I’m Blessed

Ketika pada akhirnya, kami selalu merasa beruntung karena bisa saling memiliki. – falafu

Saya jauh sekali dari sempurna sebagai seorang istri, apalagi seorang ibu. Tapi saya tahu betul kalau saya sedang mencintai mereka berdua. Suami dan anak saya. Kebiasaan paling buruk yang susah sekali untuk saya hilangkan adalah ‘cengeng’, saya mudah sekali menangis. Saya pernah menulis dulu, kalau saya punya ayah yang galak—yang sering membentak anak-anaknya—yang kemudian membuat perasaan saya mudah sekali terluka. Walau hanya begitu bila berhadapan dengan orang-orang yang saya sayangi. Saya bisa dimarahi, dibentak, atau bahkan dipukul oleh orang lain dan saya bertahan untuk tidak menangis, tapi bila yang melakukannya orang terdekat saya air mata saya pasti sudah banjir di pipi.

Itu yang membuat saya sejak dulu selalu merasa kalau saya adalah manusia yang sulit untuk dihadapi. Pria yang akhirnya mau menerima kekurangan saya ini, pasti harus berjuang untuk bisa terus mencintai saya. Itulah yang suami saya harus hadapi sejak jatuh cinta pada saya. Dia sulit sekali menemukan cara untuk tidak membuat saya menangis bila kami dihadapkan pada suatu masalah. Karena melihat tatapan dia yang jutek saja, saya pasti langsung defensif dan menangis. Apalagi suami kebetulan orangnya galak wkwk (in a good way), jadi selama satu tahun pernikahan kami—kami berusaha keras untuk saling mengontrol ke-egoisan. Saya dengan ke-keras-kepalaan saya, dan dia dengan ke-kerasan hatinya. In the end, we’re aren’t perfect. Far far a way from that.

“I don’t want you to love me because I’m good for you, because I say and do all the right things. Because I am everything you have been looking for. I want to be the one you didn’t see coming. The one who gets under your skin. Who makes you unsteady. Who makes you question everything you have ever believed about love. I want to be the one who makes you feel reckless and out of control; the one you are infuriatingly and inexplicably drawn to. I don’t want to be the one who tucks you into bed; I want to be the reason why you can’t sleep at night.” — Lang Leav

Saya dan suami sudah sangat tahu ini sejak kami pacaran, sometimes I don’t know why we still stick together dan bahkan memutuskan untuk menikah. Kalau penjelasan gampangnya ‘ya mungkin emang udah jodohnya’, but hey.. there’s no such a thing as ‘gampangnya’ in relationship. Karena setelah saya pikirkan lebih dalam, kami berdua memang sama-sama keras kepala kalau kami itu pasti bisa jadi lebih baik bila sama-sama. Setiap kali kami selesai cekcok, pasti kami sama-sama mengatakan ‘nggak ada perempuan yang bisa ngadepin mas, kecuali adek. Beruntung banget lo!’ either pun suami akan bilang ‘nggak ada laki-laki yang bisa ngadepin adek, kecuali mas.. yang ada mah adek lah yang beruntung!’

Yap. Still. After long long complicated problems between us. Kami selalu merasa kalau kami beruntung bisa saling memilki saat ini. Jadi apakah kamu sudah yakin kalau kamu dan dia sama-sama merasa beruntung?

Jelas, setelah kita menikah, cuma pasangan yang tahu busuk-busuknya kita. Bahkan lebih tahu dibanding orangtua kita sendiri. Itu kenapa Allah selalu mengingatkan kita untuk saling bersikap selayaknya pakaian bagi pasangan kita masing-masing. Sebagai penutup aib dan kebanggaan. Cuma saya yang tahu, seberapa bau kentut suami saya kalau dia udah 2 hari nggak pup! Juga cuma dia yang tahu se-jelek apa muka saya kalau seharian nggak sempet mandi dan sleepless karena jagain bayi. Atau kebiasaan jorok saya yang lain. Apa kami saling memperlihatkan itu pas masih pacaran? YA NGGAK MUNGKIN LAH. GENGSI WKWK.

Kehidupan pacaran dan berumah tangga sangat jauh berbeda. Begitu pun soal financial, uang bisa jadi hal yang paling sering bikin rumah tangga bubrah. Kalo pas pacaran, cowok pasti bakalan berusaha buat treat well pasangannya demi gengsi. Tapi setelah menikah, kalian berdua harus sama-sama paham mana kebutuhan yang harus dipenuhi, mana yang cuma keinginan tidak penting. Apalagi saat sudah memiliki anak. Sebelum menikah, sebagai perempuan, kita harus belajar mandiri dan nggak banyak maunya. Jangan sampai bikin suami sedih, karena dia ngerasa nggak bisa bikin kita bahagia.

Ada kalanya suami harus nabung supaya bisa ajak saya traveling cantik dan bikin saya happy. Terus pas sebelum tidur dia bilang kalo hari itu dia bahagia karena udah bisa bikin saya happy, at that moment, saya merasa sangat beruntung sekali dicintai laki-laki seperti dia. Segala kurangnya yang lain? Saya masih sanggup menerimanya. And then I realized, kalau standard kita yang terlalu ini itu soal kriteria pasangan hidup tidaklah terlalu penting untuk dipertahankan. Selagi kita menemukan seseorang yang bahagia saat mencintai kita itu sudahlah cukup. Karena dia pasti akan selalu berusaha untuk membuat kita bahagia—bahkan tanpa kita harus memintanya.

Wajah kece? Mobil keren? Rumah mewah? Is that so important? Mungkin untuk sebagian orang iya, tapi tidak untuk saya. Semuanya cuma bonus saja dari Allah. Bukan sebagai parameter apakah hidup saya bahagia atau tidak bersama dengan dia.

I tell you someting, dulu sekali, saya pernah hidup sangat kecukupan. Tapi saya punya kakak yang nakal sehingga ibu saya terkadang kurang perhatian pada saya karena tenaganya sudah habis untuk menghadapi tingkah laku anak-anaknya yang lain. Juga punya ayah yang terlalu sibuk bekerja hingga hanya bisa bermain bersama anaknya saat weekend, itu pun kalau beruntung dia tidak ada pekerjaan saat akhir pekan tiba.

Kita selalu merasa berhak memiliki segala sesuatu melebihi porsi ‘cukup’, meminta dan berdoa sepanjang waktu untuk bisa mendapatkannya. Dan saat Tuhan kasih, ternyata menerima segala yang berlebih tidak sesederhana itu untuk dijalani. Bapak saya pernah bilang, laki-laki itu, kalau sudah punya uang terlalu banyak, sudah merasa bisa mencukupi kebutuhan anak dan istrinya, sudah bisa beli apa saja yang dia mau. Pasti ujung-ujungnya ya lari ke perempuan (selingkuh)—kalau dia tidak punya landasan iman yang kuat.

Contohnya? Buanyak! Gampangnya, bisa dilihat diinfotaiment. Karenanya, sejak dulu doa saya pada Allah hanya satu, saya ingin diberi pasangan yang setia karena ia sepenuhnya beriman. Sayang keluarga dan cintanya tidak sekedar karena apa yang terlihat—tapi juga apa yang ada di dalam hati saya. Fisik? Fisik bisa berapa lama bertahan, kecuali kamu Kylie Jenner atau keluarga Kadharshian (bener nggak sih ini nulisnya -_-), kamu nggak mungkin bisa punya body nyaris sempurna setelah kamu melahirkan anak-anakmu. Tidak hanya body, kekuatanmu juga pasti berubah. Karena saat hamil, tubuhmu membentuk kehidupan baru.

Suami yang mau bantu gendong anak pas rewel, nyuci baju pas istrinya sakit, atau gantiin belanja ke pasar pas istrinya hamil—jauh lebih penting dari harta benda yang berlebih saat kita sudah menikah. Alhamdulillah kalau bisa punya keduanya sekaligus (semua orang juga berharapnya seperti itu). Setidaknya itu yang saya rasakan—setelah 1 tahun pernikahan. Semoga bisa kasih kamu sesuatu, setelah baca posting ini 😀

PS:

Hari Sabtu, ART lagi nggak masuk jadi harus beberes rumah cepet-cepet. Alhamdulillah bayi tidur dan sejak kemarin banyak DM yang nanya kapan saya posting blog lagi. Semoga omongan ngalur ngidul saya bisa ada gunanya ya hehehe. Mau nulis yang galau-galau momennya lagi nggak dapet, padahal ya di luar lagi hujan. Kamu yang masih setia nungguin update-tan saya, terima kasih ya—sudah selalu membuat saya merasa ada manfaatnya hidup di bumi ini 🙂

Advertisements

2 thoughts on “I’m Blessed

  1. Kak, tulisanmu bermanfaat! saya selalu ngikutin tulisamu bahkan sejak di blogspot, sampe pindah wordpress. dan semakin bikin sadar, bahwa saya tidak sempurna. bikin saya harus “melihat” lagi. bahwa iklhas, sabar itu proses seumur hidup. tulisan mu menemani saya berjuang nemerima diri sendiri.
    http://falafu.blogspot.co.id/2014/04/lonely.html
    http://falafu.blogspot.co.id/2015/05/its-not-that-bad.html
    kedua tulisan itu masi saya simpan untuk saya baca bekali-kali :))). Terima kasih kak Fa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s