Q&A part 1

masdianadewikhairiah

kak fa sempet khawatir dengan kehidupan pasca menikah ?

Honestly, no. Not at all. Karena pernikahan ini adalah apa yang aku pinta pada Allah, mungkin sekitar beberapa bulan sebelum aku dipertemukan dengan suamiku.

dianlputriii

Kak gimana kamu bisa yakin untuk kehidupan setelah menikah?

Berserah sama Allah SWT, sang pemilik alam semesta. Kalau kita sudah yakin dengan sepenuh hati bahwa Allah itu lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Insha Allah segala langkah akan terasa lebih ringan. Dan pastinya juga pasangan yang mau sama-sama berjuang.

ayuhannanasya

Pernah ngalamin patah hati hebat sebelum menikah ngga kak?

Pernah banget. Kebetulan aku anaknya selalu sungguh-sunggu setiap kali sayang sama seseorang (walau pun mengumbar perasaan macam begitu dosa banget) ya dulu belum paham. Kalau sekarang aku merasa bahwa patah hati yang aku alami adalah cara Allah sayang sama aku. Biar aku nggak lama-lama “happy” melakukan dosa besar.

tiara.wulandari28

Ka faa, gimana supaya bisa menikah tanpa khawatir tentang masa depan

Buatku, hidup tanpa kekhawatiran adalah hidup yang ‘boring’ dan itu tandanya kamu nggak punya sesuatu yang sedang kamu perjuangkan. Setiap kali kita punya tujuan, itu pasti sepaket dengan rasa khawatir. Dari kekhawatiran itulah lahir doa-doa baik. Banyak kekhawatiran yang kemudian justru bikin kita lebih dekat sama Allah. Jadi nggak perlu takut untuk merasa ‘khawatir’.

agitsnaprdytm

Ka fa gimana caranya ngeyakinin diri sendiri buat menikah?dan gimana caranya menerima kekurangan pasangan?

Punya pasangan yang sempurna itu sama mustahilnya dengan berusaha jadi pasangan yang sempurna. Nggak mungkin. Cara paling sederhananya adalah dengan menyadari kalau diri kita ini banyak juga kurangnya, bisa nemuin dia yang bersedia berjanji untuk mampu bertahan menghadapi kita seumur hidupnya adalah berkah yang tiada tara—bagaimana Allah jadikan manusia itu saling berpasang-pasangan dalam kebaikan. Kalau saya dulu bisa makin yakin karena kebetulan saya dipertemukan dengan pria yang jujur. Jadi at least saya nggak perlu khawatir bakalan nerima kebohongan dari orang yang paling saya sayangi.

nietafirda

Mbak Falalu kalo cari uang sendiri, hasilnya dipake buat apa Mbak? Kan udah dapet dr suami 

Biasanya saya tabung, saya termasuk orang yang nggak suka belanja. Jadi suka belanja setelah punya anak aja. Itu juga yang dibeli keperluan anak hehe. Tapi nggak jarang juga dipakai buat beli kebutuhan rumah tangga yang bentuknya kaya perabotan dll. Sekarang saya sama suami, lagi sama-sama jadi pengangguran hehe. Jadi harus makin hemat dan jadi ibu rumah tangga yang bijak pakai uang.

p_hawaa

Hi fa, selama jd ibu dan menjalankan peran sebagai ibu pernah ngalamin baby blues ga? Dan drama drama lainnya sebagai ibu baru?? Share dong.. Aku lg ngejalanin jd ibu baru dan tnp bantuan keluarga. Intinya single fighter lah,dan lg desperate ngerasain anak agal rewel bbrp hari inijd butuh semangat dari sesama ibu baru

Pernah banget dong hehe. Awal-awal melahirkan suka nangis nggak ada alesannya, pernah ngerasa kalau anak bakalan jadi penghalang saya buat bahagia (sumpah aneh banget wkwk). Aku juga nggak ada bantuan keluarga atau pembantu lho, murni berduaan aja sama suami. Tapi aku rasa support dari suami lah yang paling banget bantu selama masa jadi ibu baru kemarin. Jadi jangan ragu minta bantuan dari suami yah

yunitadwik

Kak Fa, belakangan saya semakin penasaran akan hal ini: bagaimana pada saat seorang laki-laki dan seorang perempuan sampai pada kata sepakat untuk menikah?

Kalau Allah yang sudah menggerakkan hati hambanya, siapa yang bisa nolak? Hehe one day you will understand

khaerotunnisaa

Ambisi sama cita2 itu sama gak ka? Kalo kepengen bgt atau ngusahainbgt pengen masuk univ negeri boleh gak? Itu termasuk ambisi atau cita2?

Kalau Allah bilang “sesungguhnya Aku mengetahui, apa yang tidak kamu ketahui”. Jadi selalu berbaik sangkalah akan setiap kegagalan yang kita harus hadapi. Jangan juga keras kepala pada harapan-harapan kita, karena terkadang itu justru jadi penghalang kita sampai pada takdir yang telah Allah persiapkan. Ambisi itu kadang suka nggak bikin happy ngejalaninnya, karena nggak jarang bikin kita sering mempertanyakan kemampuan diri sendiri.

sofiaazasa

Mbak, kalau ngadepin suami yang lagi marah gimana selain kitanya harus cooling down dl?

Sabar. Rumah tangga itu isinya memang sebagian besar ‘sabar’ hehe

nunu_aryasmitha

Ok, harta ga perlu ditumpuk.. Tapi pernah ngrasa “enggak berdaya” di masalah financial gak? Misal: kalau dulu kerja, bisa punya uang sendiri, bisa beli barang-barang bagus/mahal buat anak.. Setelah bergantung ke penghasilan suami, trus jalan ke mall, liat baju anak bagus-pengen beli-liat harga-enggak berdaya karena harganya yang ga sesuai budget..

Duh ya sering banget mba hehe. Sekarang kalau jalan ke mall lebih banyak window shoppingnya daripada belanja benerannya. Tapi percaya nggak, kalau semakin terbatas hidup kita, rasa syukur kita pun semakin sederhana. Asal, kita nggak hobi membandingkan hidup kita dengan orang lain. Dulu saya bisa kemana-mana naik mobil, sekarang naik motor dan sering kehujanan. Suka sedih kalau lihat anak kehujanan atau kepanasan, tapi begitu masuk ke dalam rumah dan merasa adem, hati selalu bersyukur kami masih punya rumah untuk berteduh. Karena banyak yang nggak punya di luar sana. Rosul pernah bilang, “neraka isinya banyak perempuan bukan karena mereka nggak sholat atau puasa, tapi karena mereka nggak pernah merasa cukup dengan apa yang suami mereka miliki.” Semoga kita dijauhkan dari sikap dan sifat yang demikian ya

iwanarifianto_kama

Berantemnya selama dua tahun berapa kali? Dan sapa yg sering ngalah

Wah banyak sekali tak terhitung jumlahnya hehe. Aku sama suamiku sama-sama keras kepala. Tapi kita sama-sama sadar kalau itu kelemahan kami.

doddyrakhmat

Apa yang harus disiapkan kalau mau resign dini? Dan kiat apa saja yang dilakukan untuk melalui struggle tersebut?

Tentu saja tujuan. Setelah resign mau apa dan punya planning apa untuk mecapainya. Sisanya percaya sama kebesaran Allah.

nindyasass

Kak lebih mending kerja tp jauh dari suami atau resign kerja tp deket suami? Berasa blm siap bngt kalau nganggur haha

Kalau aku lebih mending resign dan deket sama suami, then if one day ada anak, anak bisa selalu dekat dengan ayah ibunya. Kamu tahu, apa yang nggak bisa dibeli uang adalah waktu dan kebersamaan. Itu nggak bisa dibeli kalau buat aku, sebesar apa pun gedenya penghasilan yang aku dapetin dari kerjaan itu.

desizulfianaaa

Kenapa memilih resign kerja? Kenapa bisa seyakin itu dg pilihannya untuk menjalani hidup yg begitu pelik ini hehehe

My life is sooo much easier setelah bertemu dengan suamiku. Jadi resign justru menyederhanakan hidup yang aku miliki hehe

ririnnonti

Kak fa bagaimana menanggapi riba dalam hidup ini? Contoh, punya cicilan rumah atau mobil yg notabene pasti riba kalau bukan di bank syariah. Dan bagaimana kak fa berusaha menjauhkan riba itu sndri? (rumah tangga baru biasany godaan nyicil ini itunya besar, contohnya aku)

Hidup ini hanya sekejap mata dan harta adalah bagian ter-fana dari dunia ini—kalau buat aku ya tapi. Aku nggak bilang kalau aku dan suami udah terbebas dari riba ya. Tapi alhamdulillah walau belum punya rumah atau mobil, kami tetep berusaha untuk nggak tergiur ambil cicilan riba lewat bank dan semacamnya. Dosa terkecil dari riba itu sama dengan menyetubuhi orangtua kita sendiri, bayanginnya aja udah nggak kuat. Suami istri harus saling support, jangan suka membandingkan rejeki kita dengan rejeki orang lain, karena Rosul yang bilang ‘setiap kali kita iri sama rejeki orang lain, kita hanya sedang tidak tahu apa rejeki yang juga tengah Allah ambil dari orang tersebut’. Bersyukur itu penting banget, dan jangan mau dibujuk syeitan untuk mengumpulkan perhiasan dunia yang nggak ada harganya kalau kita sudah nggak di dunia lagi. Sehat adalah rejeki yang paling berarti lho, bukan mobil, bukan rumah, bukan harta benda.

ospaoktnst

mbak seberapa adakah rasa khawatir saat resign? dan saat buka usaja apakah menjalankannya besarnya atas dasar ‘butuh’ atau ‘ini passion gue terutama dibidang ini? dan saat masnya mbak resign atau sebaliknya (gatau diri ku mana yg duluan resign atau malah sama-sama) gimana respon mbak? apakah support atau khwatir? atau gimana? matur nuhun mbak fa 🙏🏾✨ allahuyubarik fiikum

Tentu saja ada rasa khawatir, namun alasan baik untuk resign jauh lebih banyak dari rasa khawatirnya—itu kenapa bisa yakin dan berserah sama Allah untuk ambil keputusan resign. Insha Allah apa yang kita tinggalkan karena Allah, akan diganti dengan yang jauh lebih besar. Selama kita mau berusaha.

imma13_

kak fa, dulu alasan memutuskan untuk menikah apa kak? memutuskan mau tinggal dimana setelah menikah. dan cara meyakinkan diri sendiri dan keluarga akan keputusan kakak gimana?

Karena sudah lelah bersandar pada tembok kamar, ingin bersandar di bahu suami wkwk. Seriusan, lelah harus mikirin ini itu sendirian, jadi minta sama Allah dipertemukan dengan pria yang bisa mendampingi. Kalau keputusan soal tinggal di mana dsb, buatku itu keputusan yang harus disepakati sebelum menikah. Jadi komitment awalnya seperti apa, biar meminimalisir percecokan nggak penting setelah menikah. Aku pokoknya waktu itu nyari yang jujur dan sayang keluarga, begitu ketemu ya nggak ada alesan lagi buat ‘nggak yakin’ hehehe. Kalau keluargaku tipikal yang nggak banyak aturan soal jodoh, jadi jodoh itu pilihan masing-masing dan jadi tangung jawab masing-masing. Jadi kalau sudah menikah ya harus bertanggung jawab sama pilihannya, baik atau buruk.

richheny

Gmna meyakinkan pasangan utk bs sejalan dengan pilihan hidup? Secara Kita tau, menyatukan dua pikiran yg berbeda itu pasti bnyk tantangannya

Landasan iman itu penting, at least kalau muslim sholatnya tegak dan jujur. Jadi pas sebelum nikah nggak banyak bohongnya, dan setelah nikah Insha Allah juga demikian. Aku punya buanyak banget temen yang suka bohong ke pasangannya, dan setelah menikah ya jadi udah kebiasaan bohong. Nah gimana bisa coba kita bangun rumah tangga dengan landasan begitu? Kalau udah sama-sama bisa saling menghargai, maka tujuan hidup ke depan pasti bisa dikompromikan dengan jalan yang terbaik—karena itu tadi punya pegangan iman. Kalau bisa ketemu pria yang memang bisa mengendalikan kita, mengendalikan dalam arti yang baik ya. Bisa nuntun kita kalau salah, bisa punya power untuk menyadarkan kita kalau salah dll. Soalnya ya, udah sifat dasar cewek itu ngeyelan, dan sifat dasar cowok itu gengsian. Jadi kalau dua-duanya nggak punya pegangan iman yang kuat, ya bisa bubar gitu aja. Dan satu lagi, menikah itu kaya sekolah, banyak dari kita yang berpikir kalau kita harus 100% ready jadi istri atau jadi suami yang baik saat menikah. Padahal ya istri dan suami yang baik itu juga butuh proses, saling mengenal dan memahami itu proses yang panjang. Apa yang kita tahu dari pasangan kita sebelum benar menikah hanyalah sekian persen dari sifat asli. Percaya deh hehe

masitoh_09

Bagaimana merawat hubungan agar tetap baik-baik saja? Saat segala cobaan mulai datang.

Tentu saja memegang teguh komitmen awal. Seperti alasan kenapa dulu menikah dan ingin saling melengkapi—selain juga ingat janji kita pada Allah. Buat aku rumah tangga yang bahagia itu bukan yang selalu bahagia, itu nggak mungkin. Karena emosi itu bentuknya nggak cuma bahagia. Ada sedih, ada senang, ada iri, ada cemburu dll. Rumah tangga yang bahagia adalah rumah tangga yang bersedia menghadapi setiap emosi yang datang dengan pelukan. Seperti aku dengan suami yang punya komitmen kalau kita nggak boleh putus/bercerai kecuali salah satu di antara kita berbohong (selingkuh misalnya). Itu kenapa sebesar apa pun pertengkaran yang kami hadapi kami bakalan tetep baikan. Dan nggak pernah kepikiran untuk ambil jalan pintas pisah dll buat menyelesaikan masalah. Kami hadapi, kami bicarakan dan kami berpelukan.

***

Terima kasih ya untuk yang sudah bertanya, maaf belum bisa dijawab semua. Please diambil yang baik-baik aja ya, yang buruk bisa ditinggalkan.

Advertisements

Bersedia Hadir

Pic credit: @ari.nunnunano

Kalau ada yang paling saya inginkan dari seseorang yang saya sayang adalah waktu dan juga kesabaran. Saya tidak begitu peduli soal sebanyak apa dia bisa memberikan materi juga janji—bila dia tidak bisa menyediakan waktu dan tidak mampu menghadapi kelemahan saya. Ada banyak waktu ketika saya harus menghadapi pasangan yang lebih banyak mengambil keuntungan dari keberadaan saya, daripada berusaha untuk memberi kehadiran di saat saya membutuhkan dirinya. Well dulu saya memang sepolos dan se-naif itu. Saya tidak berpikir banyak soal apa saya sedang dimanfaatkan atau saya sedang senang menjadi bermanfaat untuk dia yang saya sayang. Tapi menjalani yang demikian ternyata sangat melelahkan. 

Saya ingat ada momen di mana orang yang saya sayang sudah bisa melangkah lebih jauh di depan dan dengan begitu saja meninggalkan saya tanpa aba-aba. Dia berhasil menemukan kebahagiaannya yang lain lebih dulu, dan dengan senang hati memamerkan kebahagiaan itu. Bodohnya, saya bahkan tidak sanggup kecewa padanya—saya justru lebih suka mencari-cari apa yang salah yang ada di dalam diri saya sampai dia tega melakukan hal seperti itu. Saya mulai menyalahkan banyak bagian dari diri saya, kemudian merasa tidak pantas untuk dicintai dengan baik. 

Padahal apa yang menjadikan saya dan dia pada akhirnya tidak bisa bersama adalah karena salah satu di antara kami memang sudah tidak bersedia ‘hadir’ untuk yang lain. Sehingga tidak ada yang perlu ditanyakan—bila akhirnya justru menyakitkan. Saya hanya perlu lebih berani untuk menyayangi diri sendiri—sehingga tidak lagi ada seseorang yang saya biarkan hadir hanya untuk menjadi hal yang kelak saya sesali.

Ini menjadi pengingat yang baik, bahwa tidak ada cinta yang hadir bila tanpa kesediaan untuk selalu saling hadir. Bahwa waktu adalah hal terbaik yang bisa diberikan oleh seseorang yang mengatakan bahwa kamu adalah segalanya baginya. Tanpa keduanya, maka bisa jadi kamu sedang menjalani omong kosong terpahit dari jatuh cinta sepihak.

The Human Heart is Curved Like A Road Through Mountain

Banyak hal-hal yang belum terjadi namun begitu mengusik kita. Kita membiarkan diri kita berpikir terlalu keras untuk hari esok, sehingga lupa untuk menikmati apa yang masih kita miliki di hari ini. Saya termasuk manusia yang agak ribet soal mengambil keputusan-keputusan yang sepele. Itu kenapa saya harus berkali-kali mengingatkan diri saya sendiri untuk enjoy the moment while I can. Besok pasti akan baik-baik saja, selama kita menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya. Kalau pun ada keputusan yang keliru saya ambil pada akhirnya, saya hanya perlu merelakannya saja. Menerima konsekuensi dari kecerobohan saya itu—dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. 

Karena apa? Karena pada akhirnya waktu akan terus berjalan, dan segala kesedihan juga kemalangan yang datang akan punya waktunya untuk pulang. Saya pernah menulis bahwa apalah hidup tanpa kekhawatiran, namun apalah hidup bila hanya berisi kekhawatiran akan hal-hal buruk yang belum tentu terjadi? 

Dulu setiap kali patah hati saya kerap takut untuk memulai lagi. Begitu banyak ‘bagaimana’ yang saya biarkan hidup memenuhi hati saya. Bagaimana bila gagal lagi? Bagaimana bila harus mengulang kembali segalanya dari awal? Bagaimana kalo nyatanya tidak ada seorang pun yang sanggup menyayangi seseorang yang rumit seperti saya? Bagaimana bila ternyata kekecewaan hanya mengubah wajahnya saja? Akan melelahkan pastinya. 

Namun, di mana hidup yang tidak melelahkan? Nyatanya untuk setiap lelah yang datang, kamu selalu punya waktu untuk mengistirahatkan semestamu. Tidak ada yang berhak memaksamu untuk selalu kuat atau untuk selalu tegar. Kamu hanya perlu untuk bertahan agar bisa tetap selalu percaya. Pada apa saja yang bisa membuatmu utuh kembali. Karena sekali saja kepercayaan itu hilang dari dalam hatimu—segala yang ada di dalam dirimu akan meredup. Saya? Kepercayaan saya ada pada Tuhan. Saya akan selalu kembali pada-Nya, setiap kali saya mulai ragu dan khawatir. Dia adalah sebaik-baiknya pendengar, dan sekuat-kuatnya penuntun. Setidaknya itu yang saya percaya 🙂

Kita boleh jadi pengecut untuk bilang cinta. Tapi tidak boleh jadi pengecut untuk bisa berbahagia di atas kaki kita sendiri. Bahagia milik saya hari ini—tidak ada hubungannya dengan segala hal buruk yang pernah terjadi di masa lalu. Setidaknya, saya tidak akan pernah membiarkan itu terjadi (lagi). Karena mereka yang saya sayangi dan saya miliki saat ini, jauh lebih bernilai dari segala kekhawatiran akan hal-hal yang belum tentu terjadi.

Fa, 24 September 17

We’ve Learn how to Survive

Soon, when all is well, you’re going to look back on this period of your life and be so glad that you never gave up. – Haruki Murakami

People come and go. I mean, nothing’s gonna last forever is so damn true.

Siapa pun yang kamu cintai, akan ada saatnya pergi. Atau seberapa pun kamu mencintai seseorang, akan ada gilirannya kamu harus meninggalkan. Itu mungkin yang membuat Tuhan, tak suka bila kita terlalu berlebihan dalam memuja sesuatu atau seseorang. Terlalu besar kesempatan diri menjadi berpikir, bahwa segala hal bisa berjalan sesuai dengan yang kita rencanakan. Kita merasa lebih besar, dari Sang Maha Pemberi keputusan.

Saya punya teman atau bahkan mereka yang tidak saya kenal tapi bersedia menceritakan berbagai kisah rahasia yang mereka miliki—yang membuat saya akhirnya kerap berpikir kalau ada begitu banyak hal yang sedang kita khawatirkan—sedihkan—dan coba untuk kita lupakan; adalah hal yang sebenarnya telah kita tanam sejak ribuan jam sebelumnya. Namun kita tidak menyadarinya. Karena kita sedang terlena ‘kebaik-baik-sajaan’, kita sedang penuh dengan ‘harapan’. Kita lupa, harapan, hanyalah harapan selama itu belum terwujud. Tidak ada yang bisa memastikan 100 persen bahwa segala yang kita rencanakan dengan begitu hati-hati dan penuh percaya diri benar akan terjadi. Kita akhirnya melewati tahap; bersiap-siap.

Mempersiapkan hati bila harus patah. Mempersiapkan doa bila ternyata keteguhan upaya belum juga ada hasilnya. Mempersiapkan air mata bila yang kali ini harus kembali lagi kecewa.

Terkadang saya berpikir, apa yang membuat manusia begitu percaya diri saat kebahagiaan memeluk?

Saya pun kerap demikian. Hingga akhirnya Tuhan mengganjal kaki saya agar saya tak lupa, bahwa sebaik-baiknya mata kaki, mereka tidak bisa menunjukkan arah. Saya mulai lengah karena kenikmatan yang sedang saya punya. Itu adalah saat-saat mata saya dibutakan oleh begitu banyak hal baik yang sedang terjadi. Saya pun dijatuhkan-Nya lagi.

Karena bagaimana pun, hidup ini adalah roda yang terus berputar.

Lucunya. Seberapa pahit pun hati sakit—hingga rasanya tak ingin hidup lagi, saya tetap hidup dan masih baik-baik saja hingga hari ini. Karena kemarin, pada akhirnya akan berlalu juga. Pada akhirnya kita semua akan belajar untuk menyesuaikan diri dengan hal buruk yang sedang memeluk.

Saya ingat, saat saya masih tinggal di Samigaluh Jogja. Daerah yang bisa saya capai dalam 1,5 jam perjalanan dengan kendaraan bermotor dari kota Jogja. Jalannya menanjak dan tak punya penerangan. Rumah-rumah pun masih jarang ada. Jauh-jauh jaraknya. Saya tidak pernah menyangka bahwa saya si anak perempuan bungsu ini bisa pulang malam dari kota Jogja untuk bisa sampai ke rumah menemani bapak saya. Tapi karena keharusan, saya terpaksa mencobanya.

Hari pertama saya pulang kerja dan harus pulang naik motor, saya tidak berhenti berdoa di dalam hati sambil memutar musik keras-keras di telinga saya. Saya bahkan tidak berani melihat kaca spion LOL. Saya hanya berpikir, kalau saja motor saya sampai mati di tengah jalan, yang akan saya hadapi adalah jalanan yang gelap gulita. Bagian kanan saya tebing, dan bagian kiri saya jurang.

Seminggu berjalan, saya mulai terbiasa. Saya bisa membawa motor lebih santai, dan tidak lagi takut gelap. Sebulan berjalan, saya bisa bilang saya adalah perempuan tangguh hahaha… karena setiap hari saya berani menempuh 90 km perjalanan untuk pulang pergi kantor rumah dengan hanya dibayar 700ribu rupiah per bulan (jangan dibanding gaji saya saat bekerja di Jakarta, ini bahkan nilainya nggak lebih besar dari gaji asisten rumah tangga LoL).

Tapi saya bahagia. Karena saya tidak lagi kesepian. Karena akhirnya saya lepas dari depresi setelah Mama meninggal. Karena saya bisa beli buku kesukaan saya dan sesekali main ke bioskop dengan gaji seorang karyawan magang di Jogja. Setelahnya, dengan gaji UMR saat jadi karyawan tetap pun, saya mampu hidup dengan layak setiap bulannya, bisa bayar kosan, listrik dan menabung. Saya tidak pernah merasa kekurangan. Cukup saja segalanya berjalan. Padahal ya gaji tidak besar, dibanding teman se-angkatan saya di Jakarta yang sudah bisa berlibur ke luar negeri setiap tahun. Tapi saya tidak pernah sempat merasa iri dengan mereka. Karena hati saya penuh terisi dengan rasa syukur.

3 tahun berjalan. Gaji saya sudah berkali-kali lipat. Kerjaan saya makin banyak. Saya bahkan berhasil menerbitkan buku yang sudah tertunda selama bertahun-tahun. Tapi pengeluaran saya pun seketika menjadi lebih besar. Padahal saya masih tinggal di kos yang sama. Tetapi uang saya kerap saya pakai untuk hal-hal yang saya inginkan—bukan butuhkan. Yah.. namanya juga idup yah.

Manusia itu, sebenarnya di mana pun Tuhan leparkan untuk hidup. Di situ mereka akan bertahan hidup. Sebaik yang mereka bisa—bila mereka teguh dan jujur. Namun saat nikmat ditambah sedikit saja, keborosan dan kesia-siaan adalah hal yang akan datang pertama kali. Itu baru dalam contoh financial. Bagaimana bila urusannya sudah soal hati?

Tidak jarang saat Tuhan sedang memenuhi hati kita dengan cinta, kita tidak lagi bisa melihat Tuhan sedekat dulu lagi. Karena apa yang kerap kita doakan sedang terjadi. Tidak lagi butuh untuk berdoa terlalu banyak. Karena apa yang kita ingin sudah kita bisa kita peluk erat. Rasa saling memiliki antara kita dan dia yang kita cintai menjadi hal yang paling penting untuk dipikirkan sepanjang waktu. Seolah, tidak akan ada yang bisa memisahkan rasa cinta yang bahkan bisa membuat hati kita ingin meledak ini. Kita begitu mempercayai pasangan kita, hingga lupa bahwa dia pun masih manusia. Dan manusia adalah makhluk yang paling tidak bisa dipercaya.

Jadi siapa pun yang sedang kamu cintai saat ini. Cintailah mereka dengan bijaksana. Dan siapa pun yang sedang mengingkarimu saat ini. Bencilah mereka dengan sederhana.

Because in the end of the day. Everything just will be alright. We just need a reason to give up. Jadi jangan pernah biarkan diri memilih keputusan itu. Karena saat semuanya sudah berhasil kamu lalui dengan baik–kamu akan menjadi kamu yang lebih super dari kamu yang kemarin. We are stronger than we thought 🙂

31 March 2017

Kehilangan

tumblr

Terkadang kita lupa, bahwa nyatanya usia, mereka tengah menghitung mundur hidupmu. Maka lakukanlah hal yang nyata membahagiakanmu. Lalu bahagiakan mereka yang nyata kamu sayangi. – Fa


Sepertinya saya tidak akan pernah mampu terbiasa atas kehilangan juga rindu. Keduanya, setiap kali datang, selalu terasa seperti baru pertama kali terjadi. Saya akan tetap merasa hampa dan menangis karenanya. Melaluinya tak pernah bisa sederhana. Membicarakan tentang kehilangan pasti tidak akan pernah ada habisnya–karena hidup selalu mengantarmu pada kedatangan dan perpisahaan yang baru. Tapi satu yang saya sadari, mengetahui fakta bahwa tidak hanya diri sendiri yang mengalami kehilangan, tidak lantas mampu membuat segalanya menjadi baik-baik saja. 

Kehilangan tetap menjadi hal yang menyakitkan untuk dilalui. Karena segala yang menyakitkan, haruslah dilalui agar kita bisa sampai pada kebaik-baik saja-an. Kebanyakan mereka yang tetap tenggelam dalam kehilangannya, adalah mereka yang memilih menetap di atas lukanya. Bukan lantas melangkah, mencoba menemukan obat yang mampu menyembuhkan luka itu. 

Kehilangan karena kematian, selalu jadi yang paling menyakitkan. Kenapa? Karena tidak ada satu pun jalan yang bisa ditempuh untuk mendapatkan sebuah pelukan atau tatapan lagi. Tidak akan pernah bisa. Dan menyadari bahwa kita tidak sedang kehilangan seorang diri, tidaklah lantas mampu membuat segalanya menjadi baik-baik saja. Kehilangan bukanlah sesuatu yang bisa dibanding-bandingkan. Karena setiap manusia memiliki caranya tersendiri dalam menghadapi kehilangan yang datang. 
Begitu juga mungkin saat seseorang harus kehilangan keluarganya yang lain, atau bahkan kehilangan kekasih dan sahabatnya. Bahkan untuk kehilangan yang paling sederhana pun, manusia tidaklah mampu terbiasa melaluinya. Siapa yang mampu merasa terbiasa kehilangan uang yang tak sengaja jatuh? Setiap kali terjadi, selalu ada penyangkalan bahwa kita tidaklah pantas menerima kehilangan tersebut. 

Tetapi apakah benar kita tidak pantas menerimanya? Seandainya memang tidak pantas, apakah juga berarti kita tidak mampu menghadapinya? Saya selau percaya bahwa setiap kehilangan yang datang, pastinya datang untuk sebuah alasan baik. 
 
Seseorang yang pernah kehilangan, pasti selangkah lebih memahami, arti dari memiliki. Mampu memahami, bahwa tidak selalu ada kesempatan kedua untuk menyayangi seseorang yang begitu ingin disayangi. Hingga selalu berusaha sekuat tenaga memberi yang terbaik dari yang dimiliki. 
 
Karena esok, tidak ada yang pernah pasti dari esok kecuali bahwa kita hanya punya kesempatan satu kali untuk mati. Tapi janganlah lupa, kalau kita hidup untuk hari ini. Kita hidup untuk setiap saat yang tengah kita lalui. 

So, do your best to your beloved one. Love them enough. So you still can live forever ini his/her heart. Even when you already dead. 

***
 
PS:
Sudah lama tidak menulis. Lebaran bahkan sudah lewat. Sebelumnya, saya ingin meminta maaf apabila ada di antara kamu yang pernah merasa tersakiti atas deretan kata yang pernah saya tulis. Bahkan apabila bisa, saya ingin meminta maaf untuk setiap sakit yang saya ciptakan dari deretan kata yang belum saya tulis. 

Waktu

Waktu adalah hal yang tidak akan pernah kembali. Tidak, walau pun kita berteriak sampai suara kita ikut menghilang, walau kita menangis hingga mata kita enggan untuk terbuka.

Waktu adalah hal yang akan senantiasa berjalan ke depan tanpa ragu. Seberapa pun hati kita penuh dengan kebimbangan untuk melangkah, waktu akan dengan senang hati melindas kita bila kita memutuskan untuk berhenti.  
Saya termasuk manusia yang tidak suka ditunggu. Bagi saya, membuat seseorang menunggu adalah hal yang memalukan. Memalukan bagi diri saya sendiri. Itu kenapa, saya selalu berusaha sekuat tenaga untuk datang tepat waktu, atau justru lebih dulu sampai dari waktu yang sudah dijanjikan. Karena waktu sangat erat kaitannya dengan menepati sebuah janji. Kita, bahkan bisa menilai kepribadian seseorang dari seberapa baik dia memperlakukan waktu yang berjalan di dalam harinya. 
Saya juga paling tidak suka ditunggu karena saya begitu paham, bahwa menunggu adalah hal yang menyebalkan. Tidak ada seorang pun yang dengan senang hati mau menerima keterlambatan, atau sebuah janji yang diingkari dengan kesengajaan. 
Hidup saya, saya lewati dengan begitu banyak penantian yang menyebalkan. Karena bagaimana pun, sebagian besar manusia memang biasa hidup dengan kemudahan melepas janjinya sendiri. Tapi karena saya cenderung bodoh, saya bisa terus menunggu sampai berjam-jam terlewati. Saya akan terus duduk di tempat yang sama dan mencoba membunuh waktu dengan melakukan hal apa pun yang bisa saya lakukan. Memandangi langit, mengomentari seseorang yang berjalan melewati saya, menatap layar ponsel, membuka kembali notifikasi yang sebelumnya sudah terbuka, atau bahkan mencoba membunuh waktu dengan terus memandangi jam yang terikat di pergelangan tangan saya. Memastikan bahwa bukanlah saya yang sedang berdiri sebagai seseorang yang tidak menepati janjinya sendiri.

Mengerti Aku

favim.com


Kau tidak benar-benar mengerti aku, bila kau belum pernah membenciku–lalu tetap mencintaiku lagi setelahnya. – falafu


Kau begitu membuatku benci bila sedang marah, walau tidak sedang marah padaku. Kataku; Marah adalah hal yang melelahkan, satu tingkat lebih melelahkan dari diam. Tapi aku tetap mencitaimu setelahnya. Karena aku mau mencoba mengerti, karena aku memberikanmu kesempatan untuk menjelaskan keadaan. Begitulah cinta bekerja. 
Aku begitu membuatmu benci bila sedang berpura-pura baik-baik saja, walau tidak sedang berpura-pura padamu. Katamu; Berpura adalah hal yang melelahkan, satu tingkat lebih melelahkan dari menangis. Tapi kamu tetap mencintaiku setelahnya. Karena kamu mau mencoba mengerti, karena kamu memberikanku kesempatan untuk menjelaskan keadaan. Begitulah cinta bekerja. 
Kita, tidak pernah membiarkan jari kita saling menunjuk wajah masing-masing dalam pertengkaran. Karena itu adalah hal yang paling menyakitkan. Meninggikan posisi diri dengan menunjuk lebih rendah pada orang di hadapanmu. Orang yang katanya; paling kau mengerti. 
Kita, tidak pernah membiarkan mata kita saling berpaling dari wajah masing-masing dalam pertengkaran. Karena itu adalah hal yang paling menyakitkan. Memalingkan diri dari kenyataan, karena begitu takut menghadapi diri kita yang sebenarnya. Kita yang katanya; akan terus saling mengisi.
Kau yang paling tahu, bahagiaku selalu sederhana. Teruslah ada dan jangan kemana-mana.

“Honey just put your sweet lips on my lips. We could just kiss like real people do.” – Hozier