Di nomor berapa?

Ada begitu banyak sabar yang harus disebar. Banyak sekali. Di setiap kita berusaha mencintai seseorang.

Konon katanya, bila kita mencintai seseorang karena “Aku suka dia karena dia begini dan begitu”, itu bukan lah cinta. Namun kekaguman. Dan kekaguman sifatnya sangat pendek, karena manusia itu makhluk yang dinamis. Bukan benda mati yang tidak mampu bergerak atau berubah bentuknya.

Karenanya di saat kita mencintai seseorang, seharusnya cinta itu hadir setelah kita melihat begitu banyak kekurangannya; namun tetap ingin menggenapkannya.

Cinta tak pernah sederhana. Akan ada perselisihan, saling menyalahkan, menangis karena hal hal sepele yang kerap begitu melelahkan. Namun cinta itu juga, yang akan kembali membuatmu pulih dan tumbuh di akhir senja.

Konyol rasanya seseorang merasa bahwa hubungan pacaran yang panjang, akan menjadikan dia (pasangan kita) adalah seseorang yang sangat amat kita kenal; hingga tak mungkin ada lagi kesalahan yang terlewat untuk mengakhiri sebuah hubungan–di kemudian hari. Kenyataannya; ya tidak mungkin.

Karena tak pernah ada yang tahu hari esok. Dan pasangan kita pun terus bertumbuh dalam setiap hari yang kita lewati bersamanya. Akan ada kesalahan yang baru, maaf yang kembali harus diucapkan, kekecewaan yang lagi-lagi datang. Dan itulah realitanya.

Apa yang mampu membuat seseorang mencintai kita sampai akhir, adalah rasa cintanya kepada Tuhan. Dan apa yang membuat kita mampu mencintai seseorang sampai akhir adalah rasa cinta kita kepada Tuhan.

Jadi, ada di nomor berapa Tuhan selama ini di hati kita?

Advertisement