I WOULDN’T ASK FOR MORE

Belum lama ada yang bertanya pada saya, bagaimana cara menguatkan diri untuk pergi ikut dengan suami yang tinggal atau bekerja di kota yang asing bagi kita. Lalu kita harus berpisah jarak dengan keluarga dekat, harus rela melepaskan pekerjaan yang selama ini mengisi separuh dari hidup kita, dan harus ikhlas pergi demi dekat dengan suami.

Tentu saja setiap orang dihadapkan dengan kondisi yang berbeda-beda. Tapi saya yakin ini tidaklah mudah untuk perempuan mana pun. Tidak harus pergi jauh ke kota seberang saja, sudah berat. Karena pada akhirnya kita harus melepas rumah yang melahirkan dan membesarkan kita; yaitu keluarga. Apalagi harus juga pergi dari zona nyaman kita. Teman-teman dekat, teman-teman kantor, daily activity yang sudah jadi HIDUP kita selama ini. Everything we know for living. 

Kebetulan, bisa dibilang sebelum bertemu dengan suami, saya tinggal sendiri di Jogja. Ayah saya memang juga tinggal di Jogja, tapi karena jarak rumah dan kantor yang cukup jauh, saya hanya bisa menemaninya saat weekend saja. Beberapa tahun ke belakang juga ayah saya lebih sering berada di Jakarta. Jadi saya totally alone. Mantan pacar saya, atau yang bisa saya panggil suami saat ini, adalah seorang sahabat jauh yang dengan berbagai usaha komunikasi hubungan LDR kami, dia selalu berusaha menemani saya. Membuat saya merasa tidak seorang diri.

Kebetulan juga, saya tidak punya sahabat di Jogja, semua sahabat saya ada di Jakarta. Karena saya lahir besar di Jakarta. Terman dekat, adalah mereka yang biasanya saya temui di kantor. Kantor saya cukup hangat. I mean, suasan kantor sangat kekeluargaan, dan karena saya bekerja di dunia media, jam kerja kami sangat fleksible dan cara bergaul kami di kantor juga sangat santai. Pakaian kami santai, dan sebelum saya dekat dengan suami saya—bisa dibilang dulu kantor adalah rumah kedua saya. Saya sering sekali tidur di kantor, atau seharian berada di kantor hehehe.. setelah saya punya Fadli, dia tidak lagi mengizinkan saya tidur di kantor. Selarut apa pun saya harus pulang ke kos. Bahkan pulang malam pun, harus ada yang mengantar. Teman dekat saya di kantor kebetulan juga ada yang saya kenalkan padanya, jadi kalo saya pulang malam bersama teman dekat saya ini, Fadli pasti membolehkan. No more stay at office till mid night.

Anyway, bahasan panjang lebar itu sebenarnya agar kamu bisa memahami bagaimana kondisi psikologis saya sebelum akhirnya saya harus ikut dengan suami pergi bersamanya ke kota kecil di Sumatra. I have everything good around me. Friends and job that I love.

Jogja adalah kota yang spesial bagi saya walau pun saya tidak lahir dan besar di sana. Suasana Jogja yang sangat bersahabat dan apa-apa murah bikin saya betah banget. Ditambah lagi cuaca Jogja yang lebih menyenangkan dibanding Jakarta. Hobi saya nonton juga makan, dan Jogja adalah surganya kuliner enak. Saya juga hobi main ke book store, even ga beli buku apa-apa, saya memang sering mampir ke toko buku tanpa alasan. Jarak Gramedia dan kantor saya nggak sampai 1 Km. Every week, saya juga pasti nonton film ke bioskop. Even untuk film jelek yang tiketnya saya dapatkan dari promo radio, saya masih rela menontonnya. Karena saya sangat suka suasana bioskop. Bagi saya, nonton film ke bioskop adalah salah satu pelepas stress paling jitu, selain makan enak. Tapi di lain sisi, saya juga cukup kesepian di Jogja.

Karena saya jauh dari keluarga dekat. Rasa kesepian ini akan membludak ketika kondisi kesehatan saya menurun dan sendiri meringkuk di kosan, atau seperti saat saya harus mempersiapkan pernikahan saya dulu. So stressfull. Apalagi kalo teman yang saya ajak menemani saya pada nggak bisa dan menolak karena mereka memang punya kesibukan lain. Saya sedih banget dan sering nangis ke Fadli. Sering banget! Tapi ini juga suka malah jadi bikin Fadli sedih, karena dia juga nggak bisa temenin saya, jadi feel useless. Hari-hari berat itu silih berganti tanpa seorang pun (selain Fadli) tahu. Saya adalah tipe manusia yang cukup periang di pergaulan. Ya seberat apa pun beban yang orang tahu—itu nggak sampai 20 persen dari beban yang sebenarnya saya rasakan. Setiap kali saya ngerasa sendirian, Fadli pasti selalu bilang; “..besok kan sama-sama mas di sini. Besok adek nggak sendirian lagi. Sekarang pun begitu, walau pun kita jauh”. Sambil ngangguk-ngangguk air mata saya ngalir ke layar ponsel yang menempel di pipi. Yes. He’s everything to me. Even since we’re not living together.

Itu kenapa saya sering membayangkan, finally I met someone who want to live with me forever. I wouldn’t ask for more. Apalagi saya perempuan, dan saya pasti akan merasa secure ketika ada orang lain yang memang bertanggung jawab menjaga saya, dan orang tersebut adalah SUAMI. Itu kenapa, membayangkan suatu hari saya akan bisa hidup berdua bersama Fadli, selalu membuat saya bahagia. Tanpa harus ditambahi embel-embel soal pikiran;

Tapi kalo saya harus tinggal di kota kecil di Sumatra. Saya nggak akan bisa lagi nonton bioskop, karena bahkan kota itu nggak cukup besar buat punya Gramedia. Makanan di sana pasti rasanya beda sama makanan di Jawa dan bahkan Fadli nggak bisa menjanjikan saya bisa ketemu signal 3G. Pasti akan banyak sekali tempat makan yang saya kangenin banget di Jogja. Bakmi Jawa yang selalu nyelametin perut saya yang laper tiap pulang kerja kemaleman, atau bahkan mie ayam enak yang sering saya beli walau letaknya 1 jam perjalanan dari kantor. Belum lagi teman-teman dekat dan kondisi yang bikin saya akan semakin jarang bertemu dengan Ayah saya.

Tapi kalau saya tanya sama diri saya; “mau tinggal jauhan dari Fadli?” Jawabannya selalu NGGAK MAU. Apa pun yang terjadi, kami harus selalu dekat, dan sebenernya nggak pernah sedikit pun terlintas di kepala saya untuk stay di Jogja dan memperpanjang episode LDR kami. Fadli pun nggak bakalan mau sama saya kalau saya nggak mau menemani dia hahaha. Itu kenapa, sebelum mengajak saya serius, pertanyaan yang dia ajukan adalah apakah saya mau menemani dia tinggal di kebun sawit, karena di sanalah Allah SWT sedang meletakkan rejekinya. I never think twice to say yes. Never. Nggak ada pikiran; worth it nggak yah? Atau bakalan betah nggak yah? I can do it, if I’m willing to do it. Never limit my self. Fadli tahu ini akan berat buat saya, that’s why dia bertanya apakah saya ‘bersedia’.

Beruntungnya, saya dan Fadli adalah pasangan yang selalu mengedepankan kejujuran dan keterbukaan. Fadli nggak pernah menutup-nutupi hal pahit apa yang akan saya hadapi. Seperti apa kebun tempatnya tinggal, bagaimana pergaulan yang akan saya hadapi di sana, cuaca seperti apa yang akan saya rasakan, dll. Saya tahu ini, karena setelah saya sampai di kebun, banyak ibu-ibu lain yang di awal masa tinggalnya curhat sering menangis karena kaget dengan situasi yang harus mereka hadapi. Karena sebelumnya tidak pernah diberi tahu. Tapi saya sama sekali nggak kaget. Karena Fadli bilang semuanya. Kalau pun saya nangis, biasanya ya karena kami berantem drama-drama lebay. Percaya deh, kami berdua itu sering banget berantem hahaha.. sama kaya pasangan lain. Mungkin bahkan lebih drama. Alhamdulillah, kami selalu cepat baikan setelahnya.

Dan setelah saya jalani beberapa bulan ini apakah terasa berat? Yas. Super berat. Super stress. But I’m more than happy. Bisa masak buat suami, bisa becanda sama suami di kamar setiap dia pulang kerja, bisa main sama suami, bisa peluk suami setiap dia sakit, bisa sholat di-imamin suami setiap saat, bisa baca Al-Qur’an bareng, cium tangan suami setiap dia mau berangkat kerja-setiap selesai sholat, even bahkan bisa berantem langsung. Bisa ke pasar sama-sama, bisa minta pangku sebelum dia berangkat kerja, dan nggak ada yang bisa menukar luar biasa rasanya bisa denger dia bilang “my favorite time every single day” setiap kali kami pelukan pas mau tidur.

Menikah dan pacaran tentu saja dua kehidupan yang berbeda, juga dibangun dengan komitment yang berbeda. But I never regret this. Stay by him side no matter what. Kehilangan pekerjaan? Why? Rejeki bisa dicari lewat jalan lain. Jangan nggak percaya sama kuasa Tuhan kalau kita mau usaha dan meminta. Jangan takut kekurangan, bila kita percaya bahwa suami akan selalu bertanggung jawab mencukupi kebutuhan kita. Saya suka mikir, pemulung saja bisa hidup dengan mengais sampah. Cleaning service dengan gaji pas-pasan saja anaknya bisa sekolah sampai tamat sarjana. Kenapa kita yang jelas berpendidikan lebih baik, dan punya kehidupan yang lebih baik harus takut jatuh miskin hanya karena kehilangan jabatan atau gaji di kantor?

Saya masih bisa cari cara lain untuk beli make up sendiri, contohnya dengan menulis. Tapi saya tahu, even pun saya nggak nulis, suami saya pasti mau membelikan saya make up, agar wajah saya terlihat cerah di hadapannya. Bukan saya nggak setuju mereka yang memilih hidup sebagai pekerja kantoran dan istri, tapi saya sedang membicarakan bagaimana bila situasi yang harus kamu hadapi—memang menuntutmu untuk harus keluar dari pekerjaan dan menemani suami di tempatnya bekerja? Tapi kenapa harus merasa “dituntut” bila kamu memang tulus menyayanginya? Adil, bukan dia bisa bekerja dan saya harus bekerja. Keadilan adalah ketika kedua pihak bisa menjalankan kewajibannya, dan mendapatkan haknya. Seimbang. Saya tidak pernah sekali pun merasa dicurangi atau dirugikan. Saya tahu kondrat saya sebagai perempuan. Dalam islam, perempuan punya drajat yang sangat tinggi. Bahkan, Rosul menyebut ibunya empat kali, sebelum akhirnya menyebut ayahnya—saat ditanya siapa yang wajib beliau hormati dan sayangi. Itu kenapa, surga ada di bawah telapak kaki ibu. Saya ingin menjadi istri dan ibu yang demikian bagi suami dan anak-anak saya kelak. Ibu yang pantas diberi syurga di bawah telapak kakinya. Karena berhasil menjalankan kewajibannya dengan baik.

Jadi pilihan apa pun yang pada akhirnya kamu ambil, berusahalah untuk tidak meninggalkan peran barumu sebagai seorang istri dan ibu. Jangan buat suami sampai meminta pada kita untuk menemaninya, datang dan temanilah dia selama kita mampu 🙂

Saya selalu ingat cerita suami saya tentang masa kecilnya. Ayahnya selalu ingin dia kerja mapan agar punya kehidupan yang lebih baik. Sedang suami saya ingin bisa jadi pengusaha yang punya banyak waktu untuk keluarga di rumah, bukan seseorang yang harus terikat jam kerja setiap hari. Karena kenangan masa kecil yang selalu dia ingat sampai sekarang adalah ketika ayahnya mengantarkan dia dan kedua adiknya pergi ke sekolah naik motor sederhana setiap pagi. Ayahnya bisa melakukannya, karena tidak harus berada di kantor jam 8 pagi dan berangkat kerja sebelum jam sekolah tiba. Suami saya selalu ingin kelak bisa jadi ayah yang punya waktu untuk mengantar anak-anaknya sekolah setiap pagi. Karena uang, tidak selamanya bisa memberikan kenangan manis. Tapi ‘waktu’ selalu mampu.

Tapi sekarang memang belum saatnya. Suami masih harus mencari rejeki dari kantor yang bahkan membuatnya terkadang harus bekerja hingga di luar jam kantor. Tentu saja tak apa, semua ada prosesnya. Kami punya cita-cita ingin punya kehidupan seperti apa kelak, dan kami tahu kami sedang berjalan menuju tujuan itu sama-sama. Semoga saya dan suami bisa senantiasa sehidup dan sesurga, dan semoga kamu pun bisa demikian dengan pasangan. Aamiin 🙂

June 22 / 2017

Advertisements

2 thoughts on “I WOULDN’T ASK FOR MORE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s