap menghadapi segalanya, selama kita bersama. Terus jadi telapak tangan yang aku cium ya. Dan aku akan terus jadi kening yang kamu kecup. Setidaknya 5 waktu dalam sehari. Hingga selamanya.

“People need a place they can go back to. There’s still time to make it, I think. For me, and for you.” – Haruki Murakami

Falafu. March 2017.

 

 

 

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Lega

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s