Blog Post No.3: Sepeda Peluk Alesha

Masha Allah Tabarakallah.

Sejak menginjak usia 2 tahun Alesha sudah gencar meminta sepeda, karena kebetulan teman mainnya di lingkungan rumah kami semua punya. Namun kami sebagai orang tua tidak serta merta langsung memenuhi keinginannya, karena kami tahu tubuhnya belum cukup tinggi untuk menaiki sepeda ukuran 12 inch. Kakinya belum sampai sehingga kami pun belum menjadikan sepeda barang prioritas untuk dibeli. Terlebih juga kami sedang mempersiapkan untuk pindah kontrakan, akan banyak kebutuhan lain yang lebih premier untuk dipenuhi.

Namun bukan anak-anak namanya kalau mudah putus asa dalam mengharap. Alesha terus menerus menyampaikan keinginannya untuk punya sepeda. Setiap kali itu juga kami memintanya untuk berdoa kepada Allah, “Alesha minta sama Allah, Insha Allah pasti Allah kabulkan di waktu yang paling tepat. Walau bukan hari ini atau besok. Walau mungkin tidak bisa segera. Tapi pasti saat itu adalah waktu terbaik untuk Alesha punya sepeda.”

Sejak itu, hampir setiap malam sebelum tidur atau saat Alesha ikut ikutan sholat doa ingin punya sepeda selalu yang paling pertama ia panjatkan. Kadang ia merengek, kadang ia dengan sangat dewasa mencoba mengingatkan dirinya “Nanti Alesha juga punya sepeda kan Bu, dari Allah. Allah yang kasih.”

Saya sebagai ibu hanya bisa bersabar dan terus memberinya pengertian kalau kedua orang tuanya belum bisa membelikan sepeda. Nanti Allah yang kasih rejekinya untuk beli, Insha Allah.

Hingga bulan September pun datang, keinginan untuk punya sepeda semakin kuat, karena dia sudah semakin tinggi dan musim sepeda tiba-tiba menjamur di Indonesia yang membuat semua anak komplek setiap hari pasti main sepeda. Sedihnya, Alesha jadi suka ga diajakin main, karena dia sendiri yang nggak punya sepeda.

Suatu sore dia pernah pulang main dengan wajah pilu “Kata Kakak nggak main dulu. Alesha ga boleh main dulu.”

Saya dan ayahnya pun berpikir, mungkin karena Alesha ga punya sepeda, jadi keberadaannya kerap dianggap mengganggu teman-teman yang usianya lebih besar dari dia main sepeda. Ya tidak salah juga, anak-anak sudah fitrahnya demikian. Saya pun kembali bilang pada Alesha; “Yasudah nggak apa-apa, Alesha bisa main di rumah sama Ibu. Kalau temannya lagi ga mau main sama Alesha jangan dipaksa ya.”

***

Ada hari di mana dengan polosnya Alesha minta uang sama saya untuk beli sepeda.

“Ibu Alesha mau beli sepeda, minta uangnya boleh?”

“Berapa?”

“Dua ribu.”

Wkwkw. Dan sejak itu pula uang dua ribu tersebut dibawanya ke sana sini, karena dia merasa itu sudah cukup untuk beli sepeda.

Karena saya dan suami merasa Alesha sudah cukup bersabar selama beberapa bulan ke belakang, kami pun memutuskan untuk membelikannya sepeda sepulang suami saya dinas. Saya pun sempat mengajak Alesha untuk lihat-lihat sepeda di toko sepeda, sambil digenggam terus uang dua ribu rupiah pemberian saya.

***

Hingga suatu sore ketika sedang ditelepon neneknya Alesha dengan polosnya bilang “Nek, beliin Alesha sepeda dong, biar bisa Alesha naikin sepedanya!”

Singkat cerita, ternyata neneknya sudah ada keinginan untuk membelikan Alesha sepeda, hanya saja rencananya ingin dibelikan saat Alesha berusia 3 tahun. Diam-diam nenek mengirimkan uang untuk beli sepeda lewat tantenya Alesha, sehingga saya dan suami pun tidak kuasa menolak. Khawatir neneknya jadi sedih. Karena kebetulan suami memang tipenya tidak suka menerima pemberian orang tua, apalagi untuk kebutuhan keluarga kami.

Dengan izin Allah, Alesha pun punya sepeda baru, yang bahkan lebih bagus dari yang sebelumnya kami rencakan untuk beli. Lihat, bagaimana takdir Allah selalu indah.

Apa yang membuat saya terharu adalah ketika sepeda itu datang, Alesha bilang “Alhamdulillah ya Allah, Alesha punya sepeda.” Dan setiap kali saya minta berterima kasih, Alesha selalu menyebut Allah pertama kali sebelum ayah ibu juga kakek dan neneknya. Masha Allah Tabarakallah.

Tauhid. Itulah yang tidak saya miliki dengan baik sejak saya kecil hingga saya dewasa. Dan saya tidak ingin Alesha juga menjalani hal yang sama. Alesha harus menjadi anak yang mampu meyakini bahwa segala yang terjadi dalam hidupnya, terjadi karena kebaikan dan kebesaran Allah. Dan sungguh Alesha tidak bisa apa-apa tanpa pertolongan Allah atasnya. Bergantung kepada Allah, saya ingin Alesha selalu hidup dengan prinsip itu.

Dan dari Alesha pun saya belajar satu hal penting, konsistensi dan keyakinan 100 persen pada Allah adalah jalan untuk meraih kesuksesan.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Rabbmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku (berdo’a kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”

[Al-Mu’min/Ghafir/40: 60].

Dengan kesucian hatinya sebagai anak kecil, Alesha berharap dengan begitu sungguh-sungguh dan percaya pada Allah. Iya, Alesha hanya berharap kepada Allah, dan dia mendapatkan lebih dari apa yang telah orang tuanya rencanakan.

Bagaimana saya yang sudah setua ini saja bisa jadi hanya berdoa sebatas di lisan saja, tanpa hati ikut serta. Saaya dan suami tidak punya kemampuan apa-apa dalam mendidik dan membesarkan Alesha. Kami bahkan termasuk orang tua yang galak dan tidak sabaran. Allah lah yang telah memberi Alesha akal dan hati untuk berpikir juga merasakan. Rejeki Alesha telah Allah tuliskan 50.000 tahun sebelum dunia dan seisinya tercipta.

Alesha bisa bicara karena mulut dan syaraf yang Allah rejeki kan kepadanya. Bisa berjalan mengunyah makanannya atau sekedar memeluk juga tersenyum pun karena otot-otot di dalam tubuhnya. Tak ada yang bisa kami banggakan atas diri kami sebagai orang tua, yang dititipkan seorang anak.

***

Jauh berbeda dengan saya yang sejak kecil terbiasa bergantung dengan diri sendiri, dan saat dewasa merasa hebat karena bisa mandiri dalam melakukan banyak hal. Saya kerap lalai berdoa dan meminta pertolongan Allah untuk hal-hal sederhana, padahal bahkan untuk menarik satu tarikan napas ini saja saya tak akan pernah sanggup tanpa kebaikan dan pertolongan Allah.

Sedang sekarang, bahkan saat Alesha sembelit saya selalu meminta kepadanya untuk memohon pertolongan kepada Allah. Saat dia mengeluh tubuhnya ada yang sakit, saya memintanya berdoa kepada Allah untuk diberi kesembuhan. Saya hanya ingin dia tidak se-sombong Ibunya dahulu kepada Allah. Saya berharap dia hanya selalu berharap kepada Allah.

Advertisement

Blog Post No.2: Curhat ART

Saya tergelitik untuk menuliskan kisah ini, karena di suatu hari yang lalu saya sempat mendengar nasihat seorang Ustad perihal mendidik anak. Beliau mengatakan; “Boleh saja anak kita diurus oleh pembantu (ART) selama kita bisa make sure bahwa ART tersebut mampu menggantikan peran kita, saat keberadaan kita tidak ada. Bisa dzikir pagi petang sambil momong anak misalnya, atau mengajarkan adab juga budi pekerti.” Di detik itu saya terdiam sambil berucap di dalam hati “Saya yang Ibu kandungnya sendiri saja, belum tentu mampu melakukannya. Bagaimana saya bisa menemukan seorang ART yang juga sanggup melakukannya.”

Sampai beberapa hari yang lalu saya tidak sengaja mengobrol dengan ART yang sedang menggendong bayi majikannya.. lalu kami mengobrol. Dia bercerita kalau sebelumnya dia bekerja di rumah seseorang yang menggajinya 2 juta per bulan, untuk mengurus rumah dan 2 orang anak. Kedua orang tua anak tsb bekerja, dan dia datang ke sana dari pagi hingga sore.

“Tapi saya nggak betah bu, soalnya saya ga pernah dikasih libur. Cuma bisa libur kalau saya sakit. Padahal saya kerja di sana sudah 3 tahun, saya ngurus anaknya yang kecil dari usia 40 hari.” Curhatnya.

“Itu sendirian mba ngerjain semuanya?”

“Iya, gampang aja sih kalau orang tuanya berangkat kerja ya biasanya anak yang bayi saya taruh aja biar main sendiri, kakaknya saya setelin TV juga udah anteng seharian.” Dia pun melanjutkannya dengan polos.

Hati saya tersenyum kecut. Ya memang apa yang bisa diharapkan dari seseorang yang kita ‘bayar’ untuk merawat anak kita? Dengan gaji 2 juta dan harus mengurus rumah juga 2 orang anak. Sedang kita yang melahirkannya sendiri saja kerap tidak sabar dalam mendidik anak-anak kita. Kerap lalai dan abai. Kerap mengeluh. Dan di detik yang sama saya kembali teringat nasihat Ustad yang pernah saya dengar ratusan hari yang lalu. “Kelak di hadapan Allah, orang tuanya lah yang akan dimintai pertanggung jawaban tentang akhlak anak-anak mereka.” Bukan pembantu yang dibayar untuk merawatnya, bukan nenek kakek yang dititipkan selagi mereka bekerja. Bukan. Tapi kedua orang tuanya.

Mba tadi mungkin tidak merasa apa yang dia lakukan keliru sehingga dengan entengnya curhat. Apa dia salah? Ya tidak. Karena memang ilmunya dia tidak punya. Dia menjalankan kewajibannya setiap hari, memasak, menyapu, mengepel, menjaga dan menyuapi anak-anak, hingga orang tua mereka pulang. Namun mendidik anak tersebut? Mengajarinya adab dan ilmu? Bukanlah bagian dari tugasnya.

Kita menilai seorang ART baik hanya ketika mereka baik dalam menjaga anak kita, pandai menyuapi, sabar menemani main. Namun apa kita melihat apa yang dilakukan ART tersebut setiap waktu? ART pun punya masalah hidup. Berantem sama suaminya, kesal sama anak-anaknya di rumah, lalu apa itu tidak akan ber-efek pada perlakuan mereka terhadap anak-anak kita? Nyaris mustahil, ketika kita saja saat stress pasti lebih mudah marah dengan suami juga anak kita sendir. Kalau kata Ustad “Dia berantem sama pacarnya, anak kita yang dijadiin samsak.” Nggak semua demikian, tapi banyak juga yang demikian.

Kapan kita pernah menganggap ART kita baik karena adab juga ilmunya? Bagaimana anak kita bisa belajar asma wa sifat Allah darinya, belajar tentang kejujuran, belajar tentang ketaatan kepada orang tua, diajari tentang sirah nabawi? Mengharapkannya pun jelas salah, karena ya kita harus menggaji ART tersebut puluhan juta sebulan untuk bisa mendapatkan seseorang yang punya kompetensi demikian.

*menghela napas panjang*

Saya tahu, tidak semua orang tua, khusunya ibu bisa selalu ada bagi anak-anak mereka. Karena setiap manusia punya prioritasnya masing-masing. Namun semoga kita tidak pernah lupa apa yang menjadi tugas utama kita sebagai orang tua di hadapan Allah. Sehingga apa pun pilihan yang kita pilih, kita punya ilmu yang cukup untuk mengatasi risikonya. Saya tidak menyarankan untuk meninggalkan anak kita sendirian di rumah hanya bersama dengan pembantu saja, atau baby sitter. Selama belasan jam dia berada di dalam pengasuhan orang lain, kecuali memang orang tersebut punya ilmu yang cukup untuk mendidik dan menjaga seorang anak manusia.

Saya juga sepenuhnya tahu, ada beberapa orang tua yang mungkin tidak jauh lebih berilmu dan berakhlak dari pembantunya sendiri. Saya pun masih jauh dari sempurna menjadi seorang ibu. Ya, setidaknya, jangan sampai anak kita lemah tauhid, dekat dengan kesyirikan, karena berada dalam pengasuhan orang lain. Apa yang saya ceritakan di atas adalah kisah nyata. Apa yang terjadi jika seorang anak sepanjang hari hanya menonton televisi? Banyak sekali efeknya, buruk jelas, salah satunya yang common adalah speech delay. Dan speech delay biasanya diderita oleh anak yang kedua orang tuanya bekerja. Kenapa saya bisa bilang demikian? Karena banyak terjadi di sekeliling saya.

Masa kecil anak manusia itu pendek sekali. Sedang angan-angan kita sebagai orang tua amatlah panjang. Kita bekerja siang malam agar pendidikan mereka kelak terpenuhi, kita bekerja siang malam agar mereka bisa punya hidup yang layak. Namun di sisi yang lain, kita sendiri yang membuat mereka telah kehilangan sebagian besar dari hak-haknya sebagai anak. Wallahu A’alam.

Bagaimana jika kita kembalikan pada sebuah renungan; bila usiaku tak sampai menemani anak-anakku hingga dewasa, apa yang bisa aku tinggalkan di dalam hati juga pikiran mereka untuk mampu tumbuh dalam ketaqwaan?

FALAFU