Mengalah Padamu Itu Indah

Mengalah tanpa harus merasa sedang ‘kalah’

– falafu

Sebelum tidur kami selalu berdoa bersama, lalu setelahnya saling mengucap terima kasih. Dia sering mengucap ‘Terima kasih ya adek sayang, untuk berantemnya hari ini. Untuk perhatiannya. Untuk kesabarannya yang tidak pernah berhenti.’ Dan saya pun sering mengucap padanya ‘Terima kasih ya Mas, untuk sayangnya sepanjang hari ini, untuk marahnya karena adek bandel, dan untuk selalu ada disitu—menemani adek yang sendirian di sini’.

 

Ya, saya harus mengakui kalau ritual kami di setiap malam tersebut sangatlah berpengaruh dalam hubungan kami. Tidak jarang ketika kami berantem sebelum tidur, salah satu di antara kami akan sengaja melewatkan kebiasaan ini—hanya untuk membuat kesal yang lain.

24 Oktober 2016 adalah tepat 1st anniversary kami, dan saya sempat bertanya pada dia di sambungan telepon ‘Mas, kita dalam setahun ini udah berapa kali berantem ya kira-kira?’ lalu dia jawab ‘Ya itu 365 hari aja dibagi 2’ hahaha.. iya, kami memang sering sekali berantem. Selain karena kami LDR, kami juga punya sifat yang keras. Dia keras hati, dan saya keras kepala. Hanya saja, karena begitu seringnya kami saling menjalin komunikasi, kami menjadi sangat merasa begitu kehilangan setiap kali kami sama-sama bertahan dalam ‘diam’ kami saat berselisih. Namun seperti yang pernah saya tulis di instagram, bahwa kami tidak pernah membiarkan marah kami bertahan lebih dari satu hari. Well, saya pernah sih bertahan diam sampai nyaris 2 kali 24 jam, namun itu hanya terjadi 1 kali di selama 1 tahun kami bersama. Itu juga karena saya marah sekali padanya. Dan saya tahu, dia pun bisa memahaminya. Karena saya tidak pernah seperti itu sebelumnya.

Lalu saya tersadar, bahwa hubungan itu selalu berjalan bagaimana kita terbiasa membiarkan hubungan itu berjalan. Saya dan dia, tidak pernah membiasakan untuk lama-lama dalam diam—maka kami pun selalu menganggap hal luar biasa pasti sedang terjadi di dalam hati kami, bila salah satu di antara kami sampai memilih untuk diam. Saya sering sekali ngeyelan, dan dia sering sekali galak. Karena memang itu sudah jadi tabiat buruk kami yang paling utama. Kedua hal ini jadi yang paling mudah memicu pertengkaran di antara kami, dan beberapa bulan belakangan ini lah, kami baru mulai pandai saling mengalah tanpa harus merasa sedang ‘kalah’. Itu butuh proses. Itu pun butuh kejujuran yang tiada henti. Kami berdua, tidak terbiasa berpura sedang ‘baik-baik saja’, bila salah satu di antara kami merasa terganggu, kami pasti akan dengan senang hati menceritakannya. Dan setiap malam sebelum kami tidur, adalah waktu yang paling baik untuk mengatakan ‘terima kasih’ bila salah satu di antara kami telah bersedia mengalah, agar kami tetap bisa berbahagia.

I don’t know apa ini akan juga bisa terjadi di dalam hubungan yang lain, tapi ini sangat berpengaruh di dalam hubungan kami. Dan tidak seperti pasangan yang sedang PDKT dan bisa selalu menerima setiap tantangan, pasangan yang sudah bersama untuk beberapa lama, akan lebih egois. Karena merasa lebih memiliki dari yang sebelumnya, karena merasa lebih berhak atas yang lainnya. That’s bad, kalau dibiarkan menjadi kebiasaan.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berbincang dengan teman yang sudah menjadi seorang suami dan ayah. Dia bilang, ‘Biasanya di tahun ketiga pernikahan laki-laki akan merasa bosan pada istrinya. Dan pilihannya hanya dua; setia atau selingkuh’. Mendengarnya saya cukup terkejut. Dia lalu melanjutkan ‘Dan sangat sedikit laki-laki yang bisa jujur pada istrinya—kalau dia sedang bosan. Karena rasa takut akan menyakiti’.

Saya cukup tergelitik dengan pengakuan ini, karena tidak lama sebelumnya juga seorang teman perempuan saya pun, yang sudah menjadi istri dan ibu sempat curhat ‘Dateng ke kantor itu hiburan banget buat aku. Setelah seharian bareng anak dan suami di rumah. Ketemu setiap hari sama mereka. Bahkan aku pernah ngerasa happy banget waktu tugas luar kota. Aku bisa bangun sesukaku, dan tidur sesukaku’.

Wow bukan? Dan bukan berarti mereka berdua adalah istri atau suami yang jahat. Mereka hanya manusia. Manusia pasti bisa merasa bosan, pasti bisa merasa lelah, pasti bisa merasa ingin yang lain. Tapi di situlah letak indahnya iman dan cinta. Ketika kamu bersedia melepaskan ego demi kebahagiaan mereka yang telah menjadi bagian baru di dalam dirimu–keluargamu. Suamimu. Istirmu. Anak-anakmu. Saat kamu benar menemukan makna indah dibalik kesediaan untuk mengalah.

Saya juga sempat bertanya pada teman laki-laki saya, ‘Punya anak bahagia banget pasti ya? Apalagi anak ini sudah lama dinanti?’ dia kemudian tersenyum dan bilang ‘Aku kemarin baru baca kata mutiara; dibalik berkah yang besar, selalu ada tanggung jawab yang lebih besar. Luar biasa bahagia itu jelas, sampai akhirnya dihadapkan pada tuntutan hidup yang lebih besar, karena sekarang aku juga punya tanggung jawab sebagai ayah.’

Tantangan untuk menjadi dewasa tidak akan pernah putus hingga akhirnya nyawa kita diputus oleh Tuhan. Dengan mau mendengarkan, dengan itu pula kita bisa belajar memamhami apa yang belum kita hadapi. Tulisan ini hanya sekedar berbagi—semoga bisa berarti buat kamu juga ya. Yuk, kesayangannya kamu juga didengarkan inginnya.

And hai Mas sayang, happy anniversary yaaaah. Kalo ngegombalnya sih udah sering ya tiap hari. Biar jadi bahagianya kita berdua aja ya hehehe. Teruslah jadi seperti ini. Menyayangiku tanpa membebaniku dengan janji-janji manis. Ayo mendewasa bersama—sampai akhir nafas kita  🙂

Advertisements

IF I’M NOT THE GIRL, JUST SAY IT

pic credit: favim
pic credit: favim

Entah sejak kapan istilah PHP muncul ke muka bumi ini. Mungkin sejak zaman social media jadi ajang eksistensi banyak orang, sehingga semakin banyak media untuk anak muda ‘ngarep’ dan ‘ngarep’. Nggak bisa dipungkiri dong kalau PHP biasanya dateng dari cowok, ya well—walau pun nggak sedikit juga cewek yang suka sengaja ngasih harapan kosong—but hey, ini blog cewek, jadi kita bakalan bahas dari sudut pandang kita dong ya :p

Nggak ada deh cewek yang suka di-PHP-in, apalagi ditinggalin gitu aja abis dikasih sejuta harapan. Let me tell you something, yang ini sebenernya udah jadi rahasia umum di kalangan cowok-cowok. ‘Dapetin hatinya cewek itu gampang, kasih aja dia perhatian nggak putus-putus, terus ngilang deh. Pasti mereka bakalan kelabakan ngerasa kehilangan’. That’s so sh*t  I know, but well, face it girls, kita emang kadang se-mudah-itu-buat-ditaklukin.

Jadi, jangan mau lagi dibegitu-in. Kita nggak layak dapet perlakuan PHP—dan lebih nggak pantes lagi jatuh hati sama cowok yang bahkan nggak berani buat bilang ‘I’m not into you’—dan ngilang begitu aja. Kenapa? Ya karena kita memang berhak dapet kepastian!

No drama please

Ya Allah, hidup jadi anak muda di masa sekarang tekanan udah banyak banget loh. Sekolah and kuliah berjam-jam, belom masih ditambah les ini itu, belom lagi tuntutan pergaulan yang kadang bikin kita harus ada di tempat yang nggak kita suka, belom lagi bikin alis yang makan waktu dan kesabaran luar biasa, masa iya sih masih harus merana gara-gara gebetan tau-tau punya ‘hobi baru’ bales pesan kita dengan dua kata ‘ya’ dan ‘ngga’. Kalo emang nggak mau lagi ngobrol, bilang kek. Nggak usah pake segala nyuekin dan bikin kita jadi mikir kalo kita abis bikin salah.

Cewek itu strong tau

Kadang cowok suka ngerasa cewek itu drama banget kalo harapannya kandas, padahal tanpa mereka sadari ya drama ini dateng dari sikap cowok yang nggak jelas. Malem masih bilang kangen, tau-tau besoknya udah lupa nyapa selamat pagi. Cowok suka segala pake ngerasa ‘ngejaga perasaan’ dan akhirnya nggak tega buat bilang kalo ‘kayanya kita sampe di sini aja’. Kami itu emang cewek, tapi kami bisa kok nelen yang pait-pait. Karena apa? Karena kami juga berhak buat tahu perasaan cowok yang sebenarnya. Kalau emang udah bosen, kalo emang ternyata ketemu yang lebih baik. Well, just say it guys. We will cry, but we will get over it (much sooner).

The worst part

Perasaan terburuk dari di-PHP-in adalah ketika cewek akhirnya bertanya-tanya hal apa yang kurang dari dirinya sampe bikin gebetannya gone. Terus setelah akhirnya secara surprise ngeliat cowok yang selama ini deket jadian sama perempuan lain, mulai deh cewek doyan ngebanding-bandingin diri sendiri sama cewek pilihannya itu. Belom lagi akan dimulai stalking tiada akhir. Sampe akhirnya kena block mantan gebetan (hadeh ada aja), makin jadi deh sedihnya. Girls, we don’t deserve it. Please don’t do this. You are beautiful and precious.

If he really wanted to be with you, you wouldn’t have to try so hard

And it’s true Squad. Kalo dari awal selalu harus kamu yang usaha. Selalu harus kamu yang nyapa duluan. Selalu harus kamu yang ngajak jalan. Well, maybe you just fall for the wrong guy. Jadi mungkin aja PHP ini dateng dari situasi yang kamu create sendiri dari awal. Love is take and give. Padahal nyatanya dia emang nggak pernah bilang apa-apa ke kamu yang itu menjurus ke perhatian yang lebih dari temen, tapi kamu aja yang ngerasa dia punya perasaan lebih. Siapa tahu kan dia emang cowok tipe tebar pesona, atau cowok yang emang baik ke semua orang.

Jadi fix kan, kalo sebagai manusia kita nggak layak di-PHP-in dan nggak juga boleh ngebiarin diri kita terbuai sama harapan yang nggak nyata. Dan buat cowok, bersikaplah selayaknya pria sejati. If I’m not the girl you are looking for, just say it!

falafu

dipublish juga di http://www.amazara.co.id

Di hatimu

Aku ingat aku pernah memintamu pada Tuhan. Bertahun-tahun yang lalu saat aku mulai tidak percaya bahwa masih ada manusia yang menganggap kalau; setia adalah sesuatu yang lebih berharga daripada harta.

Kamu adalah pria yang tatapannya selalu mampu membuatku merasa dicintai, yang doa-doa baiknya senantiasa memelukku sebelum aku jatuh tertidur. Yang genggamannya selalu berhasil menguatkan dan menyelamatkanku dari keterbatasan.

Kamu tidak pernah membiarkanku menyebrang di sisi yang tak aman. Kamu selalu melangkah lebih dahulu setiap kali ada pintu yang harus kita tuju. Kamu tak pernah suka bila perutku tak penuh terisi. Kamu mudah kesal bila aku memotong penjelasanmu setiap kali kita berselisih. Begitu pun selalu marah bila aku mulai mengingat kekurangan yang ada di dalam diriku.

Dan kamu tak pernah meminta apa-apa kecuali kesediaanku untuk setia.

Kamu selalu mendengarkan dengan baik permintaan ibu dan ayahmu, menjaga mereka dengan begitu pantas. Karenanya aku selalu berusaha memantaskan diriku untuk bisa selalu dicintaimu. Kamu selalu menempatkan perasaanmu di belakang perasaan banyak orang yang ada di dalam hatimu–karena mereka adalah keluarga. Karenanya, aku selalu ingin menjadi seseorang yang paling pertama memeluk kelelahan juga keresahaanmu, lalu menyekanya dengan cinta.

PicsArt_05-24-07.43.31

Aku selalu bersyukur pada Tuhan karena kamu yang ada di sisiku saat ini. Kamu adalah seutuhnya bahagiaku. – Katamu

Aku pun ingin kamu tahu, bahwa kamu memiliki segala yang aku pinta pada Tuhan selama ini. Terima kasih sayang, karena telah menyayangiku dengan cinta yang santun. Dengan sikap yang penuh rasa hormat. Dengan prasangka-prasangka baik yang selalu kamu coba tanamkan di antara kita. Terima kasih karena sudah setia mendoakan ibuku setiap hari–walau nyatanya kamu belum pernah bertemu dengan beliau.

Aku hanya ingin perempuan yang sederhana dan setia. – Katamu.

Terima kasih Fadli Dermawan, karena kamu telah mengajarkanku tentang nilai kejujuran dan kerja keras. Membuatku percaya, bahwa masih ada kebaikan dan ketulusan yang tumbuh subur di hati manusia. Di hatimu. 

Happy #24 Sayangku, 

Falafu. 

*sebagian tulisan ini diambil dari buku FALAFU #MemberiJarakPadaCinta (dan kehilangan-kehilangan yang baik).

Iya sayang, tulisan itu untuk kamu dan pasti kamu belum sampai di halaman yang ini :p

Untuk siapa pun yang dilupakan lebih dulu

It’s easy to forget things you don’t need anymore. – Haruki Murakami

Jauh sebelum hari ini, saya pernah mengatakan bahwa; menjadi yang dilupakan lebih dulu tidak pernah mudah.

Karena kenyataanya, bagi saya, menjadi yang tidak melakukan kesalahan apa pun (dan ditinggalkan) tidak lah lantas membuat upaya merelakan menjadi lebih sederhana. Terakhir kali saya dilupakan lebih dahulu, orang tersebut sudah memiliki perempuan lain yang dia panggil ‘sayang’–atau setidaknya memiliki seseorang yang tidak lupa menanyakan pada dirinya ‘Sudah makan belum hari ini?’. Dan well, rasanya pahit. Racun yang ditelan, namun tidak masuk pencernaan tapi mengalir langsung ke hati dan pikiranmu. Perasaan yang awalnya ‘Marah’, seketika berubah menjadi ‘Sedih’. Sedih yang tidak tahu harus diapakan. Sedih yang lantas membuat saya benci pada diri sendiri. Merasa begitu bodoh karena sudah menyayangi seseorang dengan tulus. Tapi tidak berhasil disayangi kembali dengan baik. Saya menghabiskan banyak waktu untuk mencari cela di dalam diri, karena nyatanya–mencintai dia dengan jujur saja tidak cukup untuk membuatnya bahagia.

Just like what Murakami said. It’s easy to forget things you don’t need anymore. 

And he don’t need me anymore. 

I am ‘that’ one of the things who easily to forget. 

SAD. 

Tapi itu adalah hari, jauh sebelum hari ini.

Sekarang saya bisa bilang bahwa ‘Kehilanganmu adalah berkah yang tiada terkira’.

Karena dari kehilangan itu saya bisa dipertemukan dengan dia yang sekarang ada di sisi saya–yang bahkan tidak bisa dibandingkan dengan kehadiranmu dulu. Dia bukanlah pria yang sempurna, namum dia adalah pria yang bersedia menerima ketidak sempurnaan saya dengan cara yang paling indah; mencintai. Hal yang tidak bersedia kamu lakukan dulu–dan terima kasih karena sudah tidak bersedia melakukannya.

IMG_20160515_211242
thepinkdiary

***

Saya selalu mengatakan pada pasangan saya bahwa ‘Aku mencintaimu yang sekarang’.

Kenapa? Karena saya tahu setiap orang punya masa lalu. Dan saya tidak perlu berurusan dengan masa lalu tersebut–seperti saya pun tidak ingin orang lain harus ikut memikirkan masa lalu saya. Tidak ada yang punya kisah hidup yang sempurna, namun saya percaya setiap cela yang pernah datang selalu berhasil menguatkan–bila dihadapi dengan berani dan bertanggung-jawab. Apalagi untuk setiap hal baik yang sudah tumbuh di dalam dirinya, yang saya perlukan hanyalah merawatnya dengan lebih baik lagi 🙂

Kami melewati segalanya di hari kemarin, hanya untuk kemudian saling menemukan di hari ini. Dan untuk setiap wajah yang pernah singgah di dalam hidupnya, saya sungguh berterima kasih pada kalian. Terima kasih karena pernah sempat menyayangi atau pun menyakiti pria yang sedang saya cintai saat ini. Tanpa kalian, tentu saja dia tidak akan mendewasa dan berhasil membuat saya jatuh cinta.

Jadi, siapa pun yang (harus) dilupakan lebih dulu. Jangan pernah takut untuk tetap bertahan dalam kejujuranmu. Jatuh hatilah dengan baik dan sungguh-sungguh. Hingga bila kelak hati harus patah pun–kamu hanya patah untuk tumbuh semakin kuat.

falafu.

Patah hati itu berkah



If you’re afraid to ask, is he or she loves you or not, then you just don’t love him or her enough. Love is capable doing everything. – Fa

 

Saya sering sekali menerima pertanyaan;
Kak Fa, salah enggak sih aku nunggu orang selama 5 tahun? Salah enggak sih kalau aku susah banget move-on? Salah enggak sih kalau aku suka sama temen deketku sendiri? Salah enggak sih kalau aku suka sama seseorang yang beda keyakinan? Salah enggak sih kalau bla bla bla… 
 
Saya kerap tersenyum sendiri. Karena biasanya, pertanyaan soal perasaan yang dimulai dengan kalimat ‘salah nggak sih’ ya sebenarnya diajukan oleh seseorang yang sebenarnya sudah tahu, kalau apa yang sedang dia lakukan adalah hal yang keliru.

Kamu tahu, apabila segala yang kita inginkan bisa seketika terjadi, maka banyak orang yang sudah bunuh diri karena bosan. Segala ketidak pastian lah yang membuat hidup kita terasa lebih menarik. Think about it.

Setiap kali ada yang curhat pada saya soal kedekatannya dengan seseorang, saya selalu bilang; kamu harus punya batas waktu untuk dirimu sendiri menunggu dia mengatakan cintanya. Kalau sampai batas itu habis dia belum juga menyatakan, maka giliranmu menyatakan sudah tiba.

TAPI KAK, NYATAIN CINTA TUH ENGGAK SEGAMPANG ITU. KALO DIA NGGAK SUKA BALIK GIMANA? KAN MALU!

Seriously? Kamu malu karena dia tidak menerima sayangmu yang tulus itu?
Seriously? Kamu malu karena akhirnya kamu berani menyatakan perasaanmu?

Don’t be darling.. 

Tidak ada yang memalukan untuk sebuah sayang tulus yang kamu perjuangkan. Bila dia mengatakan bahwa dia tidak punya niatan untuk menyayangimu kembali, maka itu bukanlah salahmu. Bukan pula salahnya. Kalian hanya tidak diciptakan untuk saling mengisi. Dan Tuhan pasti punya alasan terbaik untuk itu semua.

Kamu seharusnya justru malu, jika hanya berkutat selama bertahun-tahun, memendam perasaan untuk seseorang yang selalu berada di dekatmu. Sedang sebenarnya, kamu bisa menghabiskan waktu bertahun-tahun itu untuk bertemu orang lain (yang mungkin saja lebih kece) yang bersedia menyayangimu kembali–karena ternyata orang yang bertahun-tahun kamu sayangi diam-diam itu sebenarnya tidak punya sedikit pun niat untuk belajar mencintaimu. DANG!

Sayang beneran enggak? Kalau sayang beneran ya katakan. Kalau ternyata sayangmu hanya bertepuk sebelah tangan, siapkanlah waktu untuk patah hati, lalu kembalilah menjalani hidupmu. Buka hati kembali untuk seseorang lain, yang sudah dipersiapkan Tuhan untuk kamu temukan. Bukan berada di dalam labirin harapan yang tak berujung.

Patah hati untuk seseorang yang sudah kamu perjuangkan adalah sebuah berkah. Daripada patah hati untuk orang yang bahkan tidak tahu kalau kamu menyayanginya. Ye nggak? ;p

 

Kehilangan

tumblr

Terkadang kita lupa, bahwa nyatanya usia, mereka tengah menghitung mundur hidupmu. Maka lakukanlah hal yang nyata membahagiakanmu. Lalu bahagiakan mereka yang nyata kamu sayangi. – Fa


Sepertinya saya tidak akan pernah mampu terbiasa atas kehilangan juga rindu. Keduanya, setiap kali datang, selalu terasa seperti baru pertama kali terjadi. Saya akan tetap merasa hampa dan menangis karenanya. Melaluinya tak pernah bisa sederhana. Membicarakan tentang kehilangan pasti tidak akan pernah ada habisnya–karena hidup selalu mengantarmu pada kedatangan dan perpisahaan yang baru. Tapi satu yang saya sadari, mengetahui fakta bahwa tidak hanya diri sendiri yang mengalami kehilangan, tidak lantas mampu membuat segalanya menjadi baik-baik saja. 

Kehilangan tetap menjadi hal yang menyakitkan untuk dilalui. Karena segala yang menyakitkan, haruslah dilalui agar kita bisa sampai pada kebaik-baik saja-an. Kebanyakan mereka yang tetap tenggelam dalam kehilangannya, adalah mereka yang memilih menetap di atas lukanya. Bukan lantas melangkah, mencoba menemukan obat yang mampu menyembuhkan luka itu. 

Kehilangan karena kematian, selalu jadi yang paling menyakitkan. Kenapa? Karena tidak ada satu pun jalan yang bisa ditempuh untuk mendapatkan sebuah pelukan atau tatapan lagi. Tidak akan pernah bisa. Dan menyadari bahwa kita tidak sedang kehilangan seorang diri, tidaklah lantas mampu membuat segalanya menjadi baik-baik saja. Kehilangan bukanlah sesuatu yang bisa dibanding-bandingkan. Karena setiap manusia memiliki caranya tersendiri dalam menghadapi kehilangan yang datang. 
Begitu juga mungkin saat seseorang harus kehilangan keluarganya yang lain, atau bahkan kehilangan kekasih dan sahabatnya. Bahkan untuk kehilangan yang paling sederhana pun, manusia tidaklah mampu terbiasa melaluinya. Siapa yang mampu merasa terbiasa kehilangan uang yang tak sengaja jatuh? Setiap kali terjadi, selalu ada penyangkalan bahwa kita tidaklah pantas menerima kehilangan tersebut. 

Tetapi apakah benar kita tidak pantas menerimanya? Seandainya memang tidak pantas, apakah juga berarti kita tidak mampu menghadapinya? Saya selau percaya bahwa setiap kehilangan yang datang, pastinya datang untuk sebuah alasan baik. 
 
Seseorang yang pernah kehilangan, pasti selangkah lebih memahami, arti dari memiliki. Mampu memahami, bahwa tidak selalu ada kesempatan kedua untuk menyayangi seseorang yang begitu ingin disayangi. Hingga selalu berusaha sekuat tenaga memberi yang terbaik dari yang dimiliki. 
 
Karena esok, tidak ada yang pernah pasti dari esok kecuali bahwa kita hanya punya kesempatan satu kali untuk mati. Tapi janganlah lupa, kalau kita hidup untuk hari ini. Kita hidup untuk setiap saat yang tengah kita lalui. 

So, do your best to your beloved one. Love them enough. So you still can live forever ini his/her heart. Even when you already dead. 

***
 
PS:
Sudah lama tidak menulis. Lebaran bahkan sudah lewat. Sebelumnya, saya ingin meminta maaf apabila ada di antara kamu yang pernah merasa tersakiti atas deretan kata yang pernah saya tulis. Bahkan apabila bisa, saya ingin meminta maaf untuk setiap sakit yang saya ciptakan dari deretan kata yang belum saya tulis. 

It’s Not That Bad

When I lost my mom, I thougt I would lose my life. But, well, I don’tI am still here, willing to live my life and thank you, me. – Fa


Kamu tahu, ada begitu banyak hal buruk yang kamu bayangkan, padahal saat dijalani, ternyata tidaklah seburuk itu. Dan ada juga begitu banyak hal indah yang kamu bayangkan, padahal saat dijalani, ternyata tidaklah seindah itu.

Manusia kebayakan hidup dalam angan-angannya—tidak terkecuali saya. Banyak hal yang membuat saya khawatir dan takut, banyak juga hal yang membuat saya iri juga pesimis pada diri saya sendiri. Dan itu semua bermula dari angan-angan saya tentang hari esok. 

Bagaimana nanti kalau.. bagaimana nanti jika.. bagaimana nanti bila.. dan yang lain sebagainya.

Sebutlah saja, mungkin titik terendah dalam hidup saya datang saat ibu saya meninggal. Saat itu saya tahu beliau sakit parah, saya tahu waktunya tidak akan lama lagi, saya bahkan sempat mengatakan padanya sambil berbisik; Tak apa Ma, Farah akan baik-baik saja. Tidak perlu khawatir. Suatu hari nanti, aku akan bertemu pria yang menyayangiku dengan baik—walau pasti tidak sebaik sayangmu selama ini.’

Karena apalagi yang mampu seorang ibu khawatirkan dari anak perempuan satu-satunya ini, kalau bukan soal pasangan hidup? Saya tahu, dia pasti begitu sedih, karena bahkan dia tidak berkesempatan untuk melihat seperti apa rupa pasangan saya nanti. Karena saya adalah anak terakhirnya yang belum berkeluarga. 


Namun tetap saja, saat hari itu benar-benar datang. Saat saya akhirnya menyadari bahwa tidak akan ada lagi beliau selama-lamanya, saya hancur berkeping-keping. Satu tahun saya bahkan tidak ingin melakukan apa-apa. Saya kehilangan rasa ingin tahu akan hari esok. What about tomorrow? Saya tidak peduli. Walau pun setengah mati saya berusaha terlihat baik-baik saja, saya tetap tidak tertolong. Setiap malam, saya begitu takut memejamkan mata, karena saya begitu takut akan kematian. Karena akhirnya saya tahu, bahwa kematian adalah tempat yang begitu sepi dan sendirian, Dan Ibu saya berada di sana. 

Tapi hari-hari itu sudah berada di belakang saya. Saya yang sekarang, sudah bersahabat dengan ‘kebaik-baik sajaan’. Bahkan sudah lebih dari 2 tahun saya bekerja lagi dan mencoba menikmati rejeki yang menjadi bagian saya. 

Siapa pun, pasti punya waktunya untuk meninggalkanmu. Hal apa pun, pasti punya waktunya untuk berlalu. Tapi yakinlah, setiap kehilangan yang terjadi, akan membuatmu lebih menghargai mereka yang masih setia bertahan di sisimu sampai saat ini.
Kesedihan dan kekecewaan seperti apa pun pasti akan punya waktunya untuk selesai, asal kamu tetap bertahan menjalani hidupmu dan mensyukuri apa yang masih tertinggal di dalamnya.

Begitu pun penantian akan hal-hal yang belum bisa kamu miliki sampai saat ini. Mimpi-mimpi yang kerap membuat hatimu sesak, karena belum juga berhasil kamu wujudkan. Well, I have been there so many times.

Membayangkan hal-hal indah—yang mungkin bila saja bisa benar terjadi, hidup saya akan jauh lebih baik. Padahal ya belum tentu. Siapa yang bisa menjamin memang?

Tuhan Maha Bijaksana. Memberi segala yang kamu butuhkan, bukan yang kamu inginkan. Mengantar dan mengambil segala, tepat pada waktunya. – Fa


Saat itulah, saya mencoba memahami makan ‘ikhlas’, menerima bahwa segala yang pernah terjadi dan belum sempat terjadi dalam hidup saya adalah bagian terbaik  yang bisa saya miliki saat ini. Selama saya menjalani hidup dengan memilih jadi manusia terbaik yang bisa saya upayakan. Selama saya terus berusaha, berdoa, dan berharap dengan bijaksana—Tuhan tidak akan pernah menutup matanya. Dia selalu mendengar harapan saya, bahkan mungkin yang tidak mampu terucap sekali pun–karena terlalu besarnya harapan itu. 

Karena akhirnya saya menyadari, bahwa ada begitu banyak doa dan harapan yang bahkan saya lupa pernah menginginkannya, ternyata mampu benar terjadi. Mungkin memang bukan terjadi di waktu yang saya inginkan, tapi jelas terjadi di waktu yang paling tepat. Karena mungkin saja, bila saya memiliki atau menjalani harapan itu di waktu yang lalu, hidup saya tidaklah sebaik ini.

Percayalah, bahwa Dia adalah Dzat Yang Maha Bijaksana. Dia mengetahui hal-hal yang masih jadi rahasia. Dia menjagamu, sebaik kamu menjaga dirimu dalam doa-doa dan perbuatan baik yang kamu lakukan selama ini. Percayalah.

Listening to OneRepublic – I Lived

https://www.youtube.com/embed/z0rxydSolwU?feature=player_embedded