Patah hati itu berkah



If you’re afraid to ask, is he or she loves you or not, then you just don’t love him or her enough. Love is capable doing everything. – Fa

 

Saya sering sekali menerima pertanyaan;
Kak Fa, salah enggak sih aku nunggu orang selama 5 tahun? Salah enggak sih kalau aku susah banget move-on? Salah enggak sih kalau aku suka sama temen deketku sendiri? Salah enggak sih kalau aku suka sama seseorang yang beda keyakinan? Salah enggak sih kalau bla bla bla… 
 
Saya kerap tersenyum sendiri. Karena biasanya, pertanyaan soal perasaan yang dimulai dengan kalimat ‘salah nggak sih’ ya sebenarnya diajukan oleh seseorang yang sebenarnya sudah tahu, kalau apa yang sedang dia lakukan adalah hal yang keliru.

Kamu tahu, apabila segala yang kita inginkan bisa seketika terjadi, maka banyak orang yang sudah bunuh diri karena bosan. Segala ketidak pastian lah yang membuat hidup kita terasa lebih menarik. Think about it.

Setiap kali ada yang curhat pada saya soal kedekatannya dengan seseorang, saya selalu bilang; kamu harus punya batas waktu untuk dirimu sendiri menunggu dia mengatakan cintanya. Kalau sampai batas itu habis dia belum juga menyatakan, maka giliranmu menyatakan sudah tiba.

TAPI KAK, NYATAIN CINTA TUH ENGGAK SEGAMPANG ITU. KALO DIA NGGAK SUKA BALIK GIMANA? KAN MALU!

Seriously? Kamu malu karena dia tidak menerima sayangmu yang tulus itu?
Seriously? Kamu malu karena akhirnya kamu berani menyatakan perasaanmu?

Don’t be darling.. 

Tidak ada yang memalukan untuk sebuah sayang tulus yang kamu perjuangkan. Bila dia mengatakan bahwa dia tidak punya niatan untuk menyayangimu kembali, maka itu bukanlah salahmu. Bukan pula salahnya. Kalian hanya tidak diciptakan untuk saling mengisi. Dan Tuhan pasti punya alasan terbaik untuk itu semua.

Kamu seharusnya justru malu, jika hanya berkutat selama bertahun-tahun, memendam perasaan untuk seseorang yang selalu berada di dekatmu. Sedang sebenarnya, kamu bisa menghabiskan waktu bertahun-tahun itu untuk bertemu orang lain (yang mungkin saja lebih kece) yang bersedia menyayangimu kembali–karena ternyata orang yang bertahun-tahun kamu sayangi diam-diam itu sebenarnya tidak punya sedikit pun niat untuk belajar mencintaimu. DANG!

Sayang beneran enggak? Kalau sayang beneran ya katakan. Kalau ternyata sayangmu hanya bertepuk sebelah tangan, siapkanlah waktu untuk patah hati, lalu kembalilah menjalani hidupmu. Buka hati kembali untuk seseorang lain, yang sudah dipersiapkan Tuhan untuk kamu temukan. Bukan berada di dalam labirin harapan yang tak berujung.

Patah hati untuk seseorang yang sudah kamu perjuangkan adalah sebuah berkah. Daripada patah hati untuk orang yang bahkan tidak tahu kalau kamu menyayanginya. Ye nggak? ;p

 

Kehilangan

tumblr

Terkadang kita lupa, bahwa nyatanya usia, mereka tengah menghitung mundur hidupmu. Maka lakukanlah hal yang nyata membahagiakanmu. Lalu bahagiakan mereka yang nyata kamu sayangi. – Fa


Sepertinya saya tidak akan pernah mampu terbiasa atas kehilangan juga rindu. Keduanya, setiap kali datang, selalu terasa seperti baru pertama kali terjadi. Saya akan tetap merasa hampa dan menangis karenanya. Melaluinya tak pernah bisa sederhana. Membicarakan tentang kehilangan pasti tidak akan pernah ada habisnya–karena hidup selalu mengantarmu pada kedatangan dan perpisahaan yang baru. Tapi satu yang saya sadari, mengetahui fakta bahwa tidak hanya diri sendiri yang mengalami kehilangan, tidak lantas mampu membuat segalanya menjadi baik-baik saja. 

Kehilangan tetap menjadi hal yang menyakitkan untuk dilalui. Karena segala yang menyakitkan, haruslah dilalui agar kita bisa sampai pada kebaik-baik saja-an. Kebanyakan mereka yang tetap tenggelam dalam kehilangannya, adalah mereka yang memilih menetap di atas lukanya. Bukan lantas melangkah, mencoba menemukan obat yang mampu menyembuhkan luka itu. 

Kehilangan karena kematian, selalu jadi yang paling menyakitkan. Kenapa? Karena tidak ada satu pun jalan yang bisa ditempuh untuk mendapatkan sebuah pelukan atau tatapan lagi. Tidak akan pernah bisa. Dan menyadari bahwa kita tidak sedang kehilangan seorang diri, tidaklah lantas mampu membuat segalanya menjadi baik-baik saja. Kehilangan bukanlah sesuatu yang bisa dibanding-bandingkan. Karena setiap manusia memiliki caranya tersendiri dalam menghadapi kehilangan yang datang. 
Begitu juga mungkin saat seseorang harus kehilangan keluarganya yang lain, atau bahkan kehilangan kekasih dan sahabatnya. Bahkan untuk kehilangan yang paling sederhana pun, manusia tidaklah mampu terbiasa melaluinya. Siapa yang mampu merasa terbiasa kehilangan uang yang tak sengaja jatuh? Setiap kali terjadi, selalu ada penyangkalan bahwa kita tidaklah pantas menerima kehilangan tersebut. 

Tetapi apakah benar kita tidak pantas menerimanya? Seandainya memang tidak pantas, apakah juga berarti kita tidak mampu menghadapinya? Saya selau percaya bahwa setiap kehilangan yang datang, pastinya datang untuk sebuah alasan baik. 
 
Seseorang yang pernah kehilangan, pasti selangkah lebih memahami, arti dari memiliki. Mampu memahami, bahwa tidak selalu ada kesempatan kedua untuk menyayangi seseorang yang begitu ingin disayangi. Hingga selalu berusaha sekuat tenaga memberi yang terbaik dari yang dimiliki. 
 
Karena esok, tidak ada yang pernah pasti dari esok kecuali bahwa kita hanya punya kesempatan satu kali untuk mati. Tapi janganlah lupa, kalau kita hidup untuk hari ini. Kita hidup untuk setiap saat yang tengah kita lalui. 

So, do your best to your beloved one. Love them enough. So you still can live forever ini his/her heart. Even when you already dead. 

***
 
PS:
Sudah lama tidak menulis. Lebaran bahkan sudah lewat. Sebelumnya, saya ingin meminta maaf apabila ada di antara kamu yang pernah merasa tersakiti atas deretan kata yang pernah saya tulis. Bahkan apabila bisa, saya ingin meminta maaf untuk setiap sakit yang saya ciptakan dari deretan kata yang belum saya tulis. 

It’s Not That Bad

When I lost my mom, I thougt I would lose my life. But, well, I don’tI am still here, willing to live my life and thank you, me. – Fa


Kamu tahu, ada begitu banyak hal buruk yang kamu bayangkan, padahal saat dijalani, ternyata tidaklah seburuk itu. Dan ada juga begitu banyak hal indah yang kamu bayangkan, padahal saat dijalani, ternyata tidaklah seindah itu.

Manusia kebayakan hidup dalam angan-angannya—tidak terkecuali saya. Banyak hal yang membuat saya khawatir dan takut, banyak juga hal yang membuat saya iri juga pesimis pada diri saya sendiri. Dan itu semua bermula dari angan-angan saya tentang hari esok. 

Bagaimana nanti kalau.. bagaimana nanti jika.. bagaimana nanti bila.. dan yang lain sebagainya.

Sebutlah saja, mungkin titik terendah dalam hidup saya datang saat ibu saya meninggal. Saat itu saya tahu beliau sakit parah, saya tahu waktunya tidak akan lama lagi, saya bahkan sempat mengatakan padanya sambil berbisik; Tak apa Ma, Farah akan baik-baik saja. Tidak perlu khawatir. Suatu hari nanti, aku akan bertemu pria yang menyayangiku dengan baik—walau pasti tidak sebaik sayangmu selama ini.’

Karena apalagi yang mampu seorang ibu khawatirkan dari anak perempuan satu-satunya ini, kalau bukan soal pasangan hidup? Saya tahu, dia pasti begitu sedih, karena bahkan dia tidak berkesempatan untuk melihat seperti apa rupa pasangan saya nanti. Karena saya adalah anak terakhirnya yang belum berkeluarga. 


Namun tetap saja, saat hari itu benar-benar datang. Saat saya akhirnya menyadari bahwa tidak akan ada lagi beliau selama-lamanya, saya hancur berkeping-keping. Satu tahun saya bahkan tidak ingin melakukan apa-apa. Saya kehilangan rasa ingin tahu akan hari esok. What about tomorrow? Saya tidak peduli. Walau pun setengah mati saya berusaha terlihat baik-baik saja, saya tetap tidak tertolong. Setiap malam, saya begitu takut memejamkan mata, karena saya begitu takut akan kematian. Karena akhirnya saya tahu, bahwa kematian adalah tempat yang begitu sepi dan sendirian, Dan Ibu saya berada di sana. 

Tapi hari-hari itu sudah berada di belakang saya. Saya yang sekarang, sudah bersahabat dengan ‘kebaik-baik sajaan’. Bahkan sudah lebih dari 2 tahun saya bekerja lagi dan mencoba menikmati rejeki yang menjadi bagian saya. 

Siapa pun, pasti punya waktunya untuk meninggalkanmu. Hal apa pun, pasti punya waktunya untuk berlalu. Tapi yakinlah, setiap kehilangan yang terjadi, akan membuatmu lebih menghargai mereka yang masih setia bertahan di sisimu sampai saat ini.
Kesedihan dan kekecewaan seperti apa pun pasti akan punya waktunya untuk selesai, asal kamu tetap bertahan menjalani hidupmu dan mensyukuri apa yang masih tertinggal di dalamnya.

Begitu pun penantian akan hal-hal yang belum bisa kamu miliki sampai saat ini. Mimpi-mimpi yang kerap membuat hatimu sesak, karena belum juga berhasil kamu wujudkan. Well, I have been there so many times.

Membayangkan hal-hal indah—yang mungkin bila saja bisa benar terjadi, hidup saya akan jauh lebih baik. Padahal ya belum tentu. Siapa yang bisa menjamin memang?

Tuhan Maha Bijaksana. Memberi segala yang kamu butuhkan, bukan yang kamu inginkan. Mengantar dan mengambil segala, tepat pada waktunya. – Fa


Saat itulah, saya mencoba memahami makan ‘ikhlas’, menerima bahwa segala yang pernah terjadi dan belum sempat terjadi dalam hidup saya adalah bagian terbaik  yang bisa saya miliki saat ini. Selama saya menjalani hidup dengan memilih jadi manusia terbaik yang bisa saya upayakan. Selama saya terus berusaha, berdoa, dan berharap dengan bijaksana—Tuhan tidak akan pernah menutup matanya. Dia selalu mendengar harapan saya, bahkan mungkin yang tidak mampu terucap sekali pun–karena terlalu besarnya harapan itu. 

Karena akhirnya saya menyadari, bahwa ada begitu banyak doa dan harapan yang bahkan saya lupa pernah menginginkannya, ternyata mampu benar terjadi. Mungkin memang bukan terjadi di waktu yang saya inginkan, tapi jelas terjadi di waktu yang paling tepat. Karena mungkin saja, bila saya memiliki atau menjalani harapan itu di waktu yang lalu, hidup saya tidaklah sebaik ini.

Percayalah, bahwa Dia adalah Dzat Yang Maha Bijaksana. Dia mengetahui hal-hal yang masih jadi rahasia. Dia menjagamu, sebaik kamu menjaga dirimu dalam doa-doa dan perbuatan baik yang kamu lakukan selama ini. Percayalah.

Listening to OneRepublic – I Lived

https://www.youtube.com/embed/z0rxydSolwU?feature=player_embedded



Ketika Berbicara Soal Pasangan

Banyak orang yang kalau ditanya ingin pasangan seperti apa, maka jawabannya bisa tidak cukup di lembar pertama yang diberikan. Kalau saya ditanya pertanyaan yang sama, jawaban saya cukup 2 kata; setia dan taqwa.

Nggak pengen punya cowok kaya Fa? 


Ya mau, tapi saya udah pernah ngerasain hidup banyak uang tapi nggak bahagia. Rejeki yang cukup saja, cukup buat liburan dan buat sekolahin anak, tapi kalau dikasih yang lebih ya Alhamdulillah.

Ngga pengen punya cowok ganteng Fa? 

Ya mau, tapi nggak perlu seganteng Arifin Putra juga. Yang cukup buat saya tatap setiap saya bangun tidur aja. Lagi juga jaman sekarang, kebanyakan yang ganteng sukanya juga sama yang ganteng 😐
Ngga pengen punya cowok pinter Fa? 



Kalau dia taqwa, dia pasti pandai. Karena dia tahu, salah satu amalan yang tidak akan terputus walau seseorang sudah meninggal adalah ‘ilmu yang bermanfaat’.

Tapi kebanyakan cowok taqwa kan nggak cool Fa! 

Pikiran macem begini yang bikin banyak orang nggak mau lagi jadi taqwa. Karena bahkan sesama muslim di sekitarnya, menganggap yang taqwa itu ya ‘kolot dan aneh’.
Saya ingat salah satu alasan Sacha Stevenson (youtub-er bule yang sekarang jadi entertain di Indonesia) buka jilbabnya. Dulu waktu dia masih di Canada, orang di sekitarnya selalu mandang dia teroris dan aneh karena dia memakai jilbab. Sampai akhirnya dia pindah ke Indonesia, ke negara yang mayoritas muslim, tapi ternyata dia masih selalu mendapat perlakuan diskriminasi. Sacha susah dapet pekerjaan di Indonesia, susah diterima di lingkungan barunya, dan banyak mendapatkan kesulitan lain. Padahal, dia sedang tinggal di negara yang mayoritas muslim. Sedih nggak sih?

Mungkin itu kenapa di kepala anak jaman sekarang; anak muda yang taqwa itu kampungan dan nggak cool. Taqwa itu seharusnya ya pandai mengikuti perkembangan jaman. Karena pengetahuannya luas, karena hatinya luas, karena pikirannya nggak sempit. Gitu kak.

Ya kalau yang memandang begitu anak SMP / SMA / Awal kuliah saya masih bisa paham sih. Soalnya ya masih ‘cetek’ hidupnya. Masih berperinsip, muda itu waktunya jadi bandel dan nakal. Muda itu waktunya bikin salah sebanyak-banyaknya. Sampai lupa, kalau nggak ada yang pernah ngasih jaminan, kalau semua orang bisa selamat melewati masa nakalnya.

Let me tell you, saya punya kakak yang dulu pernah nyobain segala mancam salah, pernah nyobain segala macam bentuk kenakalan, sampai dia nyaris kehilangan nyawanya sendiri. Dan apa yang dia dapet? Nggak ada. Dan apa yang hilang dari hidupnya? BANYAK. Dan waktu, nggak akan pernah bisa kembali. Mau beli di mana pun, juga nggak ada yang jual.

REALLY?
Muda, adalah waktunya manusia tumbuh. Melihat banyak kesalahan di sekitarnya, dan tidak membuat kesalahan yang sama. Muda, adalah waktunya manusia berpikir. Melihat banyak kenakalan di sekitarnya, dan berupaya agar tidak perlu mengalaminya untuk bisa menjadi ‘berpengalaman’. Belajarlah dari pengalaman, nggak selalu harus diri sendiri yang mengalami kebodohan yang sama kan?

Dear,untuk bisa mendapatkan banyak pengalaman, kamu ngga perlu kehilangan banyak hal baik yang ada di dalam dirimu. Siapa yang mengharuskan hal seperti itu? Siapa yang bikin hukumnya? Nggak ada.

Anggap lah saya cupu atau cemen. Di usia segini saya cuma pernah sekali mencoba merokok, ngga pernah sama sekali minum minuman beralkohol, nggak pernah pacaran yang aneh-aneh. Dan memang nggak pernah sama sekali merasa hal-hal macam itu keren di mata saya. Tapi bukan berarti saya nggak berpengalaman.

Sejak saya umur 6 tahun, saya sudah melihat putau dan shabu-shabu. Saat SD saya sering melihat keluarga saya minum minuman berakohol. Saya bahkan pernah melihat kakak saya saling tonjok cuma karena mereka lagi mabok. Melihat orang yang gila karena kecanduan narkoba, yang tanpa sadar menyayat-nyayat tubuhnya sendiri, lalu diisap darahnya karena memang darahnya sudah mengandung narkoba. Saya bahkan pernah melihat kakak saya sendiri mencobab bunuh diri. Berapa banyak orang yang pernah menangis pada saya karena hamil di luar nikah? Berapa banyak perempuan yang akhirnya jadi ‘murah’ karena sudah pernah having sex dengan pasangannya—yang ternyata berengsek? Tidak terhitung. Saya pernah dihadapkan pada kehidupan buruk—yang tidak ingin pernah saya ulangi kembali. Saya tidak memiliki orangtua yang sempurna, and I’m deal with it. Because nobody’s perfect. Siapa pun bisa mengecewakanmu. Tidak terkecuali orang yang melahirkanmu ke dunia. Dan itu bukan salahmu. Tidak perlu lantas merasa tidak berharga, karena seseorang menganggapmu tidak seberapa berharga. Kalau masih takut mati, maka hiduplah baik-baik.  

Banyak sekali hal buruk yang memberi keburukan dalam hidup saya. Padahal saya, tidak melakukan apa pun yang buruk pada hidup saya sendiri. Kamu tahu, itulah jahatnya hal-hal buruk. Tanpa kamu sadari, hal-hal buruk tersebut ikut melukai banyak orang tidak bersalah yang ada di sekitarmu. Tidak lagi hanya berhubungan dengan hidupmu sendiri. Banyak keputusanmu yang salah, pada akhirnya menghancurkan banyak hati—selain hatimu sendiri.

Dan kenapa saya ingin memiliki pasangan yang setia?
I HOPE SO..

Karena pada akhirnya, kamu perlu hidup bersama dia yang akan rela mencebokimu saat kamu sakit. Menuntunmu saat kamu tidak bisa berjalan. Mendoakanmu saat hidupmu tengah sempit. Dan tetap mencintaimu setelah banyak kekecewaan yang terjadi dalam kehidupan kalian.

Ibu saya sakit 8 tahun lamanya. Saya beri tahu, bertahun-tahun menjaga dan merawat orang yang sakit bahkan walau itu ibumu sendiri, bukanlah perkara yang sederhana. Saya, bahkan tidak bisa sempurna menjaganya, saya pernah marah dan kesal saat menyuapinya, atau saat harus membuang kotorannya. (well,ini adalah salah satu pengalaman hidup yang kalau kamu nggak rasain sendiri, kamu nggak akan tahu gimana beratnya. Lucky me pernah dikasih kesempatan sama Tuhan buat merasakannya. Semoga kamu nggak perlu melewatinya  ya. Saya pernah merasa sedih, marah, dan benci saat mengalaminya. Tapi waktu akhirnya membuat saya menyadari bahwa pernah melewatinya adalah waktu yang sangat berharga. Dan berhasil melewatinya adalah sebuah hadiah yang luar biasa.)

Pengalaman itu yang membuat saya tidak lagi menjadi manusia yang sama seperti saya yang sebelumnya. Pengalaman yang akhirnya membuat saya tersadar, bahwa cinta, tidaklah cukup menjadikan seseorang mampu setia. Tapi taqwa mampu melakukannya.

Menikah, bukanlah hanya perkara kamu dan dia. Tapi juga perkara hidup anak-anakmu. Menikahlah dengan dia yang mau sama-sama tumbuh menjadi orangtua yang semestinya. Dan menjadi pasangan yang setia menggenggammu apa pun yang terjadi.

Siapa pun bisa menjadi pembohong dalam kehidupanmu. Bahkan orang yang paling kamu cintai sekali pun. Saya pernah dibohongi yang begitu besar, kebohongan yang bisa jadi alasan saya untuk merusak diri saya sendiri. Tapi saya tidak perlu melakukan kebohongan yang sama untuk menunjukkan bahwa saya tengah terluka. Saya tidak perlu terjun ke jurang yang sama, hanya untuk menunjukkan bahwa saya juga mampu bertahan dalam kehancuran.

Dewasa adalah saat kamu mampu tetap hidup dengan baik, seperapa pun banyak kotoran yang dilemparkan manusia lain ke wajahmu.

Kedewasaan, bukanlah soal seberapa lama sudah kamu hidup di dunia ini. Kedewasaan terjadi saat kamu tidak merasa lebih dewasa dari orang di sekitarmu. Sehingga kamu mampu melihat lebih banyak, mempelajari lebih banyak, dan menjadi lebih besar tanpa mengecilkan orang lain.

Well,kalau balik lagi ke pasangan. Seberapa pun ganteng, kaya, pinter, tajir pasanganmu. Kalau dia ngga ‘taqwa’—segalanya bisa hilang. SEGALANYA. Bahkan, dia bisa membuatmu kehilangan dirimu sendiri.

Kalau saya sih selalu ingin punya anak yang bisa belajar sholat dan mengaji dari orangtuanya sendiri. Bisa belajar kebijaksanaan dari ayahnya, bisa belajar kasih dan sayang dari ibunya. Dan bisa belajar kejujuran dari kedua orangtuanya. One of my coolest dreams I guess.

Berlaku di agama apa pun sih sepertinya, teman saya yang beragama lain tapi patuh sama Tuhan-Nya juga kece-kece semua kok 🙂

Allah-nya saya, paling benci sama manusia yang merasa lebih beriman dari manusia lain. Rosul saya Muhammad selalu berpesan, kalau mau hidup tenang, maka urusan dunia lihatnya ke bawah, sedang urusan ibadah lihatnya ke atas.

Kita bisa pergi kemana-mana naik motor bersyukur, oranglain masih banyak yang harus jalan kaki karena ngga punya kendaran. Kita bisa pergi kemana-mana jalan kaki bersyukur, oranglain ada yang lagi sakit dan ngga bisa jalan.

Teman bisa sholat 5 waktu padahal sibuk minta ampun, kita juga harusnya bisa sholat 5 waktu tepat waktu karena punya waktu lebih untuk melakukannya. Teman bisa puasa senin kamis padahal pekerjaannya melelahkan, berarti kita juga pasti bisa melakukannya, karena kita kerja di ruangan ber-AC.

Yuk, sama-sama belajar hidup yang tenang Kak. Semoga one day, kita pun dipertemukan dengan pasangan yang selalu mampu ‘menenangkan’ kita 🙂

Kamu boleh sependapat atau tidak sependapat dengan saya. Karena kita punya hidup kita masing-masing.

Peace out!

Fa.


Waktu

Waktu adalah hal yang tidak akan pernah kembali. Tidak, walau pun kita berteriak sampai suara kita ikut menghilang, walau kita menangis hingga mata kita enggan untuk terbuka.

Waktu adalah hal yang akan senantiasa berjalan ke depan tanpa ragu. Seberapa pun hati kita penuh dengan kebimbangan untuk melangkah, waktu akan dengan senang hati melindas kita bila kita memutuskan untuk berhenti.  
Saya termasuk manusia yang tidak suka ditunggu. Bagi saya, membuat seseorang menunggu adalah hal yang memalukan. Memalukan bagi diri saya sendiri. Itu kenapa, saya selalu berusaha sekuat tenaga untuk datang tepat waktu, atau justru lebih dulu sampai dari waktu yang sudah dijanjikan. Karena waktu sangat erat kaitannya dengan menepati sebuah janji. Kita, bahkan bisa menilai kepribadian seseorang dari seberapa baik dia memperlakukan waktu yang berjalan di dalam harinya. 
Saya juga paling tidak suka ditunggu karena saya begitu paham, bahwa menunggu adalah hal yang menyebalkan. Tidak ada seorang pun yang dengan senang hati mau menerima keterlambatan, atau sebuah janji yang diingkari dengan kesengajaan. 
Hidup saya, saya lewati dengan begitu banyak penantian yang menyebalkan. Karena bagaimana pun, sebagian besar manusia memang biasa hidup dengan kemudahan melepas janjinya sendiri. Tapi karena saya cenderung bodoh, saya bisa terus menunggu sampai berjam-jam terlewati. Saya akan terus duduk di tempat yang sama dan mencoba membunuh waktu dengan melakukan hal apa pun yang bisa saya lakukan. Memandangi langit, mengomentari seseorang yang berjalan melewati saya, menatap layar ponsel, membuka kembali notifikasi yang sebelumnya sudah terbuka, atau bahkan mencoba membunuh waktu dengan terus memandangi jam yang terikat di pergelangan tangan saya. Memastikan bahwa bukanlah saya yang sedang berdiri sebagai seseorang yang tidak menepati janjinya sendiri.

Hingga Akhir

@yaysuh

Saya tidak memikirkanmu di setiap waktu. Saya memikirkanmu di setiap doa. – falafu

Aku ingin bisa menyayangimu dengan baik.
Memberimu cinta yang tidak membuatmu kehilangan dirimu sendiri. Aku tidak ingin menjadi istri yang mempermasalahkan warna kemeja yang kamu pilih. Aku tidak ingin menjadi istri yang mempermasalahkan siapa yang lebih banyak mengalah pada siapa. Aku juga tidak ingin menjadi ibu yang harus bicara lantang, hanya agar didengarkan oleh anak-anak kita. Kita akan membesarkan mereka tanpa memberi mereka ketakutan pada hidup ini. Berjanjilah padaku.

Aku ingin bisa menyayangimu dengan baik.
Memberimu cinta yang tidak membuatmu lupa bahwa kamu sedang dicintai. Bahwa kamu punya rumah yang selalu menunggumu pulang. Bahwa kita selalu memiliki jeda yang bisa kita bagi saat bersama di dalamnya. Becerita tentang seberapa banyak manusia menyebalkan yang kamu temui hari ini, dan berapa jumlah lampu merah yang membuatmu lututmu lelah. Lalu aku akan bercerita tentang kesempatanku cemberut saat harus mencuci ulang jemuran, karena hujan yang turun saat aku sedang terlelap tidur siang bersama anak kita. Aku ingin kamu tahu, bahwa aku adalah ibu rumah tangga yang berbahagia dengan pilihan hidupnya.

Aku ingin bisa menyayangimu dengan baik.
Memberimu cinta yang tidak membuatmu lupa bahwa terkadang mengecewakan adalah bagian dari upaya kita bertahan hidup. Bahwa kamu punya aku yang akan tetap mencintaimu walau dalam kemarahanku yang paling pekat. Bahwa kita akan punya waktu untuk saling mengatakan hal buruk yang semestinya diungkapkan. Bahwa kita akan saling belajar memahami, bahwa ada kejujuran yang pahit saat ditelan—namun kita akan menelannya selayaknya obat. Saat kamu pulang kerja terlalu larut dan aku terlalu lelah untuk memakluminya. Dan saat kita berbohong untuk sesuatu yang tidak semestinya dilakukan. Hari di mana kita mengingat bahwa manusia, pada akhirnya hanyalah manusia.

Aku ingin bisa menyayangimu dengan baik. Memberimu cinta yang tidak membuatmu lupa bahwa memaafkan adalah sebenarnya cinta yang bisa kita bagi. Hinga akhir.

fa.

things will get better


Hidupmu terlalu baik. Jika denganku banyak luka yang harus kamu tutupi. Dan aku tidak mau memberimu cinta yang merepotkan. – falafu
Saya tidak pernah membayangkan akan bertemu dengan seseorang yang padanya bisa saya ceritakan segala hal yang paling buruk yang ada di dalam hidup saya ini. Saya selalu berpikir, dia bisa mencintai saya—tapi mungkin tidak setelah mengenal saya seutuhnya.
Sampai detik ini, belum ada pria yang bisa membuat saya tidak takut terlihat sebagai saya yang sedang menulis tulisan ini. Bukan berarti selama ini saya jadi seseorang yang Palsu. Tidak demikian. Saya hanya tidak menceritakan padanya tentang diri saya yang seutuhnya. Dia hanya saya biarkan mengenal saya sebatas kulitnya saja, tidak pernah saya biarkan masuk terlalu jauh. Ke bagian yang paling pekat.
Itu kenapa, saya masih selalu merasa, saya belum bertemu dengan cinta itu. Ketika saya menemukan yang baik yang ingin melengkapi saya, tidak jarang saya mendorongnya menjauh. Hanya karena saya ingin dia bertemu dengan perempuan yang punya cerita hidup yang lebih baik dari yang saya miliki. 
Stupid me. Yes. 
Karena saya merasa, tidak semua orang pernah punya kisah yang rumit dalam kehidupannya. Tidak semua orang bisa melihat sisi terbaik dari setiap keburukan yang terjadi dalam hidup seseoang. Seandainya pun mereka mampu, belum tentu mereka mau repot-repot melakukannya. Karena itu pasti melelahkan. 

Dan saya tidak ingin membuat pria baik itu lelah menghadapi saya. 

Saya tahu, setiap kali saya memutuskan untuk tidak lagi mencintai seseorang yang sebenarnya saya ingin cintai—saya sedang menusukkan jarum ke dalam hati saya sendiri. Tapi selama ini, luka besar yang sudah saya punya di dalamnya, membuat segala sakit itu tidak lagi cukup menyakiti saya. I’m used to hurt. And I’m okay. And that’s stupid.
I’m sorry Fa, I hurt you a lot.
***
Mungkin ada yang pernah merasakan hal yang sama. Tidak apa. Tidak perlu merasa sendirian. Saya pun pernah mengalaminya, kita selalu bisa menyembuhkan diri kita. Tapi sebelumnya, kita harus menemukan di mana letak luka itu dulu. Ayo temukan luka yang kamu sembunyikan. Lalu terima mereka menjadi bagian dari dirimu, and things will get better.