We’ve Learn how to Survive

Soon, when all is well, you’re going to look back on this period of your life and be so glad that you never gave up. – Haruki Murakami

People come and go. I mean, nothing’s gonna last forever is so damn true.

Siapa pun yang kamu cintai, akan ada saatnya pergi. Atau seberapa pun kamu mencintai seseorang, akan ada gilirannya kamu harus meninggalkan. Itu mungkin yang membuat Tuhan, tak suka bila kita terlalu berlebihan dalam memuja sesuatu atau seseorang. Terlalu besar kesempatan diri menjadi berpikir, bahwa segala hal bisa berjalan sesuai dengan yang kita rencanakan. Kita merasa lebih besar, dari Sang Maha Pemberi keputusan.

Saya punya teman atau bahkan mereka yang tidak saya kenal tapi bersedia menceritakan berbagai kisah rahasia yang mereka miliki—yang membuat saya akhirnya kerap berpikir kalau ada begitu banyak hal yang sedang kita khawatirkan—sedihkan—dan coba untuk kita lupakan; adalah hal yang sebenarnya telah kita tanam sejak ribuan jam sebelumnya. Namun kita tidak menyadarinya. Karena kita sedang terlena ‘kebaik-baik-sajaan’, kita sedang penuh dengan ‘harapan’. Kita lupa, harapan, hanyalah harapan selama itu belum terwujud. Tidak ada yang bisa memastikan 100 persen bahwa segala yang kita rencanakan dengan begitu hati-hati dan penuh percaya diri benar akan terjadi. Kita akhirnya melewati tahap; bersiap-siap.

Mempersiapkan hati bila harus patah. Mempersiapkan doa bila ternyata keteguhan upaya belum juga ada hasilnya. Mempersiapkan air mata bila yang kali ini harus kembali lagi kecewa.

Terkadang saya berpikir, apa yang membuat manusia begitu percaya diri saat kebahagiaan memeluk?

Saya pun kerap demikian. Hingga akhirnya Tuhan mengganjal kaki saya agar saya tak lupa, bahwa sebaik-baiknya mata kaki, mereka tidak bisa menunjukkan arah. Saya mulai lengah karena kenikmatan yang sedang saya punya. Itu adalah saat-saat mata saya dibutakan oleh begitu banyak hal baik yang sedang terjadi. Saya pun dijatuhkan-Nya lagi.

Karena bagaimana pun, hidup ini adalah roda yang terus berputar.

Lucunya. Seberapa pahit pun hati sakit—hingga rasanya tak ingin hidup lagi, saya tetap hidup dan masih baik-baik saja hingga hari ini. Karena kemarin, pada akhirnya akan berlalu juga. Pada akhirnya kita semua akan belajar untuk menyesuaikan diri dengan hal buruk yang sedang memeluk.

Saya ingat, saat saya masih tinggal di Samigaluh Jogja. Daerah yang bisa saya capai dalam 1,5 jam perjalanan dengan kendaraan bermotor dari kota Jogja. Jalannya menanjak dan tak punya penerangan. Rumah-rumah pun masih jarang ada. Jauh-jauh jaraknya. Saya tidak pernah menyangka bahwa saya si anak perempuan bungsu ini bisa pulang malam dari kota Jogja untuk bisa sampai ke rumah menemani bapak saya. Tapi karena keharusan, saya terpaksa mencobanya.

Hari pertama saya pulang kerja dan harus pulang naik motor, saya tidak berhenti berdoa di dalam hati sambil memutar musik keras-keras di telinga saya. Saya bahkan tidak berani melihat kaca spion LOL. Saya hanya berpikir, kalau saja motor saya sampai mati di tengah jalan, yang akan saya hadapi adalah jalanan yang gelap gulita. Bagian kanan saya tebing, dan bagian kiri saya jurang.

Seminggu berjalan, saya mulai terbiasa. Saya bisa membawa motor lebih santai, dan tidak lagi takut gelap. Sebulan berjalan, saya bisa bilang saya adalah perempuan tangguh hahaha… karena setiap hari saya berani menempuh 90 km perjalanan untuk pulang pergi kantor rumah dengan hanya dibayar 700ribu rupiah per bulan (jangan dibanding gaji saya saat bekerja di Jakarta, ini bahkan nilainya nggak lebih besar dari gaji asisten rumah tangga LoL).

Tapi saya bahagia. Karena saya tidak lagi kesepian. Karena akhirnya saya lepas dari depresi setelah Mama meninggal. Karena saya bisa beli buku kesukaan saya dan sesekali main ke bioskop dengan gaji seorang karyawan magang di Jogja. Setelahnya, dengan gaji UMR saat jadi karyawan tetap pun, saya mampu hidup dengan layak setiap bulannya, bisa bayar kosan, listrik dan menabung. Saya tidak pernah merasa kekurangan. Cukup saja segalanya berjalan. Padahal ya gaji tidak besar, dibanding teman se-angkatan saya di Jakarta yang sudah bisa berlibur ke luar negeri setiap tahun. Tapi saya tidak pernah sempat merasa iri dengan mereka. Karena hati saya penuh terisi dengan rasa syukur.

3 tahun berjalan. Gaji saya sudah berkali-kali lipat. Kerjaan saya makin banyak. Saya bahkan berhasil menerbitkan buku yang sudah tertunda selama bertahun-tahun. Tapi pengeluaran saya pun seketika menjadi lebih besar. Padahal saya masih tinggal di kos yang sama. Tetapi uang saya kerap saya pakai untuk hal-hal yang saya inginkan—bukan butuhkan. Yah.. namanya juga idup yah.

Manusia itu, sebenarnya di mana pun Tuhan leparkan untuk hidup. Di situ mereka akan bertahan hidup. Sebaik yang mereka bisa—bila mereka teguh dan jujur. Namun saat nikmat ditambah sedikit saja, keborosan dan kesia-siaan adalah hal yang akan datang pertama kali. Itu baru dalam contoh financial. Bagaimana bila urusannya sudah soal hati?

Tidak jarang saat Tuhan sedang memenuhi hati kita dengan cinta, kita tidak lagi bisa melihat Tuhan sedekat dulu lagi. Karena apa yang kerap kita doakan sedang terjadi. Tidak lagi butuh untuk berdoa terlalu banyak. Karena apa yang kita ingin sudah kita bisa kita peluk erat. Rasa saling memiliki antara kita dan dia yang kita cintai menjadi hal yang paling penting untuk dipikirkan sepanjang waktu. Seolah, tidak akan ada yang bisa memisahkan rasa cinta yang bahkan bisa membuat hati kita ingin meledak ini. Kita begitu mempercayai pasangan kita, hingga lupa bahwa dia pun masih manusia. Dan manusia adalah makhluk yang paling tidak bisa dipercaya.

Jadi siapa pun yang sedang kamu cintai saat ini. Cintailah mereka dengan bijaksana. Dan siapa pun yang sedang mengingkarimu saat ini. Bencilah mereka dengan sederhana.

Because in the end of the day. Everything just will be alright. We just need a reason to give up. Jadi jangan pernah biarkan diri memilih keputusan itu. Karena saat semuanya sudah berhasil kamu lalui dengan baik–kamu akan menjadi kamu yang lebih super dari kamu yang kemarin. We are stronger than we thought 🙂

31 March 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s