Yakin kah, kamu?

Setiap kali membuka DM pertanyaan ini sering kali muncul : Kak, apasih yang bikin kakak akhirnya yakin kalau suami kakak yang sekarang adalah jodoh kakak?

Honestly , kita nggak akan pernah bisa 100% percaya bahwa sesuatu akan benar terjadi—kecuali sesuatu itu adalah ajal. Siapa ya kan, yang bisa hidup abadi di dunia ini. Nggak ada. Even pun sama ‘kematian’ yang notabene kita tahu pasti bakalan terjadi aja, kita tetap kerap abai sama ibadah yang bakalan jadi satu-satunya pegangan kita setelah meninggal nanti. Apalagi cuma perihal jodoh. Kenapa saya bilang ‘cuma’ di situ, karena cinta itu syarat dengan nafsu. Banyak sekali syeitan yang mengganggu kita saat kita sedang jatuh cinta, karena di masa itu kita beneran lemah. That’s why masih banyak aja yang suka ketipu sama janji palsu, atau yang lagi-lagi dikecewain sama orang yang sama. Hayo ngaku? Hehehe. Ya karena itu tadi, biasanya ‘cuma soal cinta’ yang kita jadi tolak ukur, apakah seseorang beneran jodoh kita apa nggak. Bukan soal ridhonya orangtua, apalagi ridhonya Tuhan. Kita terlena hingga rela melakukan apa saja. Bahkan melakukan hal-hal yang jelas Tuhan larang—yang pada akhirnya membuat kita merasa tidak berarti, saat cinta yang kita pertaruhkan ternyata hanya omong kosong.

Saya pernah menulis, “kenapa sih pas PDKT rasanya lebih indah dari saat pacaran? Kenapa pas pacaran rasanya lebih manis daripada pas nikah? Ya karena pas PDKT dan pacaran lebih banyak syeitan yang mengganggu kita—yang bikin segalanya jadi terasa luar biasa mempesona. Namun saat pada akhirnya kita menikah dan menyempurnakan ibadah kita, godaan syeitan pun pasti berkurang.”

If I could turning back time, saya nggak bakalan mau pacaran sebelum saya menikah. Saya masih merasa sangat beruntung karena hanya menjalani 1 tahun pacaran, itu pun LDR. Kami bertemu sesekali saja, yang jelas sudah menabung banyak dosa, sebelum akhirnya kami halal melakukan apa saja yang kami mau. Saya termasuk beruntung, karena saat saya mulai dekat dengan suami, dia sudah lebih dulu mengajak untuk berhubungan serius—karena tidak semua orang bisa mengalaminya. Anggaplah itu adalah hasil dari doa orangtua saya—dan doa saya pada Allah SWT. Saya kerap berdoa “Ya Allah saya mau dipertemukan dengan satu yang akan tinggal selamanya di sisi saya.” Mungkin itu kenapa juga, saya lama hidup melajang. Bukan perkara tidak ada pria yang mendekati, tapi jujur saja setelah patah hati terakhir yang saya alami, saya merasa kebanyakan pria sama saja–mereka sulit untuk setia pada satu hati. Saya bahkan mulai tidak yakin ada benar manusia yang bisa membenci kebohongan, sebesar saya membenci kebohongan itu sendiri.

Jadi kalau ditanya apa yang membuat saya pada akhirnya yakin kalau suami saya adalah jodoh yang Allah pilih; pertama adalah karena sejak awal dia sudah menyatakan keseriusannya. Dengan datang ke rumah, berkenalan dengan keluarga saya—tanpa saya harus pinta. Dia pun mengajak saya untuk menikah, di saat saya memang siap untuk menikah. Saya selalu merasa Tuhan datangkan dia ‘di saat yang tepat’. Tidak terlalu lama dan tidak terlalu terburu-buru. Allah adalah pemilik alam semesta dan seisinya. Kalau kita minta, makan mintalah hanya pada Allah SWT. Rayu Allah dengan cara menjaga diri sebagai perempuan tahu batasan dosa, dengan bersedekah yang banyak (kalau kita bisa nabung buat beli hp, kenapa kita nggak bisa nabung buat kurban setiap lebaran haji–padhaal harga kambing sama hp mahalan hapenya). Kalau dosa dengan lawan jenis saja kita lakukan setiap hari tanpa merasa berdosa, apa hak kita merasa pantas Allah beri jodoh yang terbaik?

Hal kedua yang harus benar diperhatikan adalah bagaimana hubungan calon suami kita dengan keluarganya. Terutama dengan ayah dan ibunya. Kalau pria, lihat bagaimana dia memperlakukan ibunya saat mereka bersama. Itu kenapa, mengenal keluarga dengan baik adalah keharusan. Menikah itu bukan hanya soal menyatukan 2 hati, tapi 2 keluarga. Bukan hanya soal apa kamu sanggup menghadapi suamimu seumur hidupmu. Tapi apakah kamu sanggup menghadapi mertua juga adik-kakak baru yang kamu miliki dan menganggap mereka seperti keluargamu sendiri. Apalagi untuk seorang perempuan dalam islam. Hal yang harus diutamakan oleh suami adalah ibunya. Apa kamu akan sanggup menahan egomu untuk selalu mendahulukan ibu mertuamu, bahkan dibanding ibumu sendiri?

Saya personal sering mendengar curhatan teman soal bagaimana menyebalkan ibu mertua mereka, yang padahal ya seharusnya bisa mereka tahan untuk tidak mereka ceritakan pada saya. Jadi sebelum benar memutuskan untuk menikah, kamu harus paham betul di mana posisimu sebagai perempuan. Mungkin sebagian masih menganggap peraturan Allah ini menyulitkan. Tapi one day if you have a child you will understand. Apalagi kalau one day kamu bertemu dengan pria yang kamu impikan, kamu harus sadar betul, bahwa pria itu lahir dari rahim ibunya dan dibesarkan dengan kasih sayang ibunya. Hingga kini ia bisa menjadi pria yang capable untuk menjaga kamu dan juga anak-anakmu. Membesarkan anak itu tugas yang luar biasa berat. Apalagi membesarkan anak yang di kemudian hari bisa jadi suami yang bertanggung-jawab dengan pasangannya.

Intinya, jangan memilih kucing dalam karung. Bila pun sekarang kamu LDR dengan pasanganmu—usahakan kamu tetap bisa mengenal baik keluarganya. Ini pun bisa meminimalisir kemungkinanmu salah melakukan penilaian pada pasanganmu, atau dibohongi oleh pasanganmu sendiri. Trust me, setelah menikah kamu akan surprise melihat kebiasaan hidup pasanganmu. Setidaknya, kamu surprise bukan karena kebohongan yang dia buat sebelum kalian menikah.

Lalu, apa kamu bisa menerima kekurangannya terburuknya, seumur hidupmu? Kamu tahu, saya selalu percaya kalau cinta itu bukan tentang mampu menerima kebaikan yang ada di dalam diri seseorang, semua orang bisa melakukannya. Cinta adalah tentang bersedia menerima kelemahan-kelemahan dan terus menjadi suporter nomor satu seseorang untuk bisa jadi manusia versi terbaiknya. Sebelum menikah, kita mau buang angin di depannya saja gengsi kan? Atau at least kita ingin selalu terlihat dalam versi terbaik yang kita punya. Namun saat sudah berumah tangga you’ll be around him like every single day—mau ditutupin gimana juga, jeleknya kita pasti akan ketemu juga. Begitu pun jeleknya dia. So be ready, jangan pernah menikah dengan seseorang yang tidak sepenuh hati kamu butuhkan kehadirannya di dalam hidupmu. Karena pada akhirnya, sesuatu yang bisa membuat seseorang tetap tinggal adalah iman dan rasa saling membutuhkan.

Keras kepala pada hal buruk yang benar-benar tidak bisa kamu terima terkadang perlu. Setidaknya agar hubungan yang kamu jalani bisa lebih sederhana terlewati. Contohnya, saya paling nggak suka perokok. Saya selalu keras kepala untuk nggak pernah mau punya pasangan perokok. I mean, saya nggak mau buang waktu buat ngingetin ayah dari anak-anak saya seberapa berbahayanya asap rokok bagi istri dan anak-anaknya. Atau ribet minta pasangan saya berhenti merokok, yang ujung-ujungnya bakalan nambah materi buat berantem. Saya juga nggak pernah mau punya pasangan yang nggak kenal sama Tuhannya sendiri. Apalagi yang sholat aja mesti diingetin terus, atau dipaksa-paksa. Oh my God, I have no time for that. Jadi mau seberapa pun menariknya cowok, kalau dia termasuk golongan yang saya sebutkan tadi—saya nggak pernah berniat buka hati saya. Alhamdulillahnya, Allah kasih saya suami yang nggak merokok—yang sebenarnya adalah mantan perokok berat. Yes, sehari biasa habis 2 bungkus rokok—tapi pas Allah temuin ke saya, dia sudah stop merokok.

Kadang saya suka mikir, memang Allah selalu mengantar segalanya tepat pada waktunya. Selama kita konsisten dengan harapan dan doa-doa baik yang kita punya. Kenapa? Karena saya sebenarnya kenal dengan suami saya sejak tahun 2012, saat itu dia PDKT tapi entah kenapa menghilang begitu saja. Katanya dia merasa saya nggak merespon, jadi ya dia cabut. Di tahun 2012 itu dia masih merokok, bangun tidur ngerokok, boker ngerokok, abis makan ngerokok, ngelamun ngerokok pfftt. Tapi di tahun 2015, saat kami dipertemukan kembali, dia sudah berhenti merokok. Jadi sewaktu dia PDKT, saya open-open saja. Oh iya, di tahun 2012 itu saya tidak tahu kalau dia perokok ya hehe. Untuk hal yang satu ini saya sangat bersyukur. Allah baik banget 🙂

***

Tidak jarang kita hanya mengenal apa yang baik-baik dari pasangan kita tapi tidak berhasil mengenalnya dengan baik. Kita terpesona karena dia adalah sosok yang sopan, yang dewasa, yang lucu, yang pengertian dan bertanggung jawab. Tapi kita tidak tahu bahwa segalanya bisa hilang saat seseorang dipeluk amarahnya sendiri. Mengenal baik pasangan adalah berarti tahu betul wajah yang jarang atau bahkan tidak pernah sekali pun ia perlihatkan pada orang lain—bahkan mungkin padamu karena kalian tidak pernah menghadapi permasalahan yang memaksa kalian untuk saling egois once in awhile.

I don’t say kalau selalu bertengkar itu baik, tapi pertengkaran itu ada baiknya untuk dibiarkan terjadi karena tidak mungkin dua kepala bisa jadi satu tanpa ada perbedaan dalam memandang sesuatu. Saat kita tahu apa yang tidak disukai pasangan kita, maka kita akan dipaksa mencari jalan keluar bersama yang bisa membawa hubungan naik ke level yang lebih tinggi dari sekedar hubungan yang ‘selalu mengalah’. Percayalah bahwa ada banyak sekali pasangan yang memilih untuk berbohong hanya karena enggan menghadapi pertengkaran atau perselisihan. Dipaksa bukan karena terpaksa memahami adalah hal baik. Karena tidak jarang kita terlalu lembek pada diri kita sendiri, pada mimpi-mimpi kita sendiri.

Saat akhirnya kita memasuki hubungan yang lebih dari sekedar menghabiskan malam minggu bersama—tapi menghabiskan seumur hidup bersama, memiliki komitmen untuk bisa saling mencintai dengan cara yang bijaksana adalah keharusan.

Jadi hal lain yang perlu kamu tahu betul adalah, apakah  kamu bisa dan bersedia menghadapinya saat dia marah, seumur hidupmu? Dan apa dia juga bersedia melakukan hal yang sama.

***

Dan di atas segalanya adalah nomor satu untuk melihat akhlak juga keimanannya. Walau dalamnya hati manusia tidak ada yang tahu. Namun setidaknya, dia mengenal Tuhannya, tanpa harus dipinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s