Blog Post No.2: Curhat ART

Saya tergelitik untuk menuliskan kisah ini, karena di suatu hari yang lalu saya sempat mendengar nasihat seorang Ustad perihal mendidik anak. Beliau mengatakan; “Boleh saja anak kita diurus oleh pembantu (ART) selama kita bisa make sure bahwa ART tersebut mampu menggantikan peran kita, saat keberadaan kita tidak ada. Bisa dzikir pagi petang sambil momong anak misalnya, atau mengajarkan adab juga budi pekerti.” Di detik itu saya terdiam sambil berucap di dalam hati “Saya yang Ibu kandungnya sendiri saja, belum tentu mampu melakukannya. Bagaimana saya bisa menemukan seorang ART yang juga sanggup melakukannya.”

Sampai beberapa hari yang lalu saya tidak sengaja mengobrol dengan ART yang sedang menggendong bayi majikannya.. lalu kami mengobrol. Dia bercerita kalau sebelumnya dia bekerja di rumah seseorang yang menggajinya 2 juta per bulan, untuk mengurus rumah dan 2 orang anak. Kedua orang tua anak tsb bekerja, dan dia datang ke sana dari pagi hingga sore.

“Tapi saya nggak betah bu, soalnya saya ga pernah dikasih libur. Cuma bisa libur kalau saya sakit. Padahal saya kerja di sana sudah 3 tahun, saya ngurus anaknya yang kecil dari usia 40 hari.” Curhatnya.

“Itu sendirian mba ngerjain semuanya?”

“Iya, gampang aja sih kalau orang tuanya berangkat kerja ya biasanya anak yang bayi saya taruh aja biar main sendiri, kakaknya saya setelin TV juga udah anteng seharian.” Dia pun melanjutkannya dengan polos.

Hati saya tersenyum kecut. Ya memang apa yang bisa diharapkan dari seseorang yang kita ‘bayar’ untuk merawat anak kita? Dengan gaji 2 juta dan harus mengurus rumah juga 2 orang anak. Sedang kita yang melahirkannya sendiri saja kerap tidak sabar dalam mendidik anak-anak kita. Kerap lalai dan abai. Kerap mengeluh. Dan di detik yang sama saya kembali teringat nasihat Ustad yang pernah saya dengar ratusan hari yang lalu. “Kelak di hadapan Allah, orang tuanya lah yang akan dimintai pertanggung jawaban tentang akhlak anak-anak mereka.” Bukan pembantu yang dibayar untuk merawatnya, bukan nenek kakek yang dititipkan selagi mereka bekerja. Bukan. Tapi kedua orang tuanya.

Mba tadi mungkin tidak merasa apa yang dia lakukan keliru sehingga dengan entengnya curhat. Apa dia salah? Ya tidak. Karena memang ilmunya dia tidak punya. Dia menjalankan kewajibannya setiap hari, memasak, menyapu, mengepel, menjaga dan menyuapi anak-anak, hingga orang tua mereka pulang. Namun mendidik anak tersebut? Mengajarinya adab dan ilmu? Bukanlah bagian dari tugasnya.

Kita menilai seorang ART baik hanya ketika mereka baik dalam menjaga anak kita, pandai menyuapi, sabar menemani main. Namun apa kita melihat apa yang dilakukan ART tersebut setiap waktu? ART pun punya masalah hidup. Berantem sama suaminya, kesal sama anak-anaknya di rumah, lalu apa itu tidak akan ber-efek pada perlakuan mereka terhadap anak-anak kita? Nyaris mustahil, ketika kita saja saat stress pasti lebih mudah marah dengan suami juga anak kita sendir. Kalau kata Ustad “Dia berantem sama pacarnya, anak kita yang dijadiin samsak.” Nggak semua demikian, tapi banyak juga yang demikian.

Kapan kita pernah menganggap ART kita baik karena adab juga ilmunya? Bagaimana anak kita bisa belajar asma wa sifat Allah darinya, belajar tentang kejujuran, belajar tentang ketaatan kepada orang tua, diajari tentang sirah nabawi? Mengharapkannya pun jelas salah, karena ya kita harus menggaji ART tersebut puluhan juta sebulan untuk bisa mendapatkan seseorang yang punya kompetensi demikian.

*menghela napas panjang*

Saya tahu, tidak semua orang tua, khusunya ibu bisa selalu ada bagi anak-anak mereka. Karena setiap manusia punya prioritasnya masing-masing. Namun semoga kita tidak pernah lupa apa yang menjadi tugas utama kita sebagai orang tua di hadapan Allah. Sehingga apa pun pilihan yang kita pilih, kita punya ilmu yang cukup untuk mengatasi risikonya. Saya tidak menyarankan untuk meninggalkan anak kita sendirian di rumah hanya bersama dengan pembantu saja, atau baby sitter. Selama belasan jam dia berada di dalam pengasuhan orang lain, kecuali memang orang tersebut punya ilmu yang cukup untuk mendidik dan menjaga seorang anak manusia.

Saya juga sepenuhnya tahu, ada beberapa orang tua yang mungkin tidak jauh lebih berilmu dan berakhlak dari pembantunya sendiri. Saya pun masih jauh dari sempurna menjadi seorang ibu. Ya, setidaknya, jangan sampai anak kita lemah tauhid, dekat dengan kesyirikan, karena berada dalam pengasuhan orang lain. Apa yang saya ceritakan di atas adalah kisah nyata. Apa yang terjadi jika seorang anak sepanjang hari hanya menonton televisi? Banyak sekali efeknya, buruk jelas, salah satunya yang common adalah speech delay. Dan speech delay biasanya diderita oleh anak yang kedua orang tuanya bekerja. Kenapa saya bisa bilang demikian? Karena banyak terjadi di sekeliling saya.

Masa kecil anak manusia itu pendek sekali. Sedang angan-angan kita sebagai orang tua amatlah panjang. Kita bekerja siang malam agar pendidikan mereka kelak terpenuhi, kita bekerja siang malam agar mereka bisa punya hidup yang layak. Namun di sisi yang lain, kita sendiri yang membuat mereka telah kehilangan sebagian besar dari hak-haknya sebagai anak. Wallahu A’alam.

Bagaimana jika kita kembalikan pada sebuah renungan; bila usiaku tak sampai menemani anak-anakku hingga dewasa, apa yang bisa aku tinggalkan di dalam hati juga pikiran mereka untuk mampu tumbuh dalam ketaqwaan?

FALAFU
Advertisement

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s