Blog Post No.1 : Keep Dunya in Your Hands not in Your Heart

Semua manusia mengejar kebahagiaan; cinta dan harta. Mereka yang sukses dunia adalah yang terbaik–demikian kesimpulannya. Aku pun termasuk salah satu di antara yang meng-amini kalimat tersebut ribuan hari yang lalu. Sebelum aku sampai pada sebuah ilmu;

Bahwa seluruh yang ada di dunia ini adalah ujian. Kaya atau miskin, cantik atau biasa-biasa saja, sehat atau sakit, dicintai atau ditinggalkan. Semuanya bisa sama-sama menjadi jalan menuju surga atau neraka.

Bukan berarti yang cantik pasti akan lebih mudah masuk ke dalam surga, sedang yang biasa-biasa saja berakhir di neraka. Bukan berarti si kaya akan mendapat surga firdaus, sedang si miskin akan mendapat tempat yang lebih rendah. Karenanya, dunia tidak lah tepat bila dijadikan tempat mengejar kebahagiaan–ketika sebuah kesementaraan adalah apa yang kita miliki di dalamnya.

3 bulan lalu kakak saya meninggal dunia. Rahimullah hanya tidur di rumah sakit selama 3 hari sebelum akhirnya pulang namun tidak lagi bisa mandi atau sholat sendiri. Kami yang memandikan dan mensholatinya. Di tengah wabah corona dan semua orang takut mati karennya. Kakak saya meninggal karena serangan stroke mendadak. Saya saat itu sudah tidak bertemu dengannya selama 3 bulan akibat PSBB. Dan kembali bertemu dengannya, namun tak lagi bisa mendengar suaranya.

Tidak ada yang menyangka, karena Ramadhan kami lewati dengan terus bertukar kabar. 2 hari sebelum masuk RS kakak saya rahimullah masih berbuka makan bakmi Jawa bersama anak laki-lakinya. Dan teleponnya sempat tidak saya jawab, kemudian menjadi penyesalan saya sampai detik ini. Kenapa missed call itu tidak saya jawab, padahal itu bisa jadi kesempatan terakhir kali mendengar suaranya di sambungan telepon. Chat terakhirnya di whatsapp adalah ajakan untuk ber-zakat. Iya, kakak saya ini adalah sosok yang soleh, yang penuh dengan kebaikan. Hingga hari ini, setiap kali notif akun media socialnya muncul di ponsel, saya masih tak percaya dia sudah tiada.

Iya, kematian memang sedekat itu. Tak perlu rencana jangka panjang seperti kredit cicilan rumah. Kematian bisa seketika menyapa siap atau tidak. Dan segala bahagia yang telah kita kumpulkan juga susun, akan tertinggal menjadi hisab yang panjang. Tak ada lagi yang menolong, dan tanpa keluarga yang mencintai kita karena Allah, tidak akan ada yang tertinggal untuk terus mendoakan kita. Karenanya instead, kita ajarkan anak-anak kita untuk mencintai dunia ini melebihi dari yang seharusnya, lebih baik kita kenalkan mereka pada syurga dan neraka juga Rabb mereka yang Maha Penyayang, namun siksa-Nya pun amat pedih.

Kematian itu amat dekat, sedang angan-angan manusia amatlah panjang.

Jadi adalah sungguh sia-sia bila hidup ini kita habiskan untuk mengejar kesuksesan dunia, dan merasa tidak beruntung bila kondisi hidup kita tidak lah sesuai dengan standar sukses orang lain. Apalagi sampai pada tahap membandingkan kemalangan kita dengan kesuksesan orang lain. So drowning.

Sekarang banyak ya, youtube content yang isinya dateng ke rumah orang terkenal dan selama sejam lebih cuma ngomongin gimana caranya bisa punya uang banyak, lalu tiada henti terkagum atas harta tersebut. Padahal kalau tahu ilmunya, sesungguhnya Allah melarang kita untuk membelalakkan mata pada harta dunia.

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk kami coba (uji) mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. [QS. Thaha:131]

See, lihat bahwa bunga kehidupan pun adalah ujian. Mereka yang beriman, mampu melihat keduanya (kebaikan dan keburukan) sebagai ujian pun sebagai nikmat. Sehingga, mereka tidak lah bersedih hati kala diuji (mampu bersabar) dan tidak jumawa saat diberi kelapangan. Dan yang terpenting lagi waktu juga pikiran mereka tidak lah habis hanya untuk perkara dunia yang sia-sia.

Maka sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah nikmat dunia. Dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepad Tuhan mereka, mereka bertawakkal. [QS. Asy Syura:36]

Manusia secara umum terbagi menjadi 2;

Orang yang memilih jalan yang sempit (lagi berlubang) namun jalan tersebut akan mengantarkan mereka pada destinasi yang begitu indah dan nyaman. Atau seseorang itu memilih jalan yang bagus lagi mewah, namun justru ujung jalan tersebut mengantarkan mereka pada kebinasaan.

Ini adalah nasihat dari Al Imam Ibnu Hazm Rahimullah.

Life isn’t that hard if we knew the Qur’an. Namun jika kita berjalan di atas dunia ini tanpa ilmu (Qur’an dan hadits), bahkan perkara melihat mana yang halal dan haram saja kita pasti buta. Haram dalam Islam bukan hanya soal babi, memperlihatkan letapak kaki kita di hadapan yang bukan mahrom saja haram. Karena kaki adalah aurat. Namun berapa banyak perempuan yang menyepelekan dosa ini. Berapa ratus ribu atau juta langkah mereka telah tempuh dalam dosa selama hidup? They can’t even counting it, tapi Allah adalah Dzat Yang Maha Teliti, setiap tetes hujan pun tak mungkin luput dari pengetahuan-Nya.

Begitu banyak manusia mengumpulkan perhiasan di lemari mereka, mengenakannya bergantian saat mereka pergi. Karena mereka tidak mengetahui, bahwa sebaik-baiknya perhiasaan di dunia ini adalah wanita yang solehah. Ketika akhirat begitu jauh dirasa, kematian tak pernah sempat diingat, maka dunia akan menelan habis seluruh waktu dan kesempatan yang kita miliki, sehingga yang kelak kita dapat dalam keabadian hanyalah siksaan yang panjang. Naudzubillah.

Advertisement